INDOPOSCO.ID – Konservasi, keterbukaan terhadap kritik, dan manfaat bagi masyarakat menjadi sorotan WALHI Jawa Barat dan WWF-Indonesia dalam menilai pengembangan EIGER Nature menjelang pembukaan untuk publik.
Dalam rangkaian pertemuan Friends of Indonesia, sebanyak 22 perwakilan WWF-Indonesia dan jejaring WWF Global mengikuti guided site tour untuk melihat langsung upaya restorasi lahan kritis, konservasi, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat di kawasan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 hingga Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
CEO WWF-Indonesia Aditya Bayunanda menilai, inisiatif tersebut menunjukkan potensi sektor swasta dalam mendukung pelestarian alam sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Hal menarik dari EIGER Nature adalah bagaimana sektor swasta bisa berusaha sambil ikut mengambil peran dalam menjaga alam, sambil tetap memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Aditya dalam keterangannya, Minggu (18/10/2026).
Menurutnya, kolaborasi sektor swasta, pemerintah, masyarakat lokal, dan organisasi konservasi berpotensi memperkuat keberlanjutan kawasan, termasuk melalui pengembangan sumber pembiayaan konservasi.
Sementara itu, WALHI Jawa Barat kembali mengunjungi EIGER Nature untuk meninjau perkembangan pengelolaan kawasan dan tindak lanjut masukan sebelumnya. Kunjungan turut membahas perizinan serta dokumen lingkungan dengan melibatkan akademisi dan pakar di bidang konservasi tumbuhan, satwa liar, pencemaran, serta pengelolaan sampah dan limbah.
Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jawa Barat, Wahyudin Iwang, mengapresiasi keterbukaan pengelola terhadap evaluasi.
“Selama ini kami melihat EIGER Nature sebagai salah satu perusahaan yang masih memiliki komitmen. Kami juga melihat bahwa EIGER sangat terbuka untuk menerima saran, masukan, termasuk kritik. Jarang sekali perusahaan yang bisa menempatkan dirinya seperti itu,” kata Iwang.
Dalam kunjungan tersebut, WALHI menyampaikan bahwa berbagai perizinan dan dokumen lingkungan yang diperlukan telah dipenuhi. Pengembangan kawasan sejak 2018 itu dilengkapi dokumen utama, antara lain perizinan tata ruang, persetujuan lingkungan, site plan, dan perizinan bangunan.
Meski mengapresiasi perkembangan di lapangan, Iwang menegaskan pentingnya menjaga komitmen lingkungan secara konsisten dalam jangka panjang. Ia berharap EIGER Nature dapat menjadi pembelajaran bagi pelaku usaha lain yang mengembangkan kawasan berbasis alam.
Direktur Utama EIGER Nature Imanuel Wirajaya mengatakan, keterbukaan terhadap evaluasi merupakan bagian dari pendekatan Pentahelix dalam pengelolaan kawasan.
“Kami ingin membuka ruang agar masukan dan kritik tidak hanya disampaikan, tetapi juga dapat dilihat kembali secara langsung di lapangan, apa yang sudah dilakukan, apa yang sudah baik untuk dipertahankan, dan apa yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan,” jelas Imanuel.
Dikembangkan dari kecintaan EIGER terhadap alam dan petualangan selama hampir empat dekade, EIGER Nature berupaya memadukan pengalaman di alam dengan konservasi, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Imanuel berharap keterlibatan organisasi lingkungan, akademisi, pemerintah, dan masyarakat dapat memperkuat pelestarian alam sekaligus menghadirkan pengalaman bermakna bagi pengunjung. (her)

















