INDOPOSCO.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya 4 petugas yang tengah berjuang memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Provinsi Jawa Timur.
“Dalam peristiwa itu 2 petugas lainnya mengalami luka bakar dan masih menjalani penanganan medis secara intensif,” ujar Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan dalam keterangannya, Minggu (18/10/2026).
Ia mengatakan, para petugas yang gugur telah menunjukkan dedikasi, keberanian, dan pengabdian luar biasa dalam menjalankan tugas kemanusiaan. BNPB pun memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para almarhum yang berjuang melindungi kelestarian lingkungan sekaligus mencegah kebakaran meluas dan menimbulkan dampak lebih besar bagi masyarakat.
“Pengabdian para almarhum menjadi pengingat akan besarnya tanggung jawab dan risiko yang dihadapi petugas dalam menjalankan tugas demi kepentingan masyarakat dan kelestarian alam,” ungkap Berton.
Menurutnya, petugas yang berada di garis depan penanganan karhutla harus menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Mulai dari kondisi medan yang sulit, perubahan arah angin, perkembangan titik api, hingga dinamika kebakaran yang dapat berubah sewaktu-waktu.
“Situasi di lapangan menuntut kewaspadaan dan kesiapsiagaan tinggi dari seluruh personel yang terlibat dalam operasi pemadaman,” terangnya.
Di tengah duka tersebut, Berton juga mendoakan dua petugas yang mengalami luka bakar agar segera pulih dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga. Sementara kepada keluarga korban meninggal, BNPB berharap diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi kehilangan.
“Tragedi di kawasan TNBTS ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya menempatkan keselamatan personel sebagai prioritas utama dalam setiap operasi penanggulangan bencana, khususnya penanganan karhutla,” tuturnya.
Berton menekankan, setiap langkah pemadaman harus didukung penilaian risiko yang cermat, pemantauan kondisi lapangan secara berkelanjutan, kesiapan jalur evakuasi, serta komunikasi dan koordinasi yang efektif antarpersonel maupun antarinstansi.
“Pengambilan keputusan di lapangan harus mempertimbangkan perkembangan kondisi api, arah dan kecepatan angin, karakteristik medan, serta potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan petugas,” jelasnya.
Selain itu, lanjut dia, kesiapan sarana dan prasarana pendukung, penerapan prosedur keselamatan, serta kemampuan melakukan evakuasi secara cepat dan tepat menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko selama operasi berlangsung.
Berton menilai penanganan karhutla tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi pemerintah pusat dan daerah, petugas pemadam, pengelola kawasan konservasi, aparat terkait, relawan, hingga masyarakat.
Koordinasi lintas sektor perlu diperkuat agar penanganan kebakaran berjalan efektif dan terukur, tanpa mengabaikan keselamatan seluruh personel yang bertugas.
“Selain penanganan ketika kebakaran terjadi, kami juga mendorong penguatan langkah pencegahan dan kesiapsiagaan di kawasan rawan karhutla,” bebernya.
Upaya tersebut, menurutnya, meliputi peningkatan pengawasan, pemantauan potensi titik api, edukasi kepada masyarakat, serta penguatan sistem peringatan dini dan kesiapan respons darurat.
“Langkah pencegahan yang dilakukan secara terpadu dapat mengurangi risiko kebakaran sekaligus menekan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat,” tutupnya.(nas)

















