INDOPOSCO.ID – Daya tarik investasi hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia tak cukup bertumpu pada besarnya potensi sumber daya. Di tengah persaingan modal global, kepastian regulasi, iklim usaha yang kompetitif, dan kecepatan realisasi proyek menjadi faktor penentu. Sinergi pemerintah, industri, dan investor perlu diperkuat agar potensi tersebut menghasilkan peningkatan produksi dan ketahanan energi nasional.
Pengamat migas Universitas Trisakti sekaligus Founder ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, menilai Indonesia memiliki potensi sumber daya yang kuat. Namun, risiko di atas permukaan (above ground risk), seperti kepastian politik, kebijakan ekonomi, perizinan, pasar, dan infrastruktur, tetap memengaruhi keputusan investasi.
“Dari sisi underground risk, kita termasuk tiga atau empat besar di Asia Pasifik. Sementara dari sisi above ground risk, faktor yang diperhatikan antara lain kepastian politik, visi dan arah ekonomi, regulasi dan kebijakan, birokrasi perizinan, kejelasan market, serta infrastruktur pendukung,” kata Pri Agung, dikutip Minggu (18/10/2026).
Indonesia masih berpeluang menarik perusahaan migas internasional, termasuk Eni, Petronas, dan Mubadala. Namun, peluang tersebut harus didukung ekosistem investasi yang kompetitif dan proses pengembangan lapangan yang lebih cepat.
Salah satu tantangan utama ialah rentang waktu dari penemuan cadangan (discovery) hingga produksi (onstream). Jeda yang panjang dapat menekan keekonomian proyek sekaligus memengaruhi kepercayaan investor.
“Semakin lama discovery ke onstream tentu memberikan sinyal yang tidak positif dan menurunkan nilai keekonomian proyek investor,” jelasnya.
Dari sisi fiskal, Pri Agung menilai sejumlah perbaikan kebijakan pemerintah sebagai langkah positif. Meski demikian, Indonesia harus bersaing dengan negara lain dalam memperebutkan modal global. Keberhasilan kebijakan investasi perlu tercermin pada hasil konkret, terutama penambahan cadangan dan peningkatan produksi.
Kepercayaan investor juga tercermin dari realisasi proyek strategis, seperti Abadi Masela dan North Hub/Geng North-Gehem, aktivitas eksplorasi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), serta peluang pengembangan Wilayah Kerja (WK) migas baru.
Kathy Wu, bp Regional President Asia Pacific, menekankan pentingnya kemitraan strategis dengan pemerintah untuk membangun kepercayaan investor di tengah ketatnya persaingan global.
“Proyek di Indonesia harus benar-benar kompetitif, baik dari sisi tingkat pengembalian investasi, risiko, kepastian pelaksanaan, hingga kepastian bahwa hasil yang dihitung di atas kertas benar-benar dapat terealisasi,” katanya.
Senada, Presiden ExxonMobil Indonesia, Wade Floyd menyoroti pentingnya kolaborasi jangka panjang. ExxonMobil telah beroperasi di Indonesia selama 128 tahun, termasuk melalui Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu yang menjadi salah satu penopang produksi minyak nasional.
“Sejarah panjang kami dibangun atas dasar kemitraan dan kolaborasi. Menurut saya, itulah salah satu alasan keberhasilan Indonesia saat ini,” ucapnya.
Penguatan kolaborasi menjadi salah satu fokus Forum Ekonomi, Keuangan dan Komersial (Forek) Hulu Migas 2026. Forum ini diharapkan mempertemukan pemerintah, industri, investor, dan pemangku kepentingan untuk menyelaraskan perspektif serta merumuskan rekomendasi konkret guna memperkuat daya saing investasi.
Daya saing hulu migas ditentukan oleh ekosistem yang menyeluruh, mulai dari kebijakan fiskal, skema kontrak, teknologi, dan infrastruktur hingga kepastian pasar serta kecepatan pengambilan keputusan. Insentif pun perlu menghasilkan dampak nyata berupa tambahan investasi, peningkatan cadangan dan produksi, kenaikan lifting, penerimaan negara, serta manfaat ekonomi yang lebih luas.
Melalui Forek Hulu Migas 2026, kolaborasi diharapkan berlanjut menjadi langkah nyata untuk mempercepat proyek, mengoptimalkan potensi migas, dan memperkuat ketahanan energi Indonesia.(her)

















