INDOPOSCO.ID – Kebutuhan pembiayaan koperasi diproyeksikan meningkat pada 2027. Mengantisipasi tren tersebut, Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi bersiap memperkuat dukungan pendanaan, terutama bagi koperasi yang terlibat dalam program prioritas pemerintah.
Meski pagu anggaran belum ditetapkan, manajemen LPDB optimistis target pembiayaan tahun depan berpotensi lebih tinggi. Sejumlah sektor yang menjadi perhatian mencakup hilirisasi sawit, perumahan rakyat, ketahanan pakan, beras, tebu, perikanan, hingga pengembangan ekosistem KDKMP (Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih).
Direktur Utama LPDB Koperasi, Krisdianto, mengatakan penguatan pembiayaan harus diimbangi tata kelola yang akuntabel dan berkelanjutan. Karena itu, LPDB konsisten menjalankan prinsip Trisukses Kinerja, meliputi Sukses Penyaluran, Sukses Pemanfaatan, dan Sukses Pengembalian.
Ketiga prinsip tersebut mencakup perluasan jumlah dana dan koperasi penerima, pemanfaatan dana untuk kegiatan produktif yang selaras dengan program strategis pemerintah, serta pengendalian rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) melalui pendampingan dan restrukturisasi.
“Semakin kita bisa tekan NPL (non performing loan) semakin rendah, menandakan bahwa koperasi yang kita bantu itu tepat sasaran, kemudian koperasinya bagus, dan bisa menjaga kepercayaan yang diberikan LPDB,” tegas Krisdianto dalam media gathering LPDB di Yogyakarta, pada Senin (12/10/2026).
Selain memperkuat kinerja pembiayaan, agenda tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan pengenalan LPDB di tengah masyarakat dan pelaku koperasi.
Pasalnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami peran LPDB secara utuh, bahkan kerap keliru membedakannya dengan lembaga lain seperti LPDP. Padahal, Bimbingan Teknis (Bimtek) telah rutin digelar di berbagai daerah untuk mendekatkan layanan kepada pelaku koperasi.
Krisdianto menegaskan, dukungan media massa dibutuhkan agar informasi mengenai layanan pembiayaan bergulir menjangkau lebih banyak koperasi, termasuk di daerah pelosok.
“LPDB sangat membutuhkan kolaborasi dengan teman media, tanpa media LPDB bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Dengan keterlibatan media akan jauh bagi kami untuk memperkenalkan kami lebih baik supaya teman-teman koperasi bisa akses pembiayaan,” tutur Krisdianto.
Sementara itu, Direktur Umum dan Hukum LPDB Koperasi, Deva Rachman, menyoroti potensi koperasi sebagai penggerak usaha sekaligus pencipta lapangan kerja. Menurutnya, keterlibatan generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, menjadi salah satu kunci pengembangan koperasi yang produktif dan berkelanjutan.
“Koperasi jadi solusi bagi Indonesia yang saat ini membutuhkan tenaga kerja. Bagaimana koperasi menjadi solusi lapangan kerja bagi anak muda Gen Z dan milenial. Kami harap koperasi yang melibatkan anak muda bisa terus berkembang,” kata Deva.
Ia menambahkan, koperasi dengan model bisnis yang sehat berpeluang menghasilkan Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dinikmati anggota. Dengan demikian, koperasi dapat menjadi alternatif kegiatan ekonomi yang lebih sehat sekaligus membantu masyarakat menghindari ketergantungan pada pinjaman online (pinjol).
“Kita melihat koperasi bisa menjadi solusi supaya tidak terlibat pinjol. Kami harap dengan berkoperasi bisa tercipta bisnis yang menguntungkan dan makin banyak masyarakat yang terbebaskan dari pinjol,” terangnya.
Sementara itu, Ketua Forum Wartawan Koperasi (Forwakop), Arief Indra, mengapresiasi penyelenggaraan media gathering tersebut. Ia berharap kegiatan ini mempererat sinergi LPDB dengan insan media, khususnya dalam memperkuat pemberitaan positif mengenai perkembangan koperasi di Indonesia.
“Kami berharap interaksi antara LPDB dengan Forwakop dapat semakin erat dengan ketersediaan presroom di LPDB,” kata Arief.
“Kami siap memberikan dukungan dalam hal pemberitaan yang positif terkait koperasi agar koperasi di Indonesia bisa naik kelas,” tambahnya. (her)

















