• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Reformasi Kelistrikan dan PLTS Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:38
in Ekonomi
plts

Direktur Program Transformasi Sistem Energi Institute for Essential Services Reform (IESR) Deon Arinaldo, dalam media briefing bertajuk “Pencapaian Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen melalui Implementasi PLTS 100 Gigawatt-peak (GWp) dan Program Elektrifikasi”, di Jakarta, Selasa (13/10/2026). Foto: Dokumen IESR

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Reformasi kebijakan kelistrikan dan percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dinilai menjadi langkah strategis untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen.

Selain menyediakan listrik dengan harga kompetitif bagi industri, elektrifikasi berbasis energi terbarukan berpotensi menekan biaya listrik, menghemat subsidi energi hingga USD20 miliar, serta menciptakan puluhan ribu lapangan kerja.

BacaJuga:

Trisukses Kinerja Jadi Kunci LPDB Perluas Pembiayaan dan Tekan NPL

Balé by BTN Tembus 5 Juta Pengguna, Nilai Transaksi Capai Rp103,53 Triliun

BCA Perkuat Literasi Finansial, Wealth Summit 2026 Diikuti 4 Juta Pengunjung Online

Temuan tersebut tertuang dalam studi Powering Indonesia’s Growth: A More Electrified, More Renewable Economy with Solar at Its Core yang disusun Institute for Essential Services Reform (IESR), Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Energy Transitions Commission (ETC), dan Systemiq. Studi ini menyoroti pentingnya pengembangan sistem kelistrikan yang lebih bersih dan efisien untuk memperkuat daya saing industri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil.

Studi tersebut memproyeksikan kebutuhan listrik Indonesia meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi. Dalam skenario bisnis seperti biasa (business as usual), permintaan listrik diperkirakan naik dari 440 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi 695 TWh pada 2035. Sementara itu, dalam skenario elektrifikasi tinggi, kebutuhan listrik berpotensi mencapai 855 TWh pada 2035 atau tumbuh sekitar 7 persen per tahun.

Untuk memenuhi lonjakan permintaan tersebut, energi surya dinilai memiliki keunggulan karena pembangunan PLTS relatif lebih cepat dibandingkan sejumlah teknologi pembangkit lainnya. Hasil pemodelan sistem kelistrikan IESR menunjukkan, kapasitas terpasang PLTS dapat mencapai 69 gigawatt (GW) pada 2035 dalam skenario elektrifikasi tinggi berbiaya terendah, dengan porsi energi terbarukan mencapai 44 persen dari total pembangkitan listrik.

Dalam skenario tersebut, biaya rata-rata sistem kelistrikan diperkirakan sebesar 8,5 sen USD per kilowatt-jam (kWh), lebih rendah dibandingkan skenario elektrifikasi tinggi berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang mencapai 8,9 sen USD per kWh. Temuan ini menunjukkan peningkatan pemanfaatan energi terbarukan dapat berjalan seiring dengan efisiensi biaya, sepanjang pengembangannya dilakukan secara tepat.

Direktur Program Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo, mengatakan kecepatan pembangunan menjadi salah satu keunggulan PLTS dalam memenuhi tambahan kebutuhan listrik. Pembangunan PLTS untuk kebutuhan industri dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua hingga enam bulan. Adapun PLTS yang terhubung ke jaringan listrik membutuhkan waktu konstruksi sekitar enam bulan hingga dua tahun.

Sebagai perbandingan, pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara yang terhubung ke jaringan membutuhkan waktu sekitar empat hingga enam tahun. Meski demikian, pengembangan PLTS di Indonesia masih menghadapi tantangan berupa biaya pembangkitan, keterbatasan jaringan, ketersediaan lahan, biaya interkoneksi, serta proses perizinan.

“Biaya pembangkitan listrik PLTS skala besar di Indonesia berkisar antara 5-10 sen USD per kWh, lebih tinggi dibandingkan India yang mencapai sekitar 3,7 sen USD per kWh,” ujar Deon dalam media briefing bertajuk Pencapaian Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen melalui Implementasi PLTS 100 Gigawatt-peak (GWp) dan Program Elektrifikasi, di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Ia menambahkan, penerapan persyaratan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang belum selaras dengan kesiapan industri juga berpotensi meningkatkan biaya komponen dan menghambat percepatan pembangunan PLTS.

Untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut, studi merekomendasikan empat langkah reformasi kebijakan. Pertama, mempercepat pengadaan proyek PLTS strategis, termasuk program PLTS 100 GW, melalui lelang energi terbarukan yang kompetitif, transparan, dan berkala, serta didukung kepastian kontrak jual beli listrik.

Kedua, mereformasi sistem kuota PLTS atap agar konsumen rumah tangga maupun industri memiliki kesempatan lebih luas untuk memanfaatkan energi surya. Ketiga, mengatasi kendala lahan dan jaringan melalui penyederhanaan pengadaan lahan, percepatan pembangunan jaringan listrik, serta kejelasan mekanisme dan biaya penyambungan pembangkit. Keempat, menerapkan kebijakan TKDN secara bertahap agar penguatan industri manufaktur nasional tidak menghambat percepatan pembangunan dan penurunan biaya teknologi.

Manager and Lead for Energy SYSTEMIQ, Abindra Soemali, memperkirakan biaya pembangkitan PLTS di Indonesia berpotensi turun dari kisaran 5-10 sen USD per kWh menjadi sekitar 3,5-5 sen USD per kWh dalam jangka panjang jika reformasi kebijakan dijalankan secara konsisten.

Penurunan biaya tersebut dapat didorong melalui peningkatan skala pembangunan, penyederhanaan regulasi, penguatan rantai pasok domestik, serta perbaikan akses pembiayaan dan infrastruktur jaringan.

Menurut Abindra, percepatan pembangunan PLTS tidak cukup hanya mengandalkan penetapan target kapasitas. Kepastian regulasi dan mekanisme pengadaan yang mampu menarik investasi juga diperlukan untuk mewujudkan harga listrik yang kompetitif.

Dari sisi ekonomi, Direktur Indef Green Transition Initiative (GTI) Imaduddin Abdullah, mengatakan skenario elektrifikasi tinggi berbiaya terendah berpotensi memberikan kontribusi sekitar 8-10 persen terhadap tambahan produk domestik bruto (PDB) yang dibutuhkan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen.

“Analisis INDEF memperkirakan skenario ini juga berpotensi menghasilkan penghematan subsidi energi sebesar USD20 miliar selama 2025-2035 serta menciptakan sekitar 48 ribu lapangan kerja tambahan di sektor ketenagalistrikan,” katanya.

Selain itu, peningkatan elektrifikasi dan pemanfaatan energi terbarukan dapat mengurangi kebutuhan impor minyak. Langkah tersebut dinilai berpotensi memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi tekanan terhadap anggaran negara.

Ketersediaan listrik bersih dengan harga kompetitif juga semakin penting dalam menarik investasi dan menjaga daya saing industri Indonesia di pasar global. Perusahaan internasional kini turut mempertimbangkan akses terhadap energi terbarukan dalam menentukan lokasi investasi dan kegiatan produksi.

Karena itu, pemerintah dan PT PLN (Persero) perlu mempercepat pembenahan tata kelola ketenagalistrikan, memperluas akses terhadap listrik berbasis energi terbarukan, serta memastikan pembangunan pembangkit dan jaringan dilakukan secara terintegrasi.

IESR, INDEF, ETC, dan SYSTEMIQ menegaskan bahwa target pengembangan PLTS harus ditopang kepastian regulasi, mekanisme pengadaan yang kompetitif, dan kesiapan jaringan. Reformasi tersebut dinilai penting agar transisi energi tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia. (rmn)

Tags: ETCIESRIndefPLTSReformasi KelistrikanSystemiq

Berita Terkait.

kris
Ekonomi

Trisukses Kinerja Jadi Kunci LPDB Perluas Pembiayaan dan Tekan NPL

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:12
Nixon
Ekonomi

Balé by BTN Tembus 5 Juta Pengguna, Nilai Transaksi Capai Rp103,53 Triliun

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:38
bca
Ekonomi

BCA Perkuat Literasi Finansial, Wealth Summit 2026 Diikuti 4 Juta Pengunjung Online

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:08
suahasil
Ekonomi

Suahasil Ungkap Kunci Ketahanan ASEAN: Kebijakan Kredibel dan Ekonomi Produktif

Selasa, 13 Oktober 2026 - 17:27
phi
Ekonomi

Komunikasi Strategis Dukung Operasi Migas, PHI Sabet 5 Penghargaan AHI 2026

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:34
Awarding
Ekonomi

Cetak Kinerja Efisien, Bank Mandiri Taspen Sabet Penghargaan BIFA 2026

Selasa, 13 Oktober 2026 - 12:23

OLAHRAGA

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang
Olahraga

Mandalika Mendunia, Pertamina Apresiasi Kolaborasi di Balik Sukses MotoGP 2026

Editor Dilianto
Senin, 12 Oktober 2026 - 20:51

INDOPOSCO.ID - Kesuksesan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat, bukan hanya...

SelengkapnyaDetails
Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:40
Tobat Ekologis, Menag Ajak Umat Bersahabat dengan Alam

5 Emas Asian Games Jadi Alarm Evaluasi, Okto Dorong Pembenahan Sistem Olahraga

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:30
Banjir Bandang Padang, Puan Desak Perlindungan Pengungsi hingga Pemulihan Ekonomi Warga Terdampak

Andra Soni Lepas Atlet Disabilitas Banten ke Ajang Nasional: Kalian Inspirasi Kita Semua

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:55
Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Bus Pemain Muda Persib Diserang, Manajemen Pastikan Tempuh Jalur Hukum

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:17

BERITA POPULER

  • Sinergi Bea Cukai-Bareskrim Berbuah Manis, 5 Kg Sabu Berhasil Diamankan di Bogor

    Hendra Kurniawan Pimpin Polda Banten, Hengki Lanjut ke Jabar

    1063 shares
    Share 425 Tweet 266
  • Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    937 shares
    Share 375 Tweet 234
  • Darion dan Eksion PHEV Wuling Raih Pengakuan di FCR 2026

    890 shares
    Share 356 Tweet 223
  • Pengusaha Pilihan

    719 shares
    Share 288 Tweet 180
  • Tanggapi Kasus Dana Nasabah Rp17 Miliar, BTN: Klaim Harus Berdasar Bukti Hukum, Bukan Opini

    675 shares
    Share 270 Tweet 169
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.