INDOPOSCO.ID – Bencana alam yang terjadi di sejumlah daerah di Sumatera Barat turut memberikan tekanan terhadap keberlangsungan usaha masyarakat. Pelaku UMKM menghadapi berbagai kendala, mulai dari terganggunya kegiatan produksi, distribusi barang yang tidak lancar, hingga keterbatasan dalam menjangkau pelanggan akibat kerusakan infrastruktur dan akses pasar.
Dalam kondisi tersebut, digitalisasi dinilai dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu UMKM bangkit. Pemanfaatan platform dan layanan digital membuka peluang bagi pelaku usaha untuk kembali memasarkan produk, menjalin hubungan dengan konsumen, serta menemukan pasar baru meskipun aktivitas usaha belum sepenuhnya kembali normal.
Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mendukung percepatan pemulihan pascabencana sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 18 Tahun 2025. Dukungan diberikan melalui program “Fasilitasi Landing Page UMKM Sumatera Bangkit Bersama” dan pengaktifan kembali Klinik UMKM Bangkit di wilayah Sumatera Barat.
Program tersebut dilaksanakan secara hybrid di Kabupaten Padang Pariaman pada 6 Oktober 2026 dan Kota Padang pada 7 Oktober 2026. Selain mendorong pemulihan kegiatan usaha, rangkaian kegiatan ini juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM agar mampu memanfaatkan peluang digital sekaligus memperluas jangkauan pemasaran produknya.
Tahapan pendampingan mencakup pra-business matching, pembekalan untuk meningkatkan kapasitas usaha, serta proses kurasi bagi UMKM yang akan terlibat dalam kegiatan lanjutan. Seluruh proses tersebut dipersiapkan sebagai bagian dari rangkaian menuju business matching yang dijadwalkan digelar pada November 2026, dengan harapan semakin banyak UMKM terdampak bencana dapat kembali menjalankan usahanya dan memperluas pasar.
Asisten Deputi Bidang Pemasaran dan Digitalisasi Usaha Mikro Kementerian UMKM Ari Anindya Hartika menjelaskan, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan mengembalikan kemampuan UMKM untuk berproduksi. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan produk yang dihasilkan memiliki akses terhadap pasar.
“Ini adalah bagian dari pemulihan UMKM pascabencana dan juga sebagai tindak lanjut dari rangkaian percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi yang telah dilaksanakan di wilayah Sumatera Barat,” ujar Ari.
Menurut Ari, proses untuk kembali menjalankan usaha setelah terdampak bencana bukan perkara mudah. Karena itu, pendampingan diperlukan agar pengusaha UMKM dapat kembali berproduksi sekaligus memperoleh respons positif dari pasar.
“Pemulihan ini tidak cukup hanya tentang bagaimana usaha bisa kembali berjalan, tetapi kami juga memastikan ada pasar yang siap menampung produk. Hari ini kami tidak hanya berbicara mengenai akses pasar, digitalisasi, dan kemitraan, tetapi juga menghadirkan langkah nyata. Karena itu, fasilitasi landing page ini diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan ekosistem digital,” katanya.
Pemanfaatan kanal digital diharapkan dapat membuka peluang bagi pengusaha UMKM terdampak bencana untuk menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa sepenuhnya bergantung pada pasar di sekitar lokasi usaha.
Upaya tersebut mendapat respons positif dari pengusaha UMKM peserta kegiatan. Salah satunya Ulfa, pengusaha kuliner asal Padang Pariaman yang tengah berupaya memulihkan usahanya setelah terdampak bencana.
Ulfa mengakui kemampuan memanfaatkan teknologi digital masih menjadi salah satu tantangan dalam mengembangkan usahanya. Karena itu, pendampingan yang diperolehnya menjadi kesempatan untuk meningkatkan literasi digital sekaligus memperluas jangkauan pemasaran.
“Literasi digital merupakan hal yang perlu saya pelajari karena saya memahami ini masih menjadi kelemahan yang saya miliki. Melalui kegiatan optimalisasi landing page UMKM Bangkit ini, saya berharap produk saya bisa terjual hingga ke luar Sumatera Barat,” jelas Ulfa.
Harapan serupa disampaikan Ina, pengusaha UMKM asal Kota Padang. Ia berharap dapat mengikuti tahapan business matching dan bertemu dengan calon pembeli yang mampu menyerap produknya dalam jumlah lebih besar.
Bagi Ina, perluasan pasar tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan usahanya sendiri. Peningkatan permintaan dan kapasitas produksi juga berpotensi membuka kesempatan bagi masyarakat di sekitarnya untuk memperoleh penghasilan.
“Saya ingin bisa mengikuti business matching dan bertemu dengan pembeli untuk jumlah yang besar. Harapannya, kapasitas produksi ikut meningkat sehingga saya bisa mengajak ibu-ibu di sekitar untuk produktif dan memiliki penghasilan,” kata Ina.
Pengalaman Ulfa dan Ina menunjukkan bahwa pemulihan UMKM pascabencana tidak hanya berkaitan dengan menghidupkan kembali aktivitas produksi, tetapi juga membangun kemampuan usaha agar dapat beradaptasi dengan perubahan pasar.
Literasi digital, perluasan akses pasar, kemitraan, serta pertemuan dengan calon pembeli menjadi bagian penting agar pengusaha UMKM tidak sekadar pulih, tetapi juga memiliki fondasi usaha yang lebih tangguh setelah melewati masa krisis.
Melalui kolaborasi pemerintah, korporasi, BUMN, asosiasi, serta pengusaha UMKM, proses pemulihan ekonomi Sumatera Barat diharapkan tidak berhenti pada dukungan jangka pendek. Upaya tersebut sekaligus menjadi momentum bagi UMKM lokal untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, serta semakin terhubung dengan ekosistem dan rantai pasok nasional secara berkelanjutan. (her)

















