INDOPOSCO.ID – Lulusan pendidikan vokasi Universitas Terbuka (UT) dipastikan bekerja. Karena pendidikan vokasi UT seperti skema semi ikatan dinas.
Pernyataan tersebut diungkapkan Rektor Universitas Terbuka Prof Ali Muktiyanto kepada indoposco.id usai puncak dies natalis ke-42 UT di kampus Universitas Terbuka, Jumat (4/9/2026). Ia menegaskan, untuk mendukung itu, UT telah melakukan kolaborasi dengan dunia usaha.
“Kami targetkan pendidikan vokasi di 2027 nanti. Dan kami telah melakukan kolaborasi dengan Balai Latihan Kerja (BLK), pemerintah daerah hingga dunia industri,” ungkapnya.
Ia menambahkan, UT telah menyelesaikan cetak biru pendidikan vokasi. Dimana lulusan pendidikan vokasi memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan tingkat keterserapan di dunia kerja hingga 100 persen.
Lebih jauh ia mengungkapkan, berbagai capaian UT di usianya ke-42 saat ini memimpin dengan isi lintas generasi, mulai dari generasi baby boomers, Generasi X, Generasi Milenial, dan Generasi Z.
“Kita tidak lagi berbicara tentang inovasi yang bertahap, melainkan menuntut inovasi yang mengakar dan revolusioner. Kita harus menjadi pencipta tren, bukan pengikut tren, agar UT senantiasa berada terdepan,” katanya.
Dikatakan dia, Universitas Terbuka (UT) mencatat lonjakan jumlah mahasiswa hingga mencapai 856.444 orang pada usia ke-42 tahun. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 768.248 mahasiswa.
Ia mengatakan, kenaikan jumlah mahasiswa tersebut menjadi bukti semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap UT. Pertumbuhan itu sekaligus menunjukkan keseriusan UT memperluas akses pendidikan tinggi berkualitas, tidak hanya ke seluruh wilayah Indonesia, tetapi juga mancanegara.
“Ini sebuah loncatan yang membuktikan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap UT sekaligus keseriusan UT untuk terus menghadirkan akses pendidikan tinggi berkualitas ke seluruh negeri bahkan mancanegara,” ujar Ali.
Menurut dia, peningkatan jumlah mahasiswa tidak membuat kualitas layanan akademik menurun. Pelaksanaan tutorial dan ujian selama dua semester terakhir, yakni semester 2025.2 dan 2026.1, berlangsung lancar.
Bahkan, lanjutnya, sistem UT telah mampu melayani lebih dari 125 ribu pengguna secara bersamaan (concurrent users) dalam setiap sesi ujian. Kapasitas sistem yang terpasang saat ini mencapai 250 ribu pengguna secara bersamaan.
Ali juga menyoroti hadirnya inovasi ujian daring berbasis perangkat seluler (mobile). Inovasi tersebut bahkan dapat direalisasikan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. “Ini adalah sebuah kerja sama dan kerja serius kita dalam membangun sistem yang semakin tangguh,” katanya.
Dari sisi penjaminan mutu, masih ujar dia, UT juga mempertahankan akreditasi A di tingkat perguruan tinggi. Selain itu, UT telah memperoleh akreditasi internasional dari Asian Association of Open Universities (AAOU) dan Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA).
Secara nasional, menurutnya, jumlah program studi (prodi) yang memperoleh predikat akreditasi unggul juga meningkat dari 52 persen menjadi 59,62 persen. Sementara di tingkat internasional, UT telah melewati proses International Council for Open and Distance Education (ICDE) Quality Review.
“Dalam proses itu, salah seorang reviewer bahkan menilai UT layak disebut sebagai “The World’s Mega Quality University”,” ucapnya.
Pada bidang riset, masih ujar dia, UT mencatat peningkatan jumlah publikasi penelitian dosen dan peneliti. Publikasi di berbagai kanal meningkat dari 1.151 menjadi 1.251 publikasi.
“Publikasi yang terindeks pada jurnal internasional bereputasi melalui Scopus dan Web of Science (WoS), khususnya kuartil pertama hingga kuartil keempat (Q1-Q4), meningkat dari 748 publikasi pada 2024 menjadi 922 publikasi hingga 2026,” terangnya.
Peningkatan tersebut, menurutnya, sejalan dengan kebijakan strategis UT dalam memperbesar anggaran penelitian. Alokasi anggaran riset naik 73,6 persen, dari Rp32,9 miliar pada 2025 menjadi Rp57,1 miliar pada 2026. “Jadi sudah tidak ada lagi kata dosen tidak bisa melakukan riset,” tegas Ali.
Ia menyebut, UT juga meluncurkan sejumlah program baru, antara lain kelompok riset profesor (Rispro) serta riset strategis nasional yang diarahkan untuk mendukung program Asta Cita Presiden.
“Di sektor pemeringkatan global, UT turut mencatat kemajuan dalam Times Higher Education (THE) Sustainability Impact Ratings 2026. UT naik ke peringkat 801-1.000 dunia dari sebelumnya berada pada posisi 1.000-1.500 dunia,” katanya.
“Kontribusi UT terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga semakin luas. Dari sebelumnya hanya 5 fokus SDGs, kini UT berkontribusi pada seluruh 17 fokus SDGs,” sambungnya.
Sementara dalam tata kelola manajerial, masih ujar Ali, UT berhasil melakukan efisiensi pengadaan bahan ajar cetak melalui program Paramitha. Dengan skema tersebut, bahan ajar dicetak langsung oleh vendor dan dikirim kepada mahasiswa.
Skema ini, menurutnya, telah mencakup sekitar 95 persen dari total bahan ajar yang dicetak UT. Efisiensi biaya per lembar atau per eksemplar mencapai 50,4 persen, dari sebelumnya sekitar Rp105 ribu menjadi Rp52 ribu per eksemplar tanpa mengurangi kualitas bahan ajar.
“ Kita beroperasi dengan lebih cerdas, tangkas, dan tepat sasaran tanpa membuang sumber daya secara percuma,” ungkapnya.
Ia menambahkan, UT juga mencatat hasil pengembangan dana abadi atau Endowment Fund. Dari dana abadi sebesar Rp1,5 triliun, pengembangan dana tersebut telah menghasilkan Rp88,54 miliar.
Hasil pengembangan tersebut, menurutnya, diarahkan untuk tujuh bidang, yakni beasiswa, pengembangan kompetensi pegawai, riset dan inovasi, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan infrastruktur, pengembangan pendidikan jarak jauh (PJJ) menuju World Class University, serta pencapaian SDGs.
Dalam transformasi digital, dikatakan dia UT terus memperkuat sistem informasi pada lima area utama. Pertama, sistem informasi admisi hingga registrasi yang terintegrasi, seperti MyUT Mahasiswa dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Kedua, sistem pengembangan bahan ajar utama melalui Lentera. Ketiga, sistem pendukung pembelajaran berupa Learning Management System (LMS) yang dibantu kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Keempat, sistem asesmen hasil belajar melalui Ujian Online dengan Automated Online Proctoring serta ujian berbasis mobile. Kelima, sistem informasi nonakademik seperti Sistem Informasi Manajemen (SISMA) dan integrated Surat Perintah Perjalanan Dinas (i-SPPD).(nas)























