INDOPOSCO.ID – Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Beny Bandanadjaja meminta seluruh perguruan tinggi di Indonesia memperketat pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan orientasi studi mahasiswa baru (OSMB). Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya tindakan perploncoan atau senioritas dalam kegiatan kemahasiswaan.
“Ketentuan mengenai pelaksanaan kegiatan OSMB telah dikeluarkan Ditjen Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) dan disebarluaskan kepada seluruh perguruan tinggi di Indonesia,” ujar Beny kepada indoposco.id, Sabtu (5/9/2026).
Dalam ketentuan tersebut, menurutnya, terdapat sejumlah rambu-rambu mengenai kegiatan yang diperbolehkan maupun yang dilarang. “Ini memang menjadi concern utama kita karena secara historis itu banyak sekali kejadian-kejadian,” ungkapnya.
Karena itu, dikatakan dia, Ditjen Dikti meminta komitmen langsung dari pimpinan perguruan tinggi, khususnya rektor, untuk memastikan seluruh kegiatan mahasiswa berjalan sesuai ketentuan.
Setiap rektor, dikatakan dia, diminta membuat pernyataan atau komitmen akademik terkait pelaksanaan kegiatan di lingkungan kampus. Pengawasan tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada panitia, mahasiswa, maupun pihak yang terlibat langsung dalam kegiatan.
“Memang perlu pengawasan dari pimpinan perguruan tinggi dan kita minta adanya satu komitmen perguruan tinggi agar menjaga semua proses pelaksanaan kegiatan,” katanya.
Menurutnya, keterlibatan pimpinan perguruan tinggi dalam pengawasan menjadi penting agar seluruh tahapan kegiatan dapat berlangsung secara aman dan sesuai aturan. Dengan demikian, potensi terjadinya tindakan yang tidak diharapkan dapat ditekan.
“Jangan hanya diserahkan kepada panitia ataupun kepada mahasiswa atau yang terlibat di dalam prosesnya, agar tidak terjadi perbuatan yang kita tidak harapkan,” tegasnya.
Hal yang sama diungkapkan Direktur UT Jakarta, Moh Muzzammil. Ia menuturkan, OSMB UT Jakarta menekankan mahasiswa menjadikan mandiri. Baik itu dalam pembelajaran hingga menyusul jadwal dan ujian.
“Pada kegiatan ini (OSMB,red) mahasiswa dibekali teknik bagaimana belajar mandiri,” ujarnya.
Di tempat yang sama Rektor Universitas Terbuka (UT) Prof Ali Muktiyanto menuturkan, UT menerapkan karakter pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sehingga mahasiswa dituntut memiliki disiplin dan kemampuan mengatur proses belajarnya secara mandiri.
“Model pendidikan UT dinilai memiliki karakter yang berbeda dibandingkan pendidikan konvensional, baik di tingkat sekolah menengah maupun perguruan tinggi,” katanya.
“Orang yang berhasil di UT adalah orang yang sangat mandiri, sangat disiplin, dan tidak menunggu. Karena tidak ada yang akan mendorong terus,” imbuhnya.
Menurutnya, sistem pembelajaran UT tidak memaksa mahasiswa untuk selalu hadir dalam kelas secara konvensional. Materi pembelajaran telah disiapkan sehingga mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk mempelajari dan memahami materi tersebut.
“Kemandirian itu adalah sebuah tuntutan ketika kita masuk UT. Jadi jangan sampai kita kemudian tidak punya konsep belajar mandiri dan kapan kita belajar,” jelasnya.
“Mahasiswa dapat menentukan waktu belajar sesuai dengan aktivitas dan kebutuhannya. Pilihan waktunya bebas, mau malam hari, mau siang hari, mau kapan pun,” imbuhnya.(nas)























