INDOPOSCO.ID – Ada yang biasanya berakhir di tempat sampah, kali ini justru menemukan jalan menuju peluang usaha. Di Kecamatan Bangko Pusako, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, minyak jelantah dari aktivitas operasional PT Patra Drilling Contractor (PDC) diolah menjadi produk bernilai guna melalui program MALIKA 2.0 (Mari Kelola Jelantah Kita).
Bukan sekadar mengurangi limbah, program ini juga membawa 25 perempuan dari Desa Bangko Bakti, Bangko Jaya, dan Bangko Permata masuk ke dunia keterampilan produktif. Mereka dilatih mengolah minyak jelantah menjadi beragam produk, mulai dari sabun hingga lilin aromaterapi. Sejak pelatihan dimulai pada 14 Juli 2026, sebanyak 55 liter minyak jelantah dari dapur Food and Lodging Services (FLS) PDC telah dimanfaatkan sebagai bahan baku.
MALIKA 2.0 resmi diperkenalkan oleh Direktur Keuangan PDC Fitra Adriza bersama Wakil Bupati Rokan Hilir Jhony Charles di Kecamatan Bangko Pusako. Kehadiran program tersebut memperlihatkan bagaimana limbah dari aktivitas perusahaan dapat diarahkan menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat sekaligus membuka ruang tumbuh bagi kegiatan ekonomi lokal.
Direktur Keuangan PDC, Fitra Adriza, mengatakan minyak jelantah yang selama ini identik dengan limbah sebenarnya masih menyimpan potensi apabila dikelola secara tepat. Bagi PDC, pengolahan kembali minyak tersebut menjadi salah satu cara untuk menciptakan manfaat yang tidak berhenti pada aspek lingkungan.
“Melalui MALIKA 2.0, kami ingin menghadirkan manfaat yang berkelanjutan. Minyak jelantah dari aktivitas dapur FLS PDC tidak hanya kami lihat sebagai limbah, tetapi sebagai sesuatu yang masih memiliki nilai dan dapat dimanfaatkan kembali untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Fitra dalam keterangannya, Minggu (30/8/2026).
Menariknya, MALIKA 2.0 tidak dirancang sebagai program pelatihan yang selesai ketika kegiatan belajar berakhir. PDC memberikan pendampingan selama tiga bulan agar keterampilan yang telah dimiliki peserta dapat berkembang menjadi aktivitas produktif. Langkah memperluas pasar pun mulai dilakukan. Dua peserta bahkan telah membawa produk MALIKA 2.0 ke ajang pameran di Pekanbaru pada 9–10 Agustus 2026.
“PDC melanjutkan MALIKA 2.0 dengan pendampingan selama tiga bulan untuk membantu peserta mengembangkan keterampilan yang diperoleh menjadi kegiatan produktif. Sebagai langkah awal memperluas akses promosi, dua peserta MALIKA 2.0 juga telah mengikuti pameran di Pekanbaru pada 9–10 Agustus 2026,” terangnya.
Wakil Bupati Rokan Hilir Jhony Charles menyambut positif langkah tersebut. Ia bahkan mendorong agar kantor-kantor pemerintahan di Kabupaten Rokan Hilir dapat menyediakan ruang display khusus untuk membantu memperkenalkan produk MALIKA kepada masyarakat. Dukungan itu dinilai penting agar produk yang lahir dari program pemberdayaan tidak berhenti sebagai hasil pelatihan, tetapi memiliki ruang untuk dikenal dan berkembang.
“UMKM harus bisa lebih maju. Untuk itu, diperlukan program-program pemberdayaan yang dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dan membuka peluang ekonomi. Kami berterima kasih kepada PDC yang telah memberikan manfaat melalui program CSR-nya di Kabupaten Rokan Hilir,” jelas Jhony.
Pada akhirnya, MALIKA 2.0 membawa pesan sederhana, yakni sesuatu yang dianggap tidak berguna masih bisa memiliki nilai ketika dikelola dengan cara berbeda. Dari minyak jelantah yang berasal dari dapur operasional, PDC mencoba membangun dua manfaat sekaligus, mengurangi beban lingkungan dan menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat. (her)























