INDOPOSCO.ID – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mengajak talenta muda, khususnya mahasiswa, ikut mengambil peran dalam memperkuat ekosistem bioenergi nasional.
Perguruan tinggi, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi tempat mencetak lulusan, tetapi juga harus menjadi motor riset, inovasi, dan sumber daya manusia (SDM) untuk menjawab kebutuhan energi masa depan.
Fauzan mengatakan, pengembangan bioenergi merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi hijau Indonesia. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha dan dunia industri (DUDI), serta perguruan tinggi menjadi kunci.
Menurut dia, Indonesia memiliki potensi sumber daya bioenergi yang sangat besar. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat potensi biomassa Indonesia mencapai setara 56,97 GW listrik.
“Indonesia tidak kekurangan bahan bioenergi. Bahkan kalau mau dihitung surplus,” ujar Fauzan dalam keterangan, Sabtu (29/8/2026).
Potensi tersebut, lanjut dia, perlu dikelola dengan cara pandang dan tata kelola yang tepat. Termasuk mengoptimalkan berbagai sumber daya yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal, seperti limbah yang sebenarnya dapat diolah menjadi sumber energi.
Pengembangan bioenergi juga mulai menunjukkan hasil melalui berbagai kebijakan pemerintah. Salah satunya mandatori biodiesel B40. Sepanjang 2025, pemanfaatan biodiesel domestik mencapai 14,2 juta kiloliter.
Kebijakan tersebut turut berkontribusi menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor solar. Impor solar tercatat turun dari sekitar 8,3 juta ton pada 2024 menjadi sekitar 5 juta ton pada 2025.
Fauzan menegaskan, besarnya potensi bioenergi harus diikuti dengan kesiapan pelaku usaha yang memiliki integritas dan keberpihakan terhadap kepentingan nasional. Hilirisasi menjadi salah satu instrumen penting agar sumber daya alam Indonesia tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan mentah.
“Pengembangan sektor energi membutuhkan pelaku usaha yang memiliki integritas dan keberpihakan terhadap kepentingan bangsa,” tegasnya.
Perguruan tinggi, dikatakan dia, memiliki posisi strategis dalam menyiapkan SDM yang mampu menjawab kebutuhan sektor energi yang terus berkembang. “Mahasiswa tidak cukup hanya dibekali teori, tetapi perlu diberikan ruang untuk menguji gagasan dan kompetensinya melalui persoalan nyata di dunia industri,” ujarnya. (nas)























