INDOPOSCO.ID – Jangan anggap kaktus cuma tanaman berduri yang cocok dipajang di sudut rumah. Di Kebun Raya Cibodas, kaktus justru menjadi bagian penting dari upaya menyelamatkan keanekaragaman hayati, termasuk sejumlah jenis yang terancam punah.
Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat, hingga 2026 Kebun Raya Cibodas memiliki 768 eksperimen kaktus yang terdiri atas 131 nomor koleksi, 33 marga, dan 76 jenis.
Sejumlah koleksi tersebut bahkan masuk dalam daftar merah atau Red List International Union for Conservation of Nature (IUCN). Yang lebih mengkhawatirkan, beberapa jenis hanya tersisa satu spesimen dalam koleksi Kebun Raya Cibodas sehingga harus mendapat perhatian khusus untuk diperbanyak.
Pelaksana Fungsi Pemrosesan Koleksi Ilmiah Hayati Hidup-KKI Kebun Raya Cibodas BRIN, Abidin Ibrahim, menyebut beberapa jenis tersebut antara lain Espostoa baumannii, Ferocactus hamatacanthus, Lemaireocereus hollianus, Mammillaria spinosissima, Mammillaria backebergiana, Opuntia anacantha var. anacantha, Opuntia basilaris, Rhipsalis fasciculata, Setiechinopsis mirabilis, dan Soehrensia formosa.
“Upaya yang dilakukan Kebun Raya Cibodas untuk perbanyakan adalah menerapkan sejumlah teknik perbanyakan biji, setek batang, penyerbukan buatan, dan pengambilan anakan,” kata Abidin dalam keterangan, Selasa (25/8/2026).
Menurut Abidin, Kebun Raya Cibodas memiliki posisi penting sebagai pusat konservasi tumbuhan di luar habitat aslinya. Kaktus yang umumnya hidup di kawasan kering dan semi-kering menghadapi sejumlah ancaman, mulai eksploitasi untuk tanaman hias, perubahan iklim, hingga alih fungsi lahan.
“Kebun Raya bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga benteng pertahanan terakhir bagi pelestarian tanaman yang rentan terhadap kepunahan,” ujarnya.
Dia menjelaskan, konservasi tidak sebatas menyimpan dan merawat tanaman. Kebun Raya Cibodas juga menjalankan penelitian dan identifikasi, menjaga keberagaman genetik, mendukung pemulihan tanaman, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konservasi.
“Perawatan koleksi kaktus dilakukan secara rutin melalui penyiraman, penyiangan, pemupukan, pengendalian hama, dan pembersihan rumah kaca,” katanya.
“Penyiraman dilakukan sekitar satu kali dalam sepekan, bergantung pada kondisi tanaman,” sambungnya.
Sementara, lanjut dia, penyiangan dilakukan dengan membersihkan gulma di sekitar tanaman agar tidak terjadi persaingan dalam memperoleh nutrisi dan sinar matahari.
Keberadaan koleksi kaktus tersebut, menurutnya, memberikan manfaat ekologis, edukatif, dan ekonomi. Selain menjaga keanekaragaman hayati, koleksi itu menjadi sarana pembelajaran botani dan konservasi, sekaligus memiliki potensi sebagai objek wisata maupun tanaman hias.
“Melalui pengelolaan koleksi ilmiah yang berkelanjutan, kami harapkan mampu menjadi salah satu benteng penyelamatan tumbuhan langka untuk generasi mendatang,” katanya.
“Melestarikan tumbuhan hari ini berarti menjaga kehidupan masa depan,” imbuh Abidin. (nas)





















