INDOPOSCO.ID – Suasana kawasan mangrove di Kariangau, Balikpapan Barat, perlahan berubah. Bukan hanya pepohonan bakau yang semakin tumbuh, tetapi juga kehidupan yang mengikutinya. Burung, reptil, amfibi hingga mamalia mulai mengisi kembali ruang-ruang alami di kawasan operasional Pertamina Trans Kontinental Shorebase Tanjung Batu (PSTB).
Perubahan itu terekam dalam monitoring dan evaluasi Program Revitalisasi Mangrove (PORTAL) PT Pertamina Trans Kontinental (PTK). Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan keanekaragaman hayati sejak program tersebut dikembangkan pada 2022.
Vice President HSSE PTK, Nasruli, mengatakan revitalisasi mangrove tidak semata-mata ditujukan untuk menghijaukan kawasan, tetapi juga mengembalikan fungsi ekologis, ekonomi, dan fisik hutan bakau. Dengan ekosistem yang lebih sehat, kawasan pesisir diharapkan semakin terlindungi dari abrasi sekaligus mampu menopang kehidupan berbagai spesies.
“Program PORTAL merupakan salah satu upaya menjaga kelestarian alam yang dikembangkan PTK sejak tahun 2022, sekaligus menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna. Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL), PTK Shorebase Tanjung Batu juga menjalankan monitoring dan evaluasi kawasan mangrove untuk mengukur dampak nyata atas program tersebut,” kata Nasruli dalam keterangannya, Senin (24/8/2026).
Data evaluasi memperlihatkan perubahan cukup signifikan. Pada kelompok fauna, tercatat 49 jenis dari 33 famili. Peningkatan paling menonjol terjadi pada keanekaragaman burung yang melonjak 48 persen, dari 25 jenis pada 2022 menjadi 37 jenis pada 2026.
Tak hanya burung. Herpetofauna yang mencakup amfibi dan reptil bertambah dari enam menjadi sembilan jenis, sedangkan mamalia meningkat dari dua menjadi tiga jenis.
Kabar baik juga datang dari kelompok tumbuhan. Keanekaragaman flora meningkat 61 persen, dari 13 jenis pada 2022 menjadi 21 jenis pada 2026. Vegetasi didominasi habitus pohon sebesar 57 persen, dengan Bakau Minyak (Rhizophora apiculata) dan Api-api Hitam (Avicennia alba) menjadi jenis mangrove dominan yang berperan dalam menstabilkan substrat sekaligus menyerap karbon.
“Peningkatan jumlah spesies yang teridentifikasi ini menjadi bukti nyata pentingnya kawasan mangrove PTK Shorebase Tanjung Batu sebagai benteng perlindungan biodiversitas Indonesia,” jelas Nasruli.
Menurut PTK, bertambahnya spesies menjadi salah satu indikator bahwa kawasan konservasi mangrove mulai menjalankan perannya sebagai habitat alami. Ekosistem pesisir yang terjaga bukan hanya memberi ruang hidup bagi satwa, tetapi juga memperkuat perlindungan lingkungan di sekitar wilayah operasional.
“Melalui temuan ini, PTK terus memperkuat komitmen menjaga kelestarian ekosistem secara berkelanjutan, melindungi habitat alami satwa endemik, serta menciptakan lingkungan yang sehat agar tercipta keseimbangan ekologis yang memberi manfaat nyata bagi kehidupan di sekitarnya,” tambahnya.
Untuk memastikan perubahan tersebut terukur, evaluasi dilakukan dengan pendekatan ilmiah terpadu. Metode yang digunakan meliputi jalur berpetak (line transect), Point Count/Indices Point of Abundance (IPA), Visual Encounter Survey (VES), hingga pemasangan kamera jebak (camera trap).
Pengamatan dilakukan pada empat formasi kluster alami mangrove, yakni Kluster Sonneratia, Sonneratia–Avicennia, Avicennia–Rhizophora, dan Rhizophora.
Bagi PTK, hasil tersebut menunjukkan bahwa upaya memulihkan mangrove dapat menghasilkan dampak yang lebih luas daripada sekadar menambah tutupan vegetasi. Ketika habitat kembali sehat, kehidupan pun perlahan mengikuti.
PTK merupakan anak usaha Subholding Integrated Logistics PT Pertamina International Shipping. Sebagai penyedia layanan maritim terpadu, PTK mengoperasikan ratusan armada kapal di sejumlah wilayah strategis Indonesia, dengan layanan yang mencakup Support Vessel Provider, Marine Service, Port Operations Services, hingga Shorebase.(her)























