INDOPOSCO.ID – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin menyoroti sosok yang layak memimpin organisasi. Menurutnya, Ketua Umum PBNU tidak cukup hanya memiliki pengaruh, tetapi juga harus piawai mengelola organisasi sekaligus mampu menggerakkannya.
Kiai Ma’ruf menegaskan Ketua Umum nantinya berperan sebagai pelaksana berbagai arahan Rais Aam. Karena itu, kemampuan manajerial dan teknokratis menjadi modal penting bagi pemimpin yang akan dipilih.
“Ketua Umum itu harus memiliki manajerial, scale untuk kemampuan mengelola, kemudian juga mampu secara teknik memang bisa menggerakkan organisasi. Harus seperti itu, dipilih yang terbaik,” kata Kiai Ma’ruf.
Pernyataan itu disampaikan Kiai Ma’ruf dalam tayangan Menjadi Indonesia ke-48 bertajuk “Di Balik Turun Gunungnya Kiai-Kiai Sepuh Jelang Muktamar ke-35 NU”, yang tayang di kanal YouTube NU Online, dikutip pada Selasa (25/8/2026).
Namun, bagi Kiai Ma’ruf, tantangan kepemimpinan NU tidak berhenti pada kemampuan mengelola organisasi. Pemimpin mendatang juga harus mampu menjalankan al-islah wal-ishlah, yakni mendamaikan pihak-pihak yang berselisih sekaligus memperbaiki gerakan organisasi.
“Kenapa? Karena tugas NU itu kan berat. Tidak mungkin dia kemudian terpecah-pecah, itu tidak mungkin. Dia harus menyatu,” jelasnya.
Ia mengingatkan pesan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari bahwa NU memiliki mandat besar dalam memperjuangkan keadilan, menebarkan keamanan, melakukan perbaikan, serta membawa kebaikan. Mandat tersebut mencakup ranah keumatan, kebangsaan, kemanusiaan, keagamaan, sosial, pendidikan hingga politik.
“Jadi ini harus, kekuatan NU harus satu. Islah yang pertama itu menyatukan semua potensi. Harus mampu itu, bukan memecah belah, tapi menyatukan, islah,” tuturnya.
Menurut Kiai Ma’ruf, islah juga berarti memastikan seluruh gerakan NU tetap berpijak pada fikrah dan manhaj Nahdliyah, bukan pada pemikiran atau kepentingan personal.
“Supaya itu sesuai. Kalau gerakannya itu berdasarkan fikrah si fulan, namanya fikrah fulaniyyah, manhaj fulan, harakah-nya harakah fulaniyyah, bukan harakah nahdliyah,” ungkapnya.
Ia pun mengingatkan agar konflik internal tidak membuat organisasi kehilangan daya geraknya. NU, kata dia, harus tetap aktif menjalankan tugas-tugas yang diwariskan para pendirinya.
“Bukan mandek, enggak mau bergerak-gerak, itu bukan Nahdlatul Ulama namanya, sukutul ulama,” ujar Kiai Ma’ruf.
Kiai Ma’ruf menilai NU yang terlalu sibuk dengan konflik hingga berhenti bergerak justru berada dalam kondisi berbahaya karena tugas besar yang dicanangkan Hadratussyekh tidak akan berjalan.
“NU-nya tidak bergerak. Nah, ini berbahaya. Tugas itu yang oleh Hadratussyekh dicanangkan itu sama sekali tidak berjalan,” tambahnya. (her)





















