• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Produksi Minyak Nasional di Kisaran 600 Ribu BOPD, 8 Insentif Hulu Migas Didorong

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Minggu, 23 Agustus 2026 - 11:03
in Ekonomi
Perwira-Pertamina

Perwira Pertamina tugas melakukan pemeriksaan dan pengoperasian peralatan serta instalasi di fasilitas hulu migas. Foto: Istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Produksi minyak bumi nasional yang masih berada di kisaran 600 ribu barel per hari (BOPD) dinilai menjadi tantangan serius bagi upaya pemerintah mencapai target swasembada energi. Untuk mengejar target produksi sedikitnya 1 juta BOPD minyak dan 12.000 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas dalam beberapa tahun mendatang, pemerintah dinilai perlu melakukan perubahan signifikan dalam pengelolaan sektor hulu migas.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, peningkatan produksi migas nasional membutuhkan sumber pertumbuhan baru karena sebagian besar aset eksisting merupakan lapangan tua atau mature fields yang mengalami penurunan produksi alamiah (natural decline) cukup tinggi.

BacaJuga:

Perkuat Rantai Pasok Biomassa, PLN EPI Ajak Pengusaha Daerah Kelola Sampah Jadi Barang Bernilai Ekonomis

PLN Icon Plus Tawarkan Solusi Digital dan Energi Hijau untuk Industri Hulu Migas

Kedaulatan Energi Berlanjut, Pipa WNTS-Pemping Siap Alirkan Gas Natuna ke Pembangkit Listrik

“Berdasarkan data tanpa adanya percepatan kegiatan eksplorasi yang masif, tingkat produksi minyak nasional pada 2030 diproyeksikan dapat berada pada level terendah (low case), yaitu sekitar 580-590 ribu BOPD atau lebih rendah lagi,” ujar Komaidi dalam keterangan tertulis, Minggu (23/8/2026).

Dia mencatat, selama periode 2020-2025, rata-rata penurunan produksi minyak secara alamiah mencapai sekitar 22,3 persen per tahun. Sementara itu, penurunan produksi gas berada di level sekitar 12 persen per tahun.

Menurut Komaidi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa eksplorasi harus dipercepat untuk menahan laju penurunan produksi sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan produksi baru.

Untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif, meningkatkan daya tarik investasi dan kegiatan eksplorasi, serta mempercepat konversi sumber daya menjadi cadangan dan produksi, ReforMiner mengusulkan delapan opsi kebijakan dan insentif kepada pemerintah.

Pertama, pemerintah dinilai perlu memberikan insentif fiskal yang lebih fleksibel dan berbasis keekonomian lapangan. Insentif tersebut terutama diperlukan untuk pengembangan undeveloped discovery, lapangan marginal, lapangan mature, proyek Enhanced Oil Recovery (EOR), serta pengembangan Low Quality Reservoir (LQR) dan Migas Non-Konvensional (MNK).

Besaran dan bentuk insentif, kata Komaidi, dapat disesuaikan dengan karakteristik, tingkat risiko, kebutuhan investasi, dan keekonomian masing-masing proyek.

Kedua, pemerintah perlu menyempurnakan perlakuan perpajakan pada skema Production Sharing Contract (PSC) Cost Recovery. Salah satunya melalui penerapan kembali prinsip assume and discharge terhadap pajak tidak langsung seperti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) guna mengurangi tambahan beban biaya operasi kontraktor.

Ketiga, fasilitas perpajakan perlu ditetapkan sejak awal masa eksplorasi atau kontrak, menggantikan mekanisme case-by-case setelah Plan of Development (POD) disetujui.

Penataan tersebut juga perlu dibarengi dengan pembaruan skema New Gross Split sebagaimana diatur dalam Permen ESDM No. 13 Tahun 2024 serta revisi PP No. 27 Tahun 2017 dan PP No. 53 Tahun 2017.

Keempat, pemerintah perlu menyelesaikan mekanisme kompensasi kerugian fiskal atau Tax Loss Carry Forward (TLCF) dalam perubahan kontrak dari skema Gross Split menjadi Cost Recovery. Hal itu termasuk pengakuan terhadap biaya dan kerugian yang telah timbul sebelum perubahan kontrak berlaku.

Kelima, diperlukan jaminan kepastian dan stabilitas fiskal sepanjang masa kontrak, termasuk perlindungan terhadap prinsip sanctity of contract. Dengan demikian, perubahan kebijakan fiskal dan perpajakan tidak menimbulkan ketidakpastian terhadap keekonomian investasi yang telah disepakati.

Keenam, kewajiban Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) perlu direlaksasi secara selektif, khususnya untuk barang, material, teknologi, atau peralatan yang belum tersedia secara memadai di dalam negeri.

Ketujuh, birokrasi dan perizinan perlu disederhanakan melalui penerapan sistem single submission dan persetujuan izin secara paralel lintas kementerian/lembaga. Langkah ini diharapkan dapat memangkas waktu yang dibutuhkan kontraktor pada tahap pra-operasi.

Kedelapan, pemerintah perlu memberikan jaminan perlindungan hukum melalui penyusunan dan penerbitan Instruksi Presiden dengan mengadopsi pendekatan Inpres No. 1 Tahun 2016. Kebijakan tersebut diharapkan memberikan kepastian hukum bagi manajemen Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan BUMN hulu migas yang mengambil keputusan investasi berisiko tinggi, seperti pengembangan LQR dan MNK, sepanjang dilakukan sesuai prinsip tata kelola perusahaan yang baik.

Selain mendorong perbaikan iklim investasi, Komaidi menilai pemerintah perlu memberikan perhatian lebih terhadap PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Menurutnya, PHE memiliki peran strategis dalam kegiatan eksplorasi sekaligus menjaga keberlanjutan produksi migas nasional.

Selama 2021-2025, rata-rata realisasi sumur eksplorasi yang dikerjakan PHE mencapai sekitar 57,24 persen dari total sumur eksplorasi migas nasional. Kontribusi tersebut bahkan meningkat dari 42,85 persen pada 2021 menjadi 83,33 persen pada 2025.

Dari sisi keberhasilan eksplorasi, selama 2022-2024 rata-rata success ratio sumur eksplorasi PHE tercatat sekitar 65,67 persen. Angka tersebut berada di atas success ratio eksplorasi migas nasional pada periode yang sama yang berada di level 64,67 persen.

PHE juga dinilai mampu mempertahankan Reserve Replacement Ratio (RRR) di atas 100 persen. Selama periode 2021-2024, rata-rata RRR PHE tercatat sekitar 156 persen, lebih tinggi dibandingkan sejumlah perusahaan migas global seperti Petronas sebesar 131 persen, Shell 115 persen, PetroChina 107 persen, dan Chevron 85 persen.

“PHE tercatat memiliki kontribusi signifikan dalam tambahan penemuan sumber daya migas nasional,” jelas Komaidi.

Dia menyebutkan, pada 2024 tambahan sumber daya migas yang ditemukan PHE mencapai sekitar 652,19 juta barel setara minyak (MMBOE), atau sekitar 73,79 persen dari total tambahan sumber daya migas nasional pada tahun tersebut yang mencapai sekitar 883,81 MMBOE.

Dari sisi produksi, PHE pada 2025 mencatat produksi migas sebesar 1.031,84 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD), setara dengan 66,27% produksi migas nasional yang mencapai 1.557,10 MBOEPD.

Untuk produksi minyak, PHE mencatat 555,92 ribu BOPD pada 2025 atau setara dengan 91,84 persen dari lifting minyak bumi nasional yang berada di level 605,30 ribu BOPD.

Memasuki semester I 2026, PHE disebut masih mampu mempertahankan produksi sekaligus memperkuat cadangan migas. Hingga akhir Juni 2026, produksi migas PHE mencapai 935 MBOEPD, terdiri atas produksi minyak sebesar 459 MBOPD dan gas sebesar 2.756 MMSCFD.

Komaidi mengatakan kinerja tersebut didukung oleh program pengembangan dan pemeliharaan sumur yang dilakukan PHE.

“Selama Januari–Juni 2026 PHE melaporkan telah menyelesaikan 278 sumur eksploitasi, melaksanakan 601 kegiatan workover, dan 13.870 kegiatan well service,” ujarnya.

Menurut Komaidi, dengan tren penurunan produksi alamiah yang masih tinggi, percepatan eksplorasi, pengembangan lapangan, serta perbaikan iklim investasi menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan produksi migas nasional.

Pemerintah dinilai tidak cukup hanya mengandalkan aset eksisting untuk mengejar target swasembada energi. Dukungan kebijakan dan insentif yang tepat sasaran dibutuhkan agar investasi baru dapat masuk, sumber daya migas dapat segera dikonversi menjadi cadangan, dan pada akhirnya mendorong peningkatan produksi nasional.(rmn)

Tags: Komaidi Notonegoroproduksi migasReforMiner

Berita Terkait.

Perkuat Rantai Pasok Biomassa, PLN EPI Ajak Pengusaha Daerah Kelola Sampah Jadi Barang Bernilai Ekonomis
Ekonomi

Perkuat Rantai Pasok Biomassa, PLN EPI Ajak Pengusaha Daerah Kelola Sampah Jadi Barang Bernilai Ekonomis

Kamis, 8 Oktober 2026 - 06:06
PLN Icon Plus Tawarkan Solusi Digital dan Energi Hijau untuk Industri Hulu Migas
Ekonomi

PLN Icon Plus Tawarkan Solusi Digital dan Energi Hijau untuk Industri Hulu Migas

Kamis, 8 Oktober 2026 - 02:01
Pekerja PLN
Ekonomi

Kedaulatan Energi Berlanjut, Pipa WNTS-Pemping Siap Alirkan Gas Natuna ke Pembangkit Listrik

Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:07
PLN Icon Plus Tawarkan Solusi Digital dan Energi Hijau untuk Industri Hulu Migas
Ekonomi

Cetak Wirausaha Muda Produktif, Kementerian UMKM Akselerasi Target Rasio Kewirausahaan Nasional

Rabu, 7 Oktober 2026 - 23:07
Langkah Strategis TLKM, Tunjuk Pejabat Baru Audit Internal demi Keterbukaan Informasi
Ekonomi

Langkah Strategis TLKM, Tunjuk Pejabat Baru Audit Internal demi Keterbukaan Informasi

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:37
Farida Farichah
Ekonomi

Farida Ajak KNPI Menjadi Penggerak KDKMP

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:06

OLAHRAGA

Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid
Olahraga

Sentuhan Magis Pertamina di Bandara Lombok: Antarkan Semarak MotoGP Langsung Saat Mendarat

Editor Ali Rachman
Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:23

INDOPOSCO.ID - Perjalanan menuju Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 ternyata tidak dimulai saat mesin motor menderu di Pertamina Mandalika...

SelengkapnyaDetails
novendra

Novendra Priasmoro Berjaya, Percasi DKI Siapkan Skuad Terbaik untuk Kejurnas 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 23:13
PB FORKI

GGK Indonesia Diperkuat, PB FORKI Siapkan Program Bela Diri untuk Perempuan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:35
elkan

Elkan Baggott Usai Indonesia Juara: Kami adalah Raja Asia Tenggara

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:07
timnas

Soal Bonus Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Ini Kata Prabowo

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:06

BERITA POPULER

  • Todotua

    Asian Games 2026 Ditutup Manis, Kontingen Indonesia Bawa Pulang 39 Medali dan Catat Hasil Optimal

    2714 shares
    Share 1086 Tweet 679
  • Cetak 5 Gol ke Gawang Bangladesh, Mitchell Baker Samai Rekor Iswadi Idris

    1212 shares
    Share 485 Tweet 303
  • Jelang Final, Jay Idzes Terus Suntikkan Semangat untuk Skuad Garuda

    980 shares
    Share 392 Tweet 245
  • Firli Bahuri Raih Doktor, Tawarkan Model Baru Penyelesaian Konflik Sosial

    973 shares
    Share 389 Tweet 243
  • Pernyataan SBY Gugatan PHPU Salah Alamat, Analis: MK Bisa Nilai Keabsahan Pencalonan Gibran

    873 shares
    Share 349 Tweet 218
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.