INDOPOSCO.ID – Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menduga mantan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengundurkan diri akibat tekanan pemerintah. Salah satu indikatornya adalah kebijakan intervensi rupiah yang menguras belasan miliar dolar AS tanpa diimbangi reformasi program pemerintah.
“Cadangan devisa terkuras 11 miliar USD sejak awal tahun 2026 untuk pertahankan rupiah, tanpa ada perbaikan tata kelola MBG dan Danantara yang signifikan,” kata Bhima kepada INDOPOSCO melalui gawai, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, adanya tekanan terhadap Perry ketika masih menjabat Gubernur BI untuk memikul beban stabilitas akibat langkah-langkah fiskal yang dilakukan pemerintah.
“Jadi Gubernur BI dipaksa cuci piring kotor atas manuver fiskal,” nilai Bhima.
Ia menambahkan, bahwa BI sebelumnya juga diminta tidak menaikkan suku bunga karena program prioritas presiden membutuhkan tingkat suku bunga yang rendah.
Namun, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kebijakan itu dinilainya sebagai bentuk independensi BI di tengah tekanan politik domestik.
“Tapi BI langsung naikkan suku bunga beruntun ke 100 basis poin. Artinya, ada perlawanan dari Perry,” imbuh Bhima.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi membantah, anggapan bahwa pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dari jabatannya karena dipicu tekanan pemerintah.
“Siapa yang berspekulasi (ada tekanan dari pemerintah)? Kan pertanyaan anda yang membuat spekulasi,” jelas Prasetyo Hadi terpisah dalam konferensi pers di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/7/2026).
Ia mengungkapkan, keputusan Perry mundur dari jabatannya didasari oleh alasan pribadi. Surat pengunduran diri itu telah diterima oleh Presiden Prabowo Subianto. “Karena alasan pribadi dan tentu kita menghormati ya,” ujar Prasetyo Hadi.(dan)


















