• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Prof Djohermansyah: Indonesia Tidak Kekurangan Kampus, Hanya Kekurangan Sistem Melahirkan Pemimpin

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Minggu, 26 Juli 2026 - 18:18
in Nasional
un

Prof Djohermansyah Djohan mantan Dirjen OTDA Kementerian Dalam Negeri. Foto : dokumen Indoposco

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Peluncuran Universitas Republik Indonesia (URI) memunculkan optimisme sekaligus tanda tanya.

Optimisme karena setiap ikhtiar meningkatkan kualitas sumber daya manusia layak diapresiasi. Namun tanda tanya muncul karena publik belum memperoleh jawaban yang meyakinkan mengenai persoalan mendasar yang hendak diselesaikan oleh kehadiran universitas baru tersebut.

BacaJuga:

Dugaan Penyekapan 10 Calon ART di Surabaya, Legislator Desak Polisi Usut Tuntas Potensi TPPO

Wamendagri Tegaskan Kepercayaan Masyarakat Jadi Modal Utama Kepemimpinan Kepala Daerah

2 Tahun Kabinet Merah Putih, ATR/BPN Hadir Lebih Dekat Lewat Mobil Layanan Keliling

“Dalam tata kelola pemerintahan yang baik, pembentukan sebuah lembaga negara bukanlah titik awal, melainkan titik akhir dari sebuah proses panjang. Ia harus didahului identifikasi masalah, kajian akademik yang kuat, analisis kebutuhan, serta evaluasi terhadap lembaga-lembaga yang telah ada,” terang Prof Djohermansyah Djohan mantan Dirjen Orda Kemendagri kepada INDOPOSCO.ID,Minggu (26/7/2026)

Menurut mantan Pj Gubernur Riau ini, Negara tidak semestinya membangun institusi baru hanya karena memiliki kewenangan untuk melakukannya.

“Pertanyaan yang patut diajukan sederhana. Masalah apa yang tidak mampu diselesaikan oleh perguruan tinggi yang sudah ada sehingga harus dibentuk Universitas Republik Indonesia?,”
kata Djohermansyah balik bertanya.

Dijelaskan, sejarah menunjukkan bahwa lahirnya sebuah lembaga pendidikan strategis selalu berangkat dari kebutuhan nyata. Ketika Presiden Soekarno mendirikan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) pada 1956 di Malang, Jawa Timur, negara sedang mengalami kekurangan aparatur pemerintahan tingkat menengah yang mampu mengelola pemerintahan daerah. Alumnus APDN dengan gelar BA hadir mengisi kekosongan itu melalui proses yang terencana, lalu berkembang secara bertahap hingga 20 buah di seluruh Indonesia sesuai kebutuhan nasional.

Lalu pelan-pelan ditingkatkan menjadi IIP, STPDN, dan terakhir IPDN yang mencetak S1, S2, dan S3 Ilmu Pemerintahan yang lulusannya telah mengisi kursi lurah, camat, sekda bupati, walikota, gubernur, dirjen, hingga menteri. Bahkan, kursi menteri di Timor Leste ada yang dijabat oleh tamatan sekolah pamongpraja ini.

“Apakah kondisi serupa sedang dihadapi Indonesia saat ini?,”
cetusnya.@

Menurut Djohermansyah, Indonesia justru memiliki ratusan perguruan tinggi negeri dan ribuan perguruan tinggi swasta yang setiap tahun meluluskan sarjana, magister, doktor, bahkan melahirkan profesor. Banyak di antaranya berkiprah sebagai birokrat, akademisi, profesional, teknokrat, maupun politisi.
“Persoalan kita bukan kekurangan orang pintar, namun saat ini adalah orang-orang terbaik kita tak memperoleh kesempatan memimpin pemerintahan,”
ujarnya.

Djohermansyah mengungkapkan, sistem rekrutmen politik, kaderisasi partai, mekanisme pencalonan kepala daerah, hingga proses seleksi pejabat publik masih belum sepenuhnya berpihak pada kompetensi, integritas, dan rekam jejak. Tidak jarang kemampuan finansial, kedekatan politik, nepotisme, dan kekuatan oligarki justru lebih menentukan dibandingkan kualitas kepemimpinan.

Akibatnya, Indonesia mengalami paradoks. Pendidikan menghasilkan banyak SDM unggul, tetapi sistem politik tidak selalu menghadirkan mereka sebagai pemimpin.

“Dalam situasi seperti itu, mendirikan universitas baru belum tentu menjadi jawaban,”
katanya.

Yang jauh lebih mendesak adalah memperbaiki ekosistem yang melahirkan pemimpin.

Perbaiki partai politik agar menjadi sekolah kepemimpinan, bukan sekadar kendaraan elektoral. Benahi sistem pemilu agar memberi ruang yang lebih adil bagi calon-calon berkualitas. Jangan orang baik diganjal untuk berkompetisi. Promosi jabatan agar didasarkan pada meritokrasi, bukan patronase. Perkuat pendidikan antikorupsi, etika publik, dan kepemimpinan sejak sekolah hingga perguruan tinggi.

“Bila sistemnya tetap keliru, universitas sehebat apa pun akan menghasilkan lulusan yang akhirnya terseret ke dalam praktik politik yang sama,” ungkapnya.

Di sisi lain, orientasi pendidikan kepemimpinan memang perlu diperbarui. Tantangan pemerintahan abad ke-21 tidak lagi cukup dijawab melalui ceramah mengenai disiplin, wawasan kebangsaan, atau teori administrasi publik semata. Pemimpin masa depan harus ditempa melalui studi kasus, simulasi pengambilan keputusan, praktik lapangan, serta kemampuan menyelesaikan persoalan nyata seperti korupsi, pelayanan publik, perubahan iklim, transformasi digital, dan tata kelola keuangan negara.

“Mereka harus dibentuk menjadi pemimpin yang mampu berkata “tidak” terhadap penyalahgunaan kekuasaan, bukan sekadar patuh kepada atasan,” cetusnya.

Lebih penting lagi
kata Djohermansyah , pemerintah perlu membuka secara transparan desain akademik URI, dasar hukumnya, kebutuhan nasional yang melatarbelakanginya, serta konsekuensi anggaran yang harus ditanggung negara. Transparansi bukan sekadar prosedur administratif, melainkan bentuk penghormatan kepada publik sebagai pembayar pajak.

Apalagi kebijakan ini lahir ketika pemerintah sendiri sedang mengampanyekan efisiensi belanja negara. Publik tentu berhak bertanya mengapa di tengah penghematan justru muncul institusi baru yang berpotensi menyerap anggaran besar.

Pilihan yang lebih bijaksana adalah memperkuat perguruan tinggi yang telah ada. Tingkatkan kualitas dosen, perbaiki kesejahteraan tenaga pendidik, modernisasi kurikulum, perluas pembelajaran berbasis praktik, dan bangun budaya akademik yang melahirkan pemimpin berintegritas.

Membangun gedung baru jauh lebih mudah daripada membangun budaya kepemimpinan.

Pada akhirnya, kualitas bangsa tidak ditentukan oleh banyaknya universitas yang didirikan, melainkan oleh keberhasilan sistem menghadirkan orang-orang terbaik yang kompeten dan berakhlak mulia untuk memimpin.

Indonesia sesungguhnya tidak sedang mengalami krisis kampus. Indonesia sedang menghadapi krisis sistem kaderisasi kepemimpinan.

Selama akar persoalan itu tidak dibenahi, universitas baru hanya akan menjadi tambahan institusi. Bukan solusi.

Karena sebuah bangsa tidak akan berubah hanya dengan membangun kampus baru. Bangsa berubah ketika sistemnya memberi jalan kepada pemimpin yang kompeten, berintegritas, dan berani mengabdi kepada rakyat. (yas)

Tags: kampusuniversitasuri

Berita Terkait.

Dugaan Penyekapan 10 Calon ART di Surabaya, Legislator Desak Polisi Usut Tuntas Potensi TPPO
Nasional

Dugaan Penyekapan 10 Calon ART di Surabaya, Legislator Desak Polisi Usut Tuntas Potensi TPPO

Kamis, 29 Oktober 2026 - 22:32
Wamendagri Tegaskan Kepercayaan Masyarakat Jadi Modal Utama Kepemimpinan Kepala Daerah
Nasional

Wamendagri Tegaskan Kepercayaan Masyarakat Jadi Modal Utama Kepemimpinan Kepala Daerah

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:47
BRMS Perkuat Kinerja Kuartal III 2026, Bidik Peningkatan Produksi Emas
Nasional

2 Tahun Kabinet Merah Putih, ATR/BPN Hadir Lebih Dekat Lewat Mobil Layanan Keliling

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:07
Polri Tetapkan 245 Orang dan 20 Korporasi Tersangka Kebakaran Hutan dan Lahan
Nasional

Danantara Akuisisi Hotel di Makkah, Komnas Haji Soroti Efisiensi Biaya Jemaah

Kamis, 29 Oktober 2026 - 20:07
Sawit Aset Mahal, Pengusaha Tak Punya Alasan Membakar Lahan
Nasional

Sawit Aset Mahal, Pengusaha Tak Punya Alasan Membakar Lahan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 19:15
Polri Tetapkan 245 Orang dan 20 Korporasi Tersangka Kebakaran Hutan dan Lahan
Nasional

Wamendiktisaintek Dorong Kampus Jadi Pusat Solusi Persoalan Daerah

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:05

OLAHRAGA

Wamendagri Tegaskan Kepercayaan Masyarakat Jadi Modal Utama Kepemimpinan Kepala Daerah
Olahraga

Krisis Tata Kelola Futsal, Pemilik Klub Minta PSSI Turun Tangan

Editor Dilianto
Kamis, 29 Oktober 2026 - 20:57

INDOPOSCO.ID - Persoalan tata kelola kembali membayangi kompetisi futsal profesional Indonesia. Pergantian struktur organisasi hingga perubahan nama menjadi Asosiasi Futsal...

SelengkapnyaDetails
catur

Borong 17 Medali, Percasi DKI Jakarta Kembali Rajai Kejurnas Catur 2026

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:43
timnas

Laga Indonesia Vs Yordania Terancam Batal, Erick Thohir Beber Kekhawatiran PSSI

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:22
liverpool

Liverpool vs Chelsea: Iraola Isyaratkan Rotasi, The Reds Siap Tempur

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:27
ACL Two 2026: Pimpin Klasemen, Pelatih Persib Sebut Timnya Bukan Favorit Lawan Melbourne Victory

ACL Two 2026: Pimpin Klasemen, Pelatih Persib Sebut Timnya Bukan Favorit Lawan Melbourne Victory

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:58

BERITA POPULER

  • Karhutla Masih Marak, BNPB Ingatkan Pelaku Usaha Tak Bakar Lahan

    Kurangi Beban Dosen, Mendiktisaintek Bakal Tata Kembali Prodi untuk Efisiensi Kampus

    5147 shares
    Share 2059 Tweet 1287
  • Kementerian PKP Bedah Rumah Warga Tak Mampu di Kampung Ambon

    1262 shares
    Share 505 Tweet 316
  • Lahan Perhutanan Sosial Seluas 638 Hektar di Humbang Hasundutan Resmi Dikelola Kelompok Tani

    986 shares
    Share 394 Tweet 247
  • Gempa Bumi Dangkal Getarkan Aceh Tenggara, BMKG: Kedalaman Hiposenter 3 Km

    942 shares
    Share 377 Tweet 236
  • Atasi Suhu Panas, Pemprov Jakarta Gelar Operasi Modifikasi Cuaca

    969 shares
    Share 388 Tweet 242
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.