INDOPOSCO.ID – Ekonomi dunia kini bergerak melampaui sekadar angka perdagangan. Di tengah pesatnya digitalisasi, rantai pasok global yang semakin kompleks, dan persaingan antarnegara yang semakin ketat, kepercayaan menjadi mata uang baru dalam membangun kerja sama internasional. Dalam konteks tersebut, komunikasi strategis dinilai memiliki posisi yang sama pentingnya dengan kebijakan perdagangan itu sendiri.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri saat membuka Seminar on Strategic Communication in Strengthening International Trade and Tourism Cooperation yang digelar secara hybrid, pada Senin (20/7/2026). Seminar merupakan kolaborasi Kementerian Perdagangan bersama Universitas Sahid dan Universitas Nasional.
Menurut Roro, komunikasi strategis tidak lagi berfungsi sebagai pelengkap kebijakan, melainkan instrumen yang menentukan keberhasilan diplomasi ekonomi Indonesia di tingkat global.
“Komunikasi strategis mendukung negosiasi perdagangan, mempromosikan produk dan jasa Indonesia, mendorong pelaku bisnis untuk memanfaatkan perjanjian perdagangan, serta memastikan bahwa kerja sama internasional memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Komunikasi dapat mengubah kebijakan menjadi pelaksanaan, perjanjian menjadi peluang, dan kemitraan menjadi kemakmuran yang berkelanjutan,” ujar Roro mengawali sambutannya.
Roro menegaskan bahwa perdagangan dan pariwisata merupakan dua sektor yang saling memperkuat. Perdagangan membuka jalan bagi produk Indonesia memasuki pasar dunia, sementara pariwisata memperkenalkan identitas, budaya, dan kekayaan nusantara kepada masyarakat internasional. Sinergi keduanya menjadi fondasi penting dalam memperkuat citra bangsa sekaligus memperluas peluang ekonomi.
“Ketika didukung oleh komunikasi yang efektif serta kolaborasi yang kuat antara pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, dan mitra internasional, sektor-sektor ini menjadi penggerak utama daya saing global Indonesia. Perlu kita ingat, komunikasi bukan sekadar tentang menyampaikan informasi, melainkan menciptakan pemahaman, membangun keyakinan, dan memperkuat kemitraan,” jelas Roro.
Ia menjelaskan, dinamika hubungan perdagangan internasional saat ini menuntut pola komunikasi yang lebih terstruktur, berbasis data, serta mampu menjawab perubahan kebijakan global dengan cepat. Karena itu, komunikasi perlu menjadi bagian integral dari proses penyusunan hingga implementasi kebijakan perdagangan.
Seminar tersebut menjadi ruang dialog antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan mitra internasional untuk memperkuat pemahaman mengenai peran komunikasi strategis dalam mendukung kerja sama perdagangan dan pariwisata Indonesia. Selain itu, forum ini diharapkan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam merumuskan kebijakan yang lebih adaptif dan berdampak luas.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Prasetyo Yoga Santoso menilai perdagangan dan pariwisata memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, wisatawan dapat berkembang menjadi konsumen produk Indonesia, kemudian menjadi promotor, hingga akhirnya menjadi duta yang memperkenalkan Indonesia kepada dunia.
Ia juga menggarisbawahi empat prioritas utama dalam membangun nation branding, yakni narasi nasional yang kuat, kolaborasi lintas sektor, komunikasi berbasis riset, serta penciptaan nilai publik yang inklusif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan Basaria Tiara L. Gaol memaparkan pentingnya komunikasi strategis dalam menjaga konsistensi kebijakan perdagangan bilateral. Ia menjelaskan terdapat enam aktor utama yang berperan dalam proses perundingan perdagangan, mulai dari Kementerian Perdagangan, Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, tim perunding, sektor swasta, akademisi dan masyarakat sipil, hingga negara mitra yang menangkap dan menafsirkan setiap pesan diplomasi Indonesia.
Diskusi juga menghadirkan Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas SDM Industri Kementerian Pariwisata Faisal yang membahas penguatan kualitas sumber daya manusia dan kelembagaan pariwisata melalui komunikasi yang efektif. Dari kalangan akademisi, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Nasional Swastiningsih menyoroti kontribusi perguruan tinggi dalam membangun kemitraan internasional melalui pengembangan kajian komunikasi.
Perspektif internasional turut disampaikan Konselor Perdagangan Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia Scott McNamara yang membagikan pandangan mengenai strategi komunikasi dalam memperkuat hubungan perdagangan dan pariwisata Indonesia–Australia. Adapun Country Manager Katalis 2.0 MD Mohasin Kabir mengulas peluang kolaborasi konkret antara Indonesia dan mitra internasional dalam menjawab tantangan implementasi kerja sama lintas sektor. (her)

















