INDOPOSCO.ID – Setelah melihat sepak bola di Amerika dan Kanada, lalu pulangnya mampir Tiongkok dan Russia, akhirnya saya menemukan semifinal “Piala Dunia” di Jakarta: Trunojoyo v Gedung Bundar.
Anda sudah tahu: Komandan Satuan Pemberantasan Korupsi Mabes Polri Irjen Pol Totok Suharyanto mengungkap kasus korupsi besar yang melibatkan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Korupsi Febrie Adriansyah.
Skor 1-0 untuk Irjen Pol Totok. Boleh juga disebut 3-0.
Irjen Pol Totok memang menghadapi tiga perkara besar yang tiga-tiganya melibatkan nama Febrie.
Yang pertama: terkait utang piutang antara anak perusahaan BUMN Krakatau Steel, dengan perusahaan swasta pemasok besi. Tagih-menagih.
Si penagih pakai backing. Jumlahnya sebenarnya tidak seberapa –meski bagi “perusuh” Disway seperti Ima Lawaru bisa untuk beli buku novel judul apa pun yang pernah ada di jagad raya.
Yang kedua: terkait perkara korupsi di perusahaan asuransi milik TNI, Asabri.
Juga di perusahaan asuransi BUMN Jiwasraya. Hebohnya luar biasa –saking besarnya. Sampai uang Asabri ludes –yang asalnya dari potongan gaji anggota TNI.
Para direktur Asabri sudah masuk penjara. Antara delapan sampai 16 tahun.
Bintangnya adalah salah satu pengusaha besar asal Solo yang juga aktif sebagai koki goreng saham di pasar modal: Benny Tjokro. Bentjok, begitu biasa disingkat, dijatuhi hukuman berat: seumur hidup.
Tapi ada satu nama besar yang hilang dari berkas perkara. Yakni seorang pengusaha properti yang Anda sudah kenal: Tan Kian. Jangankan jadi tersangka, jadi saksi pun tidak.
Anda sudah tahu siapa Tan Kian: memiliki Pacific Place, dua hotel bintang lima Ritz Carlton, Mega Kuningan, hotel bintang lima J.W. Marriott Jakarta, Millennium Centennial Center, South Hills Apartment, dan banyak lagi.
Kenapa nama itu hilang dari berkas perkara Anda sudah bisa menduga.
Sebentar lagi akan terungkap di persidangan –kalau jadi sampai disidangkan.
Lain lagi yang terkait dengan penggarongan BUMN Jiwasraya. Di situ ada nama besar HeHi –Heru Hidayat. HeHi sudah dijatuhi hukuman berat: penjara seumur hidup. Asetnya disita Kejaksaan Agung, termasuk perusahaan tambang batu baranya: PT Gunung Harang. Nilainya Rp6,5 triliun. Aset itu dilelang dengan harga yang Anda sudah tahu. Lelang ini dinilai penuh permainan.
Yang ketiga, ini dia: soal batu bara. Nilainya Rp 5 triliun. Yang menurut Irjen Pol Totok menjadi penyebab black out –mati lampu– di berbagai daerah Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.
Dua perusahaan batu bara menjadi pemasok emas hitam itu ke PLN: PT Oktasan Baruna Persada dan PT Buana Rizky Armia. Itu dua tapi satu. Mereka terikat dalam satu konsorsium.
PT Oktasan berkantor di Jakarta Selatan. PT Buana berlokasi di Bantuas, Palaran, sepelemparan batu dari Samarinda.
Polisi menemukan kejahatan dua perusahaan itu: kirim batu bara ke PLN tidak sesuai dengan kontrak. Batu bara yang dikirim berkalori rendah: 3.000-an GAR. Padahal seharusnya 4.400-an GAR. PLTU-2 PLN memang dirancang untuk dijalankan dengan batu bara kalori 4.400 GAR ke atas.
Kalau diberi ”makan” jenis 3.000-an GAR ibarat perut Yuni Shara atau Syifa Hadju dikasih makan gaplek mentah.
Akibatnya Anda sudah tahu: PLTU yang seharusnya, misalnya, menghasilkan listrik 1.000 MW hanya menghasilkan 600 MW. Produksi listrik berkurang banyak. Akibat buruk lainnya: secara teknis PLTU terus bermasalah. Rusak dan rusak lagi.
Sudah sejak enam tahun terakhir batu bara yang berkalori 4.000 ke atas memang diekspor habis-habisan.
Harga ekspor memang sangat tinggi. PLTU di dalam negeri tinggal dapat ”sampah” nya. Secara fisik sering sudah tidak terlihat seperti batu bara. Sudah seperti tanah –yang kalau terkena hujan seperti lumpur.
Semua itu terungkap berkat laporan sebuah LSM Antikorupsi bernama Koalisi Sipil Masyarakat Anti Korupsi (KOSMAK). Ketuanya: Ronald Loblobly.
Memang ada pertanyaan besar: mengapa PLN mau menerima batu bara yang kualitasnya rendah. Kenapa tidak ditolak.
Jawabnya ada tiga pilihan: (a) petugas bagian penerimaan kena sogok, (b) dipaksa kekuatan luar untuk menerima, (c) PLN terpaksa menerima karena tidak ada batu bara lagi –yang kalau tidak diterima berarti listrik padam total.
Kelihatannya kombinasi jawaban ”b” dan ”c” yang terjadi. Indikasinya: meski batu bara yang dikirim 3.000 kalori, tagihannya ke PLN 4.000 kalori. Tidak mungkin orang PLN mau dan berani melakukan kesembronoan seperti itu.
Perbedaan kadar kalori yang begitu tinggi tidak bisa disembunyikan. Seluruh karyawan di bagian penerimaan tahu. Seluruh karyawan bagian pembangkitan tahu. Sistem komputer PLN mencatat: mengapa jumlah (tonase) pemakaian batu bara sama tapi hasil listriknya turun drastis.
Bagian keuangan PLN pasti tidak akan mau bayar batu bara kalori 3.000 dengan harga kalori 4.000. Tapi mengapa terjadi. Berarti ada kekuatan besar di baliknya. Tapi seberapa besar pun kekuatan itu tidak akan bisa menghapus angka-angka di komputer DCS –meski mungkin bisa mengubah angka di hasil pemeriksaan lab PLN maupun labnya surveyor Sucofindo.
Ronald Loblobly merangkum semua itu dalam bentuk laporan ke Satuan Pemberantasan Korupsi Mabes Polri.
Ditembuskan juga kepada presiden.
Sebenarnya pemilik PT Oktasan bukan orang kuat yang pernah kita dengar namanya. Mayoritas sahamnya (52 persen) dimiliki Tria Bellitonito Aturbumi.
Bellitonito menjabat sebagai direktur utama. Bellitonito lahir di Belitong –sebelah Bangka. Nama belakangnya, Aturbumi, terlihat seperti lahir dirancang untuk bisa mengatur tambang di perut bumi.
Pemilik lainnya Anda juga belum kenal: Budi Tunggul Manurung (29 persen).
Manurung sebagai komisaris utama. Lalu ada nama Hadi Hidayat (14 persen), dan Muchlis Saleh (5 persen).
Tahun 2023 saja konsursium PT Oktasan kirim batubara 2,1 juta ton ke PLN –kalau itu masih bisa disebut batu bara.
Hebat sekali. Bukan orang kuat tapi kuat sekali. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 13 Juli 2026: Jeruk Keprok
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
JERUK JANGAN JADI SELAI..
Jeruk Bali. Jeruk keprok. Jeruk purut. Metafora Pak DI segar. Tapi publik sebenarnya tidak sedang menghitung jenis jeruk. Publik sedang menghitung satu hal: apakah hukum masih punya rasa yang sama untuk semua orang.
Kasus sebesar ini tidak boleh berhenti di permainan istilah. Yang diuji bukan hanya tersangkanya. Yang diuji juga keberanian institusi yang kini memegang perkara. Kalau penanganannya transparan, kepercayaan publik ikut tumbuh. Kalau berbelit, kecurigaan akan berbuah lebih cepat daripada jeruk.
Saya tertarik pada satu kalimat: jangan sampai barang bukti tertukar. Itu terdengar sederhana. Padahal di situlah integritas diuji. Emas tidak bisa bicara. Uang juga tidak bersaksi. Manusialah yang menentukan apakah keduanya tetap menjadi barang bukti atau berubah menjadi barang “bukti pernah ada”.
Semoga perkara ini tidak menjadi kebun jeruk yang rindang, tetapi buahnya sulit dipetik. Sebab rakyat tidak sedang mencari vitamin C. Rakyat hanya ingin memanen satu rasa: keadilan.
Prieyanto
Yo lebih hebat yang rekeningnya TiAkBuBis (tiap akhir bulan habis)
Tapi
Tetap disayang is-one
Koyo awak-e dewe.
MULIYANTO KRISTA
Alhamdulilah akhirnya baru di artikel kali ini, abah mengakui kalau nilai matematiknya di bawah rata-rata.
Orang jujur itu sangat disayang istri bah.
Apalagi yang rekeningnya banyak isinya.
Sri Wasono Widodo
BUAT MAINAN. Untuk dapat dibuat mainan mobil mobilan, cara mengupas kulit jeruk bali harus didesain sejak awal. Mana bagian rodanya, harus yang dapat Kita bentuk bundar. Bagian bodynya harus relatif lebih lebar. Sedangkan isinya untuk dapat Kita konsumsi dengan nyaman harus Kita pilah pilah dengan rapi sehingga antar bagian tidak saling melukai. Saya positif thinking kulitnya bukan didesain untuk mainan. Tujuan utamanya agar isinya dapat dipilah tanpa saling melukai.
Fa Za
Tahukah anda bahwa istilah “jeruk makan jeruk” berasal dari iklan minuman nutrisari? Dalam iklan itu disebut “jeruk kok minum jeruk”, tapi kemudian masyarakat menggantinya dengan “jeruk makan jeruk”.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
“JERUK SAYA”:
TIDAK BERSALAH..
Sejak membaca tulisan Pak Dahkan, saya jadi curiga pada persediaan jeruk di rumah.
Untung saya ingat, akhir-akhir ini saya justru jarang makan jeruk. Bukan tidak suka. Saya suka sekali. Hanya saja, saya sering kalah oleh satu perkara sederhana: malas mengupasnya.
Akhirnya, untuk memenuhi gizi harian, saya lebih sering memilih pisang. Tinggal kupas. Langsung makan. Efisiensi energi. Mungkin itu yang disebut evolusi perilaku konsumen.
Tapi percayalah, sesekali saya tetap makan jeruk. Vitamin C tetap perlu. Jadi, kalau setelah dua minggu saya pulang dan jumlah jeruk di meja berkurang satu, jangan buru-buru menyimpulkan telah terjadi “jeruk makan jeruk”.
Hipotesis ilmiahnya jauh lebih sederhana. Mungkin saya sendiri yang lupa sudah memakannya. Dalam sains, penjelasan paling sederhana sering kali paling mendekati kebenaran. Dalam hukum pun mestinya begitu: jangan membangun teori rumit sebelum memeriksa fakta yang paling dekat. Kadang, misteri terbesar bukan ada pada jeruknya, melainkan pada ingatan pemiliknya.
Sugi
Sebenarnya drama pengungkapan bagi penonton sudah sangat seru Bah. Tentang drama berikutnya penonton seringnya sudah meninggalkan gedung bioskop duluan. kenapa? Sebab drama penanganan dst biasanya lempeng, datar, tidak seru. Malah bisa merusak plot cerita sejak awal. Bahkan bisa mengalihkan kita dari jalur cerita yang seharusnya. Merusak ekspektasi. Tapi begitulah kehidupan nyata. Penanganan korupsi tidak sampai menimbulkan efek domino kemana-mana. Jalan cantik di tempat.Tiba-tiba kita lupa saja, teralihkan oleh isu-isu lainnya. Kita hanya penonton yang terima hasil jadi. Nasib Rakyat. Sutradara, pemain, dan kru yang menentukan semua-muanya. Nasib Pejabat.
Motor Listrik
Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Mabes Polri,
Kayaknya terbersit nama ini dulu saat banyaknya pegawai KPK yg di Firli-kan itu di tempatkan di korp ini,bagaimana sekarang novel baswedan dkk itu sekarang?
Siapa tau ada yg mendengar kabarnya, selain aktivitas podcast nya, tidak salah sepertinya Pak Dis ajak beliau podcast.
Tentang firli, apa yg terjadi dengan bapak ini, apa pertanggungjawabannya atas hasil kerjanya di KPK?
Apa pertanggjawabannya saat bertemu pak mentri di lapangan badminton?
dll
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Jeruk makan jeruk. Jeruk bali sampai jeruk keprok. Jeruk segar sampai jeruk busuk. Jeruk buah sampai jeruk sachet-an.
Tetap saja negara ini sariawan. Kapan sehatnya negara ini?.
Em Ha
Saya akui Presiden kita hebat. 20 Mei lalu pidato di DPR. “…saudara saudara yang punya bunker bunker disembunyikan nanti akan kita ketemukan juga…”. Hasilnya 74 Kg emas plus dollar.
Hanya saja. Kalau kita minta Pak Prabowo menghitung jumlah emas dan dollar itu dalam rupiah. Anda sudah tahu berapa nilai matematikanya.
heru pujihastono
Sepak bola ketika klimak Ndak ada solusi, akhirnya memunculkan istilah yg dibuat Maradona: “Tangan Tuhan” maklum dulu blm ada cctv seperti final world cup hari ini. Saya pernah mengajukan sidang perwalian anak utk ikrar wakaf. Tok cepat sekali hakim memutuskan. Mungkin karena masalah perwalian : kering. Kalau masalah ” jeruk” kan basah . Basahnya luar dalam. Banyak kepentingan walau sdh jelas cuma perlu kaca pembesar saja. Zoom. Cuma perlu tangan yg kuat. Pihak- pihak yg ikut mendulang masalah ini perlu hati-hati hati bila berbuat salah. Ting tong. Sudah sangat makan ati. Kalau sekelas sepak bola dengan kata : ” Tangan Tuhan”. Bisa berubah menjadi ” Makar Tuhan” . Huruf T besar.
Ibnu Shonnan
Orang yang berkacamata hitam & berkumis tipis duduk di barisan depan saat konpres, Kejagung, Polri dan DPR itu siapa ya? Apa sudah lupa, karena sikapnya Indonesia gegeran diakhir bulan Agustus 2025. Yang bener saat ini ia statusnya apa? Sy**h*”i ora duwe rai
yea aina
Pak @Sadewa, mungkin cerita teman itu yang menginspirasi ide patriot bond.
Penempatan uang abu-abu, pun berbunga rendah. Tidak perlu cash back, yang penting safe back. Aman terkendali. Ancur uangnya telur.
Mpok Dipa
Bangsa ini pecinta heboh sesaat. Sebesar besarnya sebuah kasus di negeri ini, nanti juga berlalu. Ibarat kentut, bunyinya nyaring bikin ribut seolah olah semua bakal membaui. Padahal ketiup angin sebentar juga dah ilang baunya.
yea aina
Pengunduran diri FA sudah diterima dan dikabulkan atasannya. Rasanya persidangan etik tidak diperlukan lagi.
Kalau masih ada yang “gregetan” dengan etika APH di sini, ingatlah tanggapan seseorang ketika ditanya tentang etika paman hakim MK, “etik…. etik…. nd*smu etik”. Jawaban nir etika.
Leong Putu
Jagung muda pindang usus ini tentu yang di jajarannya merupakan anak buah semua. Tentu pula pegang semua kartu anak buah, termasuk kartu AS pun kartu Joker.
Lucu membayangkan si penuntut nanti akan menuntut orang yang pegang kartunya. Takut pasti.
Daripada daripada lebih baik di_p19_kan atau tuntut ringan aja.
Eeeh, jangan-jangan gembos sudah dari toko ban? Kok kirim bannya langsung dikirim tanpa melalui QC? Padahal aturan baru ban baru boleh dikirim setelah QC.
Wkwkwk…..
Komen ketularan Wak Kaji JZ
Muh Nursalim
Masalah di satu orang rejeki di pihaka lain. Dunia memang begitu. Dari dulu. Orang bermasalah dengan gigi. Rejeki bagi dokter gigi. Orang punya masalah, lelah ngaritkan kambing. Rejeki di pihak blantik kambing. Orang punya masalah kebodohan. Rejeki bagi para guru. Tapi. Mestinya tidak semua begitu. Orang punya masalah hukum. Rejeki di penegak hukum. Kalau ini dipakai juga yang terjadi seperti yang sekarang terjadi. Karena semestinya tidak semua urusan jadi komoditas. Ada urusan yang tidak dapat di jual. Ada pula urusan yang memang harus dilakukan oleh aparat. Sebagai pelayan. Jika semua hal jadi komoditas. Orang miskin adalah korban pertama dan utama.
Liáng – βιολί ζήτα
窩裡鬥 (Wōlǐdòu)
Istilah “jeruk makan jeruk” ada kemiripan dengan Chinese idiom “窩裡鬥 (Wōlǐdòu)” yang bisa dimaknai sebagai internal conflict.
Idiom tersebut muncul setelah esai pendek yang ditulis oleh 袁中郎 (Yuán Zhōngláng) semasa Ming Dynasty (明代 Míngdài).
Esai tersebut mengisahkan seorang Biksu yang sedang mabuk di sebuah kuil di Hangzhou (杭州 Hángzhōu), kemudian kedua tangan Biksu tersebut diikat, namun tetap “berkelahi” dengan kedua tangannya yang disatukan tersebut…..
Di kemudian hari, idiom tersebut mengalami perluasan makna, meliputi : pergumulan internal dalam sebuah keluarga, kelompok, atau organisasi, bahkan antar kelompok dan organisasi seprofesi. Hal ini muncul dalam novel 紅樓夢 (Dream of the Red Chamber).
Selanjutnya….. idiom 窩裡鬥 (Wōlǐdòu) “beranak-cucu” dengan munculnya istilah-istilah, seperti : 狗咬狗 (Gǒuyǎogǒu) —> dog-eat-dog ; 自己人打自己人 (Zìjǐ rén dǎ zìjǐ rén) —> friendly fire or infighting ; serta yang lainnya – yang senada seirama.
Dan….. entahlah, apakah ada pengaruh budaya Tiongkok (Ming Dynasty) terhadap istilah “jeruk makan jeruk” yang sangat populer di sini…..
Jo Neka
Semuanya akan sehat kembali setelah meminum sari Buah Mengkudu
Er Gham 2
Bagaimana jika terjadi perang antar jeruk. Jeruk bali didukung jeruk pontianak. Melawan jeruk keprok. Rambutan mau ikut masuk arena, namun dihalangi pisang kepok. Durian akhirnya turun ke gelanggang. Berguling guling menebar duri tajamnya. Semua akhirnya menyerah. Semua harus damai. Sebagai sesama buah buahan. Jangan sampai terpecah belah. Jangan ada terprovokasi dari buah jengkol yang teriak teriak, “Bakar. Bakar. “
yea aina
Menurut ketua MAKI, “drama” penyerahan perkara FA ke Kejagung, bukan hanya seperti “jeruk makan jeruk” tapi “jeruk keprok makan jeruk Bali”.
Dulu, di institusi penuntutan, FA bukanlah jeruk sembarangan. Jeruk yang bisa beralih fungsi jadi alat pemeras jeruk.
Semua jeruk besar yang masuk, “diperas” sampai ampasnya kering. Lalu “dibuang” masuk hotel prodeo pula.
Mungkin saja, para ampas jeruk itulah yang membocorkan ada: harta karun Sentul. Akumulasi imbalan atas berbagai keringanan hukuman.
Mereka ampas jeruk yang masih punya gigi. Bisa mencokot dari balik terali besi.
Koneksi dengan para pembackingnya, tenth masih kuat terpelihara. Buka sithik buyaarr…..
Er Gham 2
Berprofesi sambilan sebagai koruptor harus punya brankas uang di rumah. Atau minimal tas koper yang besar, kuat, anti rayap, dan anti air. Simpan di bawah kasur. Tidak mungkin disimpan di bank. Bisa diendus ppatk. Beli barang juga tidak mungkin transfer. Semua bayar pakai cash. Akhirnya sebagian dibelikan mobil —bawa cash pakai tas plastik kresek–, dibelikan jam tangan richard mille, emas batangan, tas hermes. Bisa suruh sopir yang beli, atau lewat istri sopir. Atau lewat tetangga sopir.
Bila selalu was was simpan koper uang di rumah, bisa simpan di apartemen. Suruh sopir yang beli satu kamar apartemen. Atau simpan di rumah istri siri di pelosok perbatasan kabupaten.
Er Gham 2
Apa enaknya main bola pakai jeruk bali. Itu khan keras. Padat. Sakit bila ditendang. Dulu sekali, kadang main bola pakai bola dari getah karet. Lebih lunak. Tapi bolanya lebih kecil dari bola voli karena getah karetnya terbatas. Kadang getah karet digunakan untuk tangkap burung pipit. Pakai dahan yang dililit getah karet, lalu dahan nya ditancapkan di pinggir sawah.

















