INDOPOSCO.ID – Pembinaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dilakukan PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Lapangan Jambaran-Tiung Biru (JTB Field) kembali menunjukkan hasil positif. Dalam ajang Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026, mitra binaan PEPC tidak hanya sukses menarik perhatian ribuan pengunjung, tetapi juga membukukan transaksi lebih dari Rp30 juta selama empat hari penyelenggaraan.
Festival yang digelar di Alun-alun Bojonegoro pada 17-20 Juni 2026 itu diikuti 69 peserta pameran dari berbagai daerah di Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah. Total pengunjung mencapai lebih dari 32 ribu orang, menjadikannya salah satu agenda ekonomi kreatif terbesar di Bojonegoro.
Salah satu daya tarik utama datang dari Batik Sekar Rinambat, batik khas hasil karya perajin desa sekitar wilayah operasi JTB Field. Koleksi batik tersebut mendapat perhatian luas, termasuk dari istri Bupati Bojonegoro, Cantika Wahono, yang turut mengunjungi stan PEPC JTB Field.
Tak hanya menghadirkan batik, PEPC juga menampilkan berbagai produk unggulan UMKM binaan lainnya, seperti produk herbal berbahan dasar kelor dan tanaman kesehatan. Beragam produk tersebut mendapat respons positif dari masyarakat hingga mencatatkan total transaksi lebih dari Rp30 juta selama festival berlangsung.
Prestasi membanggakan juga diraih dalam kompetisi Batik Fashion Show. Kreasi busana yang diusung PEPC JTB Field berhasil meraih Juara I melalui karya bertema Jagat Tengul, rancangan desainer muda asal Bojonegoro, Engki Adi Saputra.
Busana tersebut mengangkat filosofi harmoni alam yang dipadukan dengan Tari Tengul, salah satu ikon seni tradisional Bojonegoro. Konsep yang memadukan unsur budaya lokal dengan sentuhan desain modern berhasil memperoleh nilai tertinggi dari dewan juri.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Timur, Arumi Bachsin, mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan Bojonegoro Wastra Batik Festival sebagai upaya memperkuat industri kreatif sekaligus mendorong sektor pariwisata.
“Kegiatan ini adalah wujud nyata bagaimana pelestarian budaya berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi kreatif. Di setiap lembar kain batik, ada kreativitas luar biasa dari para perajin. Bojonegoro yang selama ini dikenal dengan industri energinya, kini membuktikan diri semakin maju melalui industri kreatif yang kompetitif, adaptif, dan mampu mengawinkan karya seni dengan teknologi,” ujarnya.
Arumi menambahkan, tantangan ke depan bukan hanya memperbanyak pelaku ekonomi kreatif, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi yang dihasilkan agar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut dinilai penting mengingat batik telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Sementara itu, Head Communication, Relations & CID PEPC Zona 12, Weanny Hikmat, mengatakan keikutsertaan PEPC dalam festival tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasi melalui pemberdayaan UMKM.
Menurutnya, pameran berskala regional menjadi ruang strategis bagi para perajin untuk memperluas jejaring pasar sekaligus meningkatkan kualitas produk.
“Melalui forum dan pameran skala regional seperti ini, para perajin dan mitra binaan kami dapat langsung berinteraksi dengan pasar yang lebih luas. Ini adalah kesempatan berharga bagi mereka untuk meningkatkan kapasitas, melihat kebutuhan pasar, dan terus meningkatkan kualitas produknya,” ucap Weanny.
PEPC JTB Field meyakini pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal tidak hanya mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat identitas budaya Bojonegoro.
Sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif, keberhasilan Batik Sekar Rinambat diharapkan menjadi momentum agar produk batik khas Bojonegoro makin dikenal luas, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga mampu menembus pasar internasional.(rmn)

















