INDOPOSCO.ID – Gerakan keterbukaan ilmu pengetahuan atau open science terus diperkuat di Indonesia. Melalui Konferensi Open Indonesia 2026, BRIN mengajak pemerintah, akademisi, komunitas, organisasi masyarakat sipil, hingga masyarakat umum membangun budaya riset yang lebih transparan, inklusif, dan kolaboratif.
Open Indonesia sendiri lahir pada 2025 sebagai bentuk komitmen bersama berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat keterbukaan pengetahuan, data, budaya, dan teknologi sebagai bagian penting pembangunan nasional.
Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan keterbukaan ilmu pengetahuan merupakan fondasi penting dalam menghadapi tantangan global, mulai dari perubahan iklim, krisis kesehatan, hingga kesenjangan sosial.
Menurutnya, open science bukan sekadar slogan akademik, melainkan paradigma baru yang mengubah cara ilmu pengetahuan diproduksi, diverifikasi, dan dimanfaatkan.
“Open science mempercepat diseminasi pengetahuan, memperluas akses bagi peneliti dan masyarakat, serta meningkatkan kredibilitas sains melalui transparansi data, metode, dan publikasi,” ujar Satria dalam keterangan, Selasa (23/6/2026).
Arif menambahkan, Indonesia yang memiliki tantangan dan karakteristik wilayah yang beragam membutuhkan kolaborasi lintas disiplin ilmu agar mampu menghasilkan solusi berbasis bukti yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Ia menuturkan, keterbukaan ilmu pengetahuan tidak dapat berjalan tanpa dukungan infrastruktur riset yang memadai. Karena itu, BRIN terus memperkuat pengelolaan data penelitian melalui pengembangan Repositori Ilmiah Nasional (RIN) yang dikelola Direktorat Repositori, Multimedia, dan Penerbitan Ilmiah (RMPI).
“Keterbukaan tidak terjadi secara otomatis. Dibutuhkan infrastruktur yang kuat, kebijakan yang mendukung, serta investasi jangka panjang agar data penelitian dapat ditemukan, diakses, dimanfaatkan kembali, dan memberi manfaat yang lebih luas,” tegasnya.
Arif juga menyoroti pentingnya citizen science atau sains warga sebagai bagian dari ekosistem sains terbuka. Keterlibatan masyarakat dalam proses penelitian dinilai mampu memperluas kapasitas riset sekaligus meningkatkan literasi ilmiah publik.
Direktur RMPI, BRIN, Hendro Subagyo menambahkan, Konferensi Open Indonesia 2026 merupakan tindak lanjut dari Peta Jalan Open Indonesia yang telah disusun bersama berbagai pemangku kepentingan.
Menurut Hendro, konferensi tersebut menjadi forum strategis untuk mempertemukan komunitas, akademisi, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan berbagai pihak lainnya guna membahas tantangan, berbagi praktik baik, serta menyusun strategi bersama dalam memperkuat gerakan keterbukaan di Indonesia.
“Keterbukaan ilmu pengetahuan bukan hanya penting bagi kemajuan riset, tetapi juga menjadi fondasi kolaborasi yang lebih luas. Hasil penelitian bisa dimanfaatkan lebih optimal, inovasi lebih cepat lahir, transparansi meningkat, dan akses masyarakat terhadap pengetahuan semakin terbuka,” katanya. (nas)

















