INDOPOSCO.ID – Program pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi sirkular yang didukung PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (PT BAg) dan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) berhasil mengantarkan Padukuhan Jomblang Tengah, Kalurahan Karangasem, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meraih penghargaan Padukuhan Tangguh Iklim DIY 2026.
Penghargaan tersebut diberikan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang mengusung tema “Act Now for Climate, Saatnya Bekerja untuk Iklim”.
Penghargaan diserahkan di Bangsal Kepatihan Yogyakarta sebagai bentuk apresiasi terhadap komunitas dan pegiat lingkungan yang berkontribusi nyata dalam pelestarian lingkungan dan penguatan ketahanan iklim berbasis masyarakat.
Keberhasilan Padukuhan Jomblang Tengah tidak terlepas dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dijalankan PT BAg bersama PLN EPI Group. Program tersebut berfokus pada pengelolaan sampah organik rumah tangga melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) yang terintegrasi dengan sektor peternakan dan pertanian warga.
Melalui program ini, masyarakat didorong untuk memilah sampah sejak dari rumah. Sampah organik yang terkumpul kemudian dimanfaatkan sebagai pakan maggot BSF. Hasil budidaya maggot digunakan sebagai pakan ternak ayam dan ikan lele, sedangkan residu pengolahannya dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk budidaya sayuran dan tanaman obat keluarga.
Model pengelolaan tersebut menciptakan siklus ekonomi yang berkelanjutan. Selain mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, program ini juga mendukung ketahanan pangan lokal dan membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Kusno Wibowo, menilai keberhasilan masyarakat Karangasem menjadi contoh nyata bagaimana pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi lingkungan dan perekonomian warga.
“Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia bukan sekadar kegiatan tahunan, tetapi momentum untuk memperkuat aksi nyata dalam menghadapi perubahan iklim. Apa yang dilakukan masyarakat Karangasem menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi solusi lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga,” ujarnya.
Ketua Bank Sampah Ngupadi Rejeki, Riyanta, mengatakan penghargaan tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh warga yang secara konsisten menjalankan pola pengelolaan sampah berkelanjutan.
“Penghargaan ini menjadi milik seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi memilah dan mengelola sampah secara berkelanjutan. Melalui pengolahan sampah organik, budidaya maggot, dan pemanfaatan pupuk organik, kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat mampu mengelola lingkungan secara mandiri sekaligus memperoleh manfaat ekonomi,” katanya.
Direktur Utama PT Pelayaran Bahtera Adhiguna, Tri Susanto, turut mengapresiasi capaian yang diraih masyarakat Jomblang Tengah. Menurutnya, penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha mampu menghasilkan dampak yang nyata dan berkelanjutan.
“Kami mengucapkan selamat kepada Bank Sampah Ngupadi Rejeki dan seluruh masyarakat Padukuhan Jomblang Tengah atas penghargaan yang diterima. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha mampu menghasilkan perubahan yang nyata. Kami bangga dapat menjadi bagian dari upaya yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Penghargaan Padukuhan Tangguh Iklim DIY 2026 menjadi pengakuan atas keberhasilan masyarakat dalam menerapkan prinsip ekonomi sirkular yang berdampak langsung terhadap lingkungan dan kehidupan sosial ekonomi warga. Program ini juga menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang dimulai dari tingkat rumah tangga dapat berkembang menjadi gerakan kolektif yang mendukung mitigasi perubahan iklim, ketahanan pangan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Selaras dengan filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, warga Karangasem membuktikan bahwa pelestarian lingkungan dapat diwujudkan melalui gotong royong, inovasi, dan komitmen berkelanjutan. Keberhasilan tersebut sekaligus menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam membangun ketahanan iklim berbasis masyarakat dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten. (rmn)
















