INDOPOSCO.ID – Ketika banyak negara menghadapi tekanan akibat perang tarif, ketegangan geopolitik, hingga fluktuasi harga energi dunia, Indonesia dinilai masih mampu menjaga stabilitas ekonominya. Pemerintah menyebut kombinasi ketahanan sektor energi dan strategi fiskal yang terukur menjadi faktor utama yang menjaga perekonomian nasional tetap berada di jalur positif.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan struktur bauran energi Indonesia memberikan ruang yang lebih besar untuk meredam dampak gejolak global, terutama ketika harga minyak dunia mengalami lonjakan.
“Kita menghasilkan minyak, gas, biodiesel, bioenergi, batubara. Jadi energi mix kita lebih baik sehingga kita masih mempunyai daya tahan yang baik terhadap harga minyak yang meroket di global,” ujar Juda dalam keterangannya, Sabtu (30/5/2026).
Menurut Juda, selain ditopang sektor energi, pemerintah secara konsisten menjalankan tiga strategi fiskal utama guna menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus memastikan stabilitas makro tetap terjaga.
Langkah pertama dilakukan melalui pengelolaan belanja negara yang lebih selektif. Pemerintah tetap mempertahankan berbagai program yang menopang daya beli masyarakat, termasuk menjaga harga bahan bakar bersubsidi melalui dukungan anggaran subsidi yang memadai.
Di sisi lain, sejumlah program dilakukan dengan pendekatan efisiensi, termasuk penyesuaian pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Belanja negara juga diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki dampak langsung terhadap peningkatan produksi dan penciptaan lapangan kerja.
“Itu dari sisi pengeluaran yang kita bisa melakukan pengendalian. Istilahnya refocusing. Kita akan fokus pada pengeluaran yang mendorong demand, yang mendorong supply, mendorong produksi, dan juga mendorong menciptakan kata pekerjaan,” jelas Juda.
Strategi kedua ditempuh melalui penguatan penerimaan negara. Pemerintah memanfaatkan momentum harga komoditas yang masih menguntungkan sekaligus memperkuat basis penerimaan perpajakan melalui implementasi sistem Coretax yang diharapkan meningkatkan efektivitas administrasi dan kepatuhan pajak.
Sementara itu, strategi ketiga menyasar sisi pembiayaan negara. Pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dengan memperluas sumber pembiayaan melalui instrumen utang dalam berbagai mata uang alternatif.
“Sementara itu, strategi fiskal yang ketiga dari sisi pembiayaan. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, strategi pembiayaan diarahkan pada penerbitan surat utang dengan mata uang non-USD dan tingkat bunga kompetitif seperti Samurai bonds berdenominasi mata uang Yen (JPY), Dim Sum bonds dengan mata uang Renminbi, dan Kangoroo bonds dengan mata uang Dolar Australia,” terangnya.
Juda menilai rangkaian kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil yang nyata. Pada kuartal pertama 2026, perekonomian Indonesia tercatat tumbuh 5,61 persen. Capaian tersebut dibarengi dengan inflasi yang tetap terkendali di level 2,42 persen, defisit fiskal sebesar 0,64 persen hingga April 2026, serta kondisi pasar surat utang negara yang masih stabil.
Bagi pemerintah, indikator-indikator tersebut menjadi bukti bahwa arah kebijakan fiskal yang diterapkan mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan negara di tengah situasi global yang penuh tantangan.
“Jadi tiga (strategi) itu sebenarnya indikator pertumbuhan, inflasi, fiskal defisit, dan juga yield SBN ini, menentukan bagaimana fiskal kita masih kuat. Strategi kita yang kita ambil tadi, it works. Dia bekerja dengan baik,” tambahnya.(her)










