INDOPOSCO.ID – Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) mengungkapkan jumlah warga negara Indonesia (WNI) yang diculik tentara Israel dalam kapal perdamaian global di perairan Mediterania Timur pada Senin (18/5/2026) menjadi sembilan orang.
GPCI merupakan gerakan solidaritas kemanusiaan yang membawa sembilan WNI dalam misi Global Sumud Flotilla menuju Gaza, Palestina, melalui perairan internasional Laut Mediterania
“Israel culik sembilan delegasi Indonesia untuk Global Sumud Flotilla di Laut Internasional. Ini merupakan pelanggaran terhadap aksi sipil dalam misi kemanusiaan,” tulis GPCI melalui akun resmi Instagram @globalpeaceconvoy, Rabu (20/5/2026).
Pihaknya meminta pemerintah dan lembaga internasional tidak tinggal diam atas insiden itu, melainkan segera mengambil tindakan nyata untuk membebaskan para aktivis, serta menghentikan penjajahan Israel di tanah Palestina.
“Kami mendesak agar pemerintah dan institusi Internasional memberikan perhatian pada Palestina, bebaskan para aktivis dan hentikan penjajahan israel terhadap Palestina,” ujar GPCI.
Adapun sembilan WNI yang disandera oleh tentara Israel terdiri dari Andi Angga, Bambang Noroyono, Andre Prasetyo, Thoudy Badai, Heru Rahendro, Asad Aras, Hendro Prasetyo, Herman Budiyanto Sudarsono, dan Ronggo Wirasano.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang sempat mengatakan, lima orang dari sembilan WNI diculik tentara Israel di perairan internasional pada Senin (18/5/2026).
“Kementerian Luar Negeri mencatat bahwa berdasarkan informasi per pagi ini, dari total sembilan WNI anggota GPCI yang tergabung dalam misi GSF 2.0, sebanyak lima WNI dilaporkan telah ditangkap oleh militer Israel di sekitar perairan Siprus atau Mediterania Timur,” ungkap Yvonne Mewengkang terpisah dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Sementara empat WNI lainnya yang berada di dua kapal berbeda diketahui masih berlayar di sekitar perairan Siprus. Situasi di lapangan masih sangat dinamis.
“Keempat WNI yang masih berlayar tersebut, tetap berada dalam kondisi rawan dan sewaktu-waktu juga dapat mengalami intersepsi atau penangkapan oleh militer Israel,” imbuh Yvonne Mewengkang. (dan)










