• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Langit Sumur

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Sabtu, 2 Mei 2026 - 08:00
in Disway
disway

disway

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Jalan tol ke IKN sudah bisa dilewati: di hari raya Idulfitri yang lalu. Lantas ditutup lagi. Belum sepenuhnya selesai. Masih ada beberapa ruas yang masih berupa tanah bukit.

Saya memang baru sempat beridulfitri ke kampung istri di Kaltim Selasa lalu: boleh melewatinya. Dari bandara Sepinggan, Balikpapan, saya lebih dulu lewat jalan lama ke arah Manggar. Di sana ada mulut tol Balikpapan–Samarinda.

BacaJuga:

Orang Kuat

Listrik Kereta

Buku Kriminalisasi

Sebelum mulut tol itu seharusnya saya mampir ke sebuah rumah baru yang setengah tahun terakhir mendadak terkenal: Rumah Singgah Harum.

Harum sendiri singkatan dari Haji Rudy Mas’ud.

Kata Harum dipopulerkan sejak menjelang pileg lebih 10 tahun lalu. Yakni ketika Harum mencalonkan diri sebagai anggota DPR. Nama Harum terus dikibarkan menjelang Pilgub Kaltim: terpilih (Lihat Disway: Orang Kuat).

Nama rumah itu, di internet, disebut Harum Resort. Anda bisa bermalam di sana. Harum sendiri sering menerima tamu VIP di rumah singgahnya itu.

Harum orang sangat kaya. Kalau membangun bisa cepat. Biar pun mulai dibangun setelah dilantik sebagai gubernur Kaltim, kini sudah jadi. Arsitekturnya menarik. Halaman belakangnya yang luas terasa lebih luas karena gandeng dengan laut.

Saya tidak jadi singgah di Rumah Singgah. Saya buru-buru masuk mulut tol arah Samarinda.

Di kilometer 11 ada exit untuk ke jalan umum menuju kawasan industri lama –yang belum banyak pabriknya. Tidak sampai lima kilometer dari exit terlihat jalan tol yang belum selesai. Mobil kami dapat izin khusus masuk tol lewat akses sudetan.

Jalan tol ini unik: ada dua jembatan melintang yang di atasnya ditumbuhi rumput yang lebat.

“Itu jembatan penyeberangan satwa,” ujar Rizal Effendy yang menemani saya.

Anda sudah tahu siapa Rizal. Ia wali kota Balilpapan dua periode yang sangat populer. Sebelum itu Rizal menjabat wakil wali kota –sebelumnya lagi pemimpin redaksi Kaltim Post.

Saya pun melihat kanan-kiri tol. Memang masih hutan. Di kawasan itu program penyelamatan orang utan dilakukan. Anda sudah tahu proyek itu: dimulai di zaman Orde Baru. Selain orang utan, juga ada satwa endemik Kalimantan lainnya: rusa, beruang madu, bekantan, dan macan dahan.

Sampai melewati kolong jembatan satwa kedua saya tidak melihat ada orang utan yang menyeberang jembatan. Mungkin karena saya lewat di situ di saat jam makan siang.

Setelah jembatan satwa jalan tol sampai ke jembatan panjang. Kembar. Indah. Terlihat dari jauh. Saya ingin memotret jembatan itu. Tunggu. Biar posisi mobil lebih dekat jembatan.

Ups….tidak bisa memotret. Terhalang bangunan loket tol. Sudah pasti: loket tol itu seharusnya tidak boleh dibangun di situ. Kasihan indahnya arsitektur jembatan. Itulah jembatan Sungai Balang.

Sebetulnya itu bukan sungai. Itu teluk yang amat dalam: Teluk Balikpapan. Memang ada sungai pendek di ‘tenggorokan’ teluk itu: sungai Balang. Tapi saya pilih menyebut air di bawah jembatan itu tenggorokannya Teluk Balikpapan.

Tidak jauh dari jembatan itu kami harus keluar tol. Di depan sana jalan tolnya belum dibangun. Kami pun kembali ke jalan raya yang lama. IKN tidak terlalu jauh dari situ: setengah jam lagi kami sampai.

“Di mana pohon yang pernah minum air seni saya dulu?”

“Kawasan itu sudah jadi gedung kantor pusat otorita IKN,” ujar Rizal yang kala itu juga menemani saya ke IKN.

Dari jauh memang terlihat bangunan modern di puncak gundukan bukit. Di situlah Ketua Otorita IKN Basuki Hadimuljono, berkantor.

“Kita lihat istana dulu, makan siang dulu, atau ke masjid dulu?” tanya saya.

“Ke masjid,” jawab Rizal.

Maka di persimpangan sebelum kantor pusat itu kami belok kanan. Jalannya bagus. Dua jalur dua lajur. Mulus. Kanan kiri jalan masih gersang.

Tak lama kemudian terlihatlah Masjid Negara. Menaranya satu: lambang keesaan. Juga lambang penghematan.

Kami salat duhur. Di lantai satu. Masjidnya sendiri di lantai tiga. Masjid ini seperti jalan tol: dibuka saat Idulfitri, ditutup lagi setelahnya.

“Waktu Idulfitri saya salat di masjid ini,” ujar Rizal.

“Berangkat dari Balikpapan jam berapa?”

“Jam empat pagi,” jawabnya.

Resminya Masjid Negara itu berkapasitas 60.000 orang. Sedikit di bawah Istiqlal Jakarta. Tapi saya tidak percaya itu. Rasanya maksimal hanya bisa untuk salat 6.000 orang. Entah kelak –kalau, misalnya, diperluas.

Lantaran masjid di lantai tiga masih diperbaiki, kami salat duhur di lantai dasar. Karpet dan mihrabnya dibuat seperti masjid permanen. Padahal lantai dasar itu awalnya untuk ruang serbaguna –misalnya untuk kawinan atau seminar besar.

Rasanya perbaikan masjid ini memakan waktu lama. Perkiraan saya sendiri akan memakan waktu dua tahun: kalau hasilnya mau bagus. Perbaikannya pun harus total. Utamanya finishingnya. Agar tidak lagi kasar seperti bangunan asal-asalan.

Pun tempat wudunya. Sangat tidak mencerminkan Masjid Negara.

Tempat wudunya jangan dibandingkan dengan Masjid Jokowi di Solo –yang dibangun dengan dana dari Sultan Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ), presiden Uni Emirat Arab.

Jaraknya langit dan bumi –mungkin lebih jauh lagi: langit dan sumur.

Apalagi kalau dibandingkan dengan Masjid Al Jabbar di Jabar –tepatnya di Bandung. Kalah jauh. Jangan-jangan kalah juga dibanding Masjid Raya di Islamic Center Samarinda.

Mungkin setelah perbaikan kelak akan berubah total. Mungkin juga tidak. Dengan begini saja sudah banyak pengunjung yang puas –karena mungkin belum pernah melihat Masjid Jokowi di Solo.

“Sebagai orang yang merancang masjid itu apakah Anda tidak ikut mengawasi finishing-nya?,” tanya saya pada Nyoman Nuarta, arsitek yang juga memenangkan desain Istana Garuda IKN.

“Parah,” jawab Nyoman Nuarta. Rupanya ia juga sangat tidak.puas. “Saya tidak ikut mengawasi,” tambahnya.

Sebenarnya ini salah saya: mengapa ke IKN sekarang. Tidak, misalnya, tiga tahun lagi, setelah perbaikan dilakukan.

Setelah salat duhur saya disapa lima anak muda bersorban rapi dan bersih. Mereka adalah imam dan khotib Masjid Negara. Ada yang dari Istiqlal Jakarta, ada juga yang dari Balikpapan dan Makassar. Mereka lolos seleksi yang dilakukan di Istiqlal.

“Itu bangunan apa?” tanya saya saat melihat-lihat belakang masjid.

“Itu gereja Katolik,” ujar seorang petugas masjid. Tidak ada yang istimewa. “Tapi kalau dilihat dari atas berbentuk salib,” katanya.

Gereja ini juga baru sekali dipakai misa –dalam rangkaian Paskah kemarin.

Kelak akan dibangun juga gereja Protestan, vihara Buddha, klenteng Konghucu, dan pura Hindu. Semua di satu kawasan seluas 36 hektare ini.

Masjid Negara kelihatannya dikerjakan dengan cara ”kejar tayang”. Tapi salat di situ atau di masjid MBZ maupun di Masjid Al Jabbar sebenarnya sama saja: sama-sama jauh dari langit.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 1 Mei 2026: Orang Kuat

xiaomi fiveplus

ini kemarin blionya klarifikasi soal anggaran kursi pijat di rumah dinas gubernur yang harganya 125 juta. kata blio, mungkin staf yang bikin anggaran merasa kasihan, karena lihat pak gubernur sering nyetir sendiri. pasti capek. lha tibak e seneng nyetir dewe mergo mobil e uapik dan luarang.

Kak Idam

Antrian truk, bus dan kendaraan ber-bbm solar lainnya juga terjadi di Sumatra Barat. Kalau ada SPBU yang sepi dari antrian, itu terasa aneh. Cucu saya yang kelas dua Mts bilang, “kok tumben sepi”.

Jokosp Sp

Pak DI ngitung sejarah antrian bbm solar itu dari dua tahun yang lalu. Apa lupa dengan kehidupan puluhan tahun yang lalu di Balikpapan dan Samarinda?. Jauh sedikit ke arah tengah, barat, utara atau ke selatan kenapa juga?. Banjarmasin dan seluruh Kal Sel 35 tahun kami alami antrian pom bensin itu, hingga hari ini. Kab.Tabalong ini sumur minyaknya banyak di sini, dipompa ke Pertamina Balikpapan lewat pipa ratusan kilo meter. Namun ketika ngomong pertalit, dan solar yang bersubsidi buat rakyat jelantah, dalam hitungan menit beberapa pom sudah habis. Anehnya di jarak tdak sampai 1 km dieceran banyak dengan harga sudah dinaikkan dari 3.000-5.000 rupiah. Pertanyaannya: ini negara apa?. Ndak usah nanya kalau masalah banyaknya aturan. Yang perlu ditanya pengawasannya kenapa tidak jalan dan tegas?. Semua pasti tahu jawabannya: kkn

Ima Lawaru

Copas CHDI April 2026 seleasi per 01/05/2026. Pukul 05:15 Wita. Tidak terasa…2 tahun 9 bulan lagi. Atau kurleb 33 bulan lagi kita akan pemilu. Saya ingat yang pernah diceritakan Abah dulu, di India, seorang pria salah coblos, lalu ia menyesal, jarinya…bekas coblos tinta itu, ia potong. Rakyat Indonesia, ada kurleb 287 juta jiwa. Jumlah DPT pada 2024 = 204,8 juta jiwa. Seandainya mayoritas jumlah pemilihnya ini melek teknologi. Sebenar-benarnya menggunakan seluruh perangkat teknologi yang ia punya untuk menelusuri jejak hitam putih calon pemimpin kita….SEBELUM MENENTUKAN PILIHAN, maka 2029 membawa harapan baik. Di SD, siswa-siswi kami, kami ajarkan untuk merawat pohon, jangan menebang pohon sembarangan, mencintai lingkungan. Tapi di atas sana, pemerintah memberi contoh terbalik. Analogi sederhana, kami mengajari anak-anak membangun rumah dengan baik. Rumah itu terbangun. Tapi kemudian rumah itu dihancurkan sendiri oleh orang yang mereka percayai. Besok Hari Pendidikan. Semoga pendidikan Indonesia, ada harapan untuk berubah.

xiaomi fiveplus

ini kemarin blionya klarifikasi soal anggaran kursi pijat di rumah dinas gubernur yang harganya 125 juta. kata blio, mungkin staf yang bikin anggaran merasa kasihan, karena lihat pak gubernur sering nyetir sendiri. pasti capek. lha tibak e seneng nyetir dewe mergo mobil e uapik dan luarang.

Sugi

Ironis ya Bah ayam mati di lumbung. Para pemimpin di sana mestinya segera bertindak begitu selesai membaca artikel ini, kalau suka membaca. Rakyat kita memang ahli sabar semuanya. Semoga kesabaran yang aktif mendatangkan perubahan yang berdampak lebih baik. Jangan sampai kisah kelangkaan BBM di Kaltim jadi seri berjilid-jilid di sini. aamiin paling kenceng.

Thamrin Dahlan YPTD

Selamat Hari Buruh 1 Mei 2026. Mohon maaf jangan sampai kosa kata Buruh di bolak balik menjadi Rubuh. Apakah selalu begitu terus menerus demonstrasi membela nasib namun kesejahteraan seperti jauh panggang dari api.Menurut hemat awak defenisi Buruh begini ” hakekatmya kita semua adalah buruh selama makan gaji. Pengusaha bukan buruh entah posisi pemerintah. Mohon re – defenisi Buruh menurut sobat Perusuh Hidup Buruh Indonesia. Salamsalaman Jumat Pagi 1 Mei 2026.Barokah . Aamiin

Bahtiar HS

Ternyata saya masih kalah dengan gubernur Rudy Mas’ud. Dia punya 17. Saya cuman 10. Tapi setidaknya ibunya anak2 saya meski bukan seorang Syarifah, beliau seorang yg shalihah dengan 7i. Di mata saya. Meski bukan ‘Marilyn Moenroe’, istri saya ternyata diam2 ada darah keturunan Syam (Syampang), yg letaknya antara Belgia (Blega) dan Mekah itu (Mekahsen / Pamekasan) hehehe. Tapi keduanya punya kesamaan: jika lihat emas berlian intan permata zamrud khatulistiwa, matanya langsung menyala!

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

APA MERK MOBIL DINAS GUBERNUR KALTIM..? Mobil dinas itu bermerek Land Rover Range Rover Autobiography LWB PHEV P460e. Harganya sekitar Rp 8,5 miliar. Bukan angka yang lewat begitu saja. Ini kelas “wow”, bukan sekadar “wow, bisa jalan”. Speknya mewah. Mesin 3.0 liter, dipadu sistem plug-in hybrid. Tenaga besar, tapi tetap bisa irit—kalau tidak sering diajak “unjuk gigi”. Interiornya senyap. Fitur lengkap. Suspensi pintar. Duduk di dalamnya, jalan rusak pun terasa seperti sedikit lupa diri. Kemampuannya? Ini bukan SUV kaleng-kaleng. Bisa diajak menaklukkan medan berat: lumpur, jalan tambang, tanjakan curam. Ground clearance tinggi, sistem penggerak 4 roda cerdas. Tapi di saat yang sama, dia juga cocok parkir di depan hotel bintang lima. Tidak canggung. Bahkan mungkin lebih percaya diri dari yang turun dari dalamnya. Singkatnya: 1) Kuat di medan, 2) Halus di jalan, 3) Mewah di tampilan. Kombinasi yang jarang salah. Kecuali satu: kalau parkirnya di hati publik, kadang jalannya jadi tidak semulus suspensinya.

Taufik Hidayat

Wah cerita Abah DI sekarang menyebrang ke IKN Samarinda dan juga Balikpapan. Juga cerita tentang orang kuat di sana. Jadi inga juga tentang orang kuat dari keluarga kuat di Banten… He he . Tapi lebih bak cerita tentang Kalimantan Timur . Sejak awal 2000an saya cukup sering ke sana dan kalau terbang tentunya ke Balikpapan yang nama bandara nya Sepinggan. Sehabis mendarat saya pasti diajak makan kepiting di resto dekat bandara ah namanya saya lupa tapi bernuansa Hawaii gitu. Dulu waktu muda bisa makan kepiting beberpa ekor sekaligus loh sehingga ketika cek kolesterol bisa 500 dan kemudian dimarahin dokter . Bandara Sepinggan yang lama cukup cantik dan bahkan sering dapat pujian dari kolega saya yang dari Singapura. Dari Silk Air anak perusahaan SQ yang menjadi salah dua maskapai asing yang mampir ke BPN. Satu lagi adalah BI atau Royal Brunei . Tahun 2014 bandara ata terminal baru yang megah diresmikan oleh SBY. Namanya pun diganti jadi Sultan Aji Muhammad’a Sulaiman . Wah megah sekali untuk ukuran bandara di Kalimantan . Bandar Brunei atau Kuching atau KK atau Labuan jelas kalah. Dan saya beruntung sempat hadir ketika terminal baru diresmikan . Tapi Balikpapan memang menyerangnya. Selain itu tentu saja ketika jalan jalan ke Samarinda atau Tenggarong. Menyeberangi sungai Mahakam atau melihat megahnya jembatan di Kutai Kertanegara yang kemudian runtuh? Tapi memang saat itu belum ada IKN. Dan setiap ke Balik Papan oleh olehnya malah Kuku Macan?

Leong Putu

Penasaran dengan nasib pohon yang dikencingi Pak Bos lebih dua tahun lalu itu. Apakah pohonnya jadi kering? Atau malah subur hijau royo-royo?

Irary Sadar

Orang kuat yang tidak punya sense of crisis. Kuat dalam lingkaran kekeluargaan, bukan karena ada dipihak warga hingga do demo karena wacana renovasi rudin Dan mobdin…

xiaomi fiveplus

satire sekali tulisan hari ini. itu gubernur yang renovasi rumah dinas em em an, lalu bikin klarifikasi kursi pijat 125 juta kemarin itu kan ya? ????

Mujiburohman Abas

Abah DI salah tulis lagi. Jarak Tenggarong – IKN memang jauh kok: 150 Km. Mungkin kalau yang dimaksud Abah adalah jarak Tenggarong – Samarinda, memang betul sekitar 30 Km.

Prieyanto

Abah ayas ralat ; Kakak satunya yang ditangkap KPK adalah bupati Penajam Paser Utara (PPU), yang merupakan hasil pemekaran kab. Paser.

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

APA BENAR, BPJS DI KALTIM GRATIS? Jawabannya: ya. Tapi jangan dibayangkan seperti prasmanan hotel bintang lima. Ini lebih mirip warteg sehat—cukup, layak, dan ditanggung negara. Lewat program “Gratispol”, warga ber-KTP Kaltim bisa berobat tanpa keluar uang. Iurannya dibayar pemerintah melalui BPJS Kesehatan. Ini langkah besar. Terutama bagi yang sebelumnya menunggak, atau bahkan belum terdaftar. Tapi ada catatan kecil. Yang sering kelewat. Layanannya umumnya kelas 3. Prioritasnya warga yang paling butuh. Jadi jangan berharap kamar VIP dengan pemandangan dan menu pilihan. Sistemnya tetap BPJS. 1) Ada aturan. 2) Ada antrean. 3) Ada prosedur. Program ini sudah jalan. 4) Bertahap. 5) Diperluas. 6) Ribuan warga sudah merasakan. Dan bagi mereka, ini bukan soal kelas. Ini soal bisa berobat tanpa takut biaya. Di situ letak nilainya. Tidak sempurna. Tapi nyata.

Liáng – βιολί ζήτα

Oom Mario Handoko, Dugaan saya sih….. klasifikasi “pelanggaran” Xiào hóng (肖弘) dan Jí Yīchāo (吉一超) di mata Pemerintah Tiongkok, konsekuensinya bukan “Láogǎi” tetapi “Láojiào” – seperti halnya yang dialami oleh Jack Ma (马云 Mǎ Yún). Láogǎi (劳改) —> 劳动改造 (Láodòng Gǎizào) Láojiào (劳教) —> 劳动教养 (Láodòng Jiàoyǎng) Lantas, apa bedanya Láogǎi (劳改) dan Láojiào (劳教) ?? Silakan ditelusuri saja di Baidu Encyclopedia (百度百科 Bǎidù Bǎikē).

Liam Then

Dari beberapa fakta kasar tentang potensi proyek food estate di Kalimantan dan Papua. Jadi kepikiran, kenapa tidak galakan di Jawa dan Di Sumatera yang populasinya lebih /sudah pintar tanam padi dari dulu? Tanahnya juga cenderung sangat cocok, infrastruktur irigasinya juga sudah terbangun khususnya di Jawa. Di Papua kayaknya belum ada pabrik pupuk ya? Apakah ada kebijakan istimewa, pupuk langsung dikirim dari luar negeri ke pelabuhan Papua, agar tak terjadi dua kali kirim ( misal pabrik pupuk yang ada di Jawa, masih pakai bahan baku impor) Belakangan, nilai rupiah semakin melorot. Apakah ini sebab eksternal atau internal? Jika modal dipakai jor-joran untuk sesuatu yang dianggap kurang cepat hasilkan impact, apakah memang bisa timbulkan sentimen umum yang sebabkan nilai rupiah melorot? Ah saya tak tahu, karena bukan ekonom.

Gregorius Indiarto

“Pun sebagai laki-laki ia sangat kuat: anaknya 17 orang –hanya empat yang tidak berumur panjang”. Wow, benar-benar hebat. Tapi, seandainya 17 anak itu dari satu istri, satu wanita, maka, sebenarnya yang paling kuat, paling hebat adalah istrinya.. Laki laki, cukup hanya 5 menit x 17, bisa jadi sudah jadi, selesai. Sementara wanita, bayangkan, beban yang harus ditanggung, 17 x 9 bulan 10 hari, + 17 x 5 menit. Luar biasa bukan? Jadi, dalam hal tersebut di CHD, wanita jauh lebih hebat dari laki-laki. Jauh sangat. Met siang, salam sehat, damai dan bahagia.

HONDA CBR150R

Bukan cuma Kaltim yang antre bbm solar, Kalbar tiap hari juga begitu, sudah dari puluhan tahun lalu. Abah coba ke Kalbar, lalu pergi lihat Jembatan Sungai Sambas Besar yang diresmikan Prabowo bulan Nov 2025, coba hitung berapa spbu yang pada antri solar. Sekalian beli jeruk madu siam di Tebas yang rasanya seperti campuran antara jeruk mandarin dan jeruk lokal atau beli jeruk madu susu yang ada pentilnya.

Ibnu Shonnan

Akhir-akhir ini saya menyadari, bahwa provokasi Abah semakin meluas. Tidak hanya dalam hal pandangan politik, ekonomi, pendidikan, ataupun dalam memahami agama. Tapi dalam hal menilai fisik kaum Hawa. Saat Abah menyebutnya dengan 5-i atau 7-i. Menjadikan diri ini penasaran pada sosok itu. Seperti hari ini, awalnya saya tidak kenal ataupun ingin mengenal sosok isteri gubernur Kaltim ini. Tetapi saat Abah menyebutnya 7-i. Akun IG-nya pun saya cari. Penasaran dengan sosok ini. Adakah juga pembaca lain seperti saya ini? Hehe

Liam Then

Ada benernya juga Bang GI ini. Kok Pak Bos tiba-tiba tahu selera saya…? Wkkwkwkwk

Gregorius Indiarto

“Hemmm. Kalau saja dia bukan istri gubernur yang kaya Anda pun akan rela bertaruh nyawa untuk merebutnyi”. Kalau kata”Anda” ditujukan ke saya, maka akan saya jawab, “Emang gue laki apaan, merebut bini orang!!!”

Leong Putu

Pak Bos lupa, katanya yang menyertai saat diakhirat nanti hanya dua perkara : amal baik dan doa anak yg sholeh. Harusnya anak jangan cuma dua! Empat atau lima gitu, biar makin banyak yang mendoakan… Kesempatan masih ada. Cemungut, Pak Bos! #Wani_mindo

Gregorius Indiarto

Orang kaya memang seleranya tinggi. Terbukti dari anggaran mobil dinas yang lebih 8 M, dan renovasi rumah dinas, yang 25 M. Dan saya yakin, ketika pensiun, kelak, Si orang kaya ingin setiap anaknya juga menjadi orang kaya, tidak hanya 1/14 kekayaan orang tuanya saat ini.

heru santoso

Sambil menerima kembalian selembar lima ribuan, saya iseng bertanya ke Kang Parmin, tukang selep gabah keliling: “Harga tidak naik ya, Kang?” “Tidak, Mas,” jawabnya singkat. Saya coba gali dengan pertanyaan lanjutan: “Kalau solar naik dua kali lipat seperti negara tetangga gimana? Ini kan harga minyak dunia lagi melonjak gara-gara blokade selat Hormuz” Kang Parmin menatap sebentar, lalu mlengos. Barangkali pertanyaan saya yang salah. Terdengar seperti siaran berita yang nyasar ke pematang sawah. Di kampung saya tidak peduli atas situasi geopolitik dan geoekonomi yang dipidatokan presiden dan ramai di TV berita. Rakyat tahunya solar tidak naik, upah jasa selep gabah tetap 15ribu per karung. Biarlah Pak menteri pidato di TV bahwa inflasi terjaga tanpa harus menjelaskan tekanan APBN karena subsidi BBM. Mesin diesel odong-odong meraung santai, tak peduli grafik harga minyak global. Tiga karung gabah saya berubah jadi beras untuk yasinan dan tahlilan Ibu saya yang baru wafat kemarin sore. Semoga husnul khotimah

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Orang Kuat

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:00
disway
Disway

Listrik Kereta

Kamis, 30 April 2026 - 08:00
disway
Disway

Buku Kriminalisasi

Rabu, 29 April 2026 - 08:00
disway
Disway

Guru Bimbel

Selasa, 28 April 2026 - 08:00
disway
Disway

Helm Anak

Senin, 27 April 2026 - 08:00
disway
Disway

Fisika Arco

Minggu, 26 April 2026 - 08:00

BERITA POPULER

  • Buruh Sebut MBG Tidak Bermanfaat saat May Day, Prabowo Auto Respons Begini

    Buruh Sebut MBG Tidak Bermanfaat saat May Day, Prabowo Auto Respons Begini

    3272 shares
    Share 1309 Tweet 818
  • Breaking News: KRL Tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi, Jalur Lumpuh Total

    2562 shares
    Share 1025 Tweet 641
  • PSIM vs Persita: Ambisi Revans Laskar Mataram Digoyang Kendala Internal

    1581 shares
    Share 632 Tweet 395
  • Buruh dan Petani Pilih Aksi di DPR Ketimbang Monas demi Suarakan Kesejahteraan

    1236 shares
    Share 494 Tweet 309
  • Klaim Bukan Terpidana, Menteri LH Jumhur Hidayat Sebut Status Hukumnya ‘Ngambang’

    1030 shares
    Share 412 Tweet 258
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.