INDOPOSCO.ID – Upaya meningkatkan literasi kesehatan masyarakat kembali diperkuat melalui program edukasi bertajuk “Memahami HPV pada Anak Laki-Laki: Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Generasi Masa Depan” yang diselenggarakan oleh MSD Indonesia bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Selasa (21/4/2026).
Program ini merupakan bagian dari “Kelas Jurnalis 2026” yang menyoroti fakta bahwa infeksi Human Papillomavirus (HPV) tidak hanya berdampak pada perempuan, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi laki-laki.
Data global menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 3 laki-laki berusia di atas 15 tahun telah terinfeksi setidaknya satu jenis HPV. Bahkan, laki-laki berkontribusi terhadap sekitar 40 persen kasus kanker terkait HPV di dunia, termasuk kanker tenggorokan, anus, dan penis.
Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Andi Saguni, menegaskan bahwa selama ini narasi HPV terlalu berfokus pada perempuan, khususnya kanker serviks.
“HPV tidak mengenal gender. Keberhasilan program imunisasi pada anak perempuan yang telah mencapai lebih dari 91 persen merupakan fondasi penting, namun literasi publik perlu diperluas agar perlindungan juga mencakup anak laki-laki,” ujarnya.
Sementara itu, Managing Director MSD Indonesia, George Stylianou, menekankan pentingnya pendekatan inklusif dalam pencegahan penyakit.
“Melalui prinsip health equity, kami ingin memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam mendapatkan perlindungan kesehatan,” katanya.
Dari sisi medis, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia, Hanny Nilasari, menjelaskan adanya “beban tersembunyi” HPV pada laki-laki yang kerap luput dari perhatian.
Menurutnya, selain menyebabkan kutil kelamin, HPV juga dapat memicu kanker penis hingga kanker orofaring. Risiko kanker orofaring pada laki-laki bahkan dilaporkan hingga empat kali lebih tinggi dibanding perempuan.
“Laki-laki juga cenderung tidak membentuk kekebalan alami yang kuat setelah terinfeksi HPV, sehingga risiko infeksi persisten lebih besar,” jelasnya.
Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Hartono Gunardi, menambahkan pencegahan paling efektif dilakukan sejak usia dini, khususnya pada rentang usia 9-13 tahun.
“Sistem imun anak merespons paling optimal pada usia tersebut. Imunisasi HPV sejak sekolah dasar menjadi langkah penting untuk perlindungan jangka panjang,” ucapnya.
Hartono juga menekankan pentingnya pendekatan pencegahan secara holistik, mulai dari imunisasi, edukasi kesehatan, hingga kebiasaan hidup bersih dan sehat.
Melalui kegiatan ini, para pemangku kepentingan berharap masyarakat semakin memahami bahwa perlindungan terhadap HPV harus diberikan secara menyeluruh, baik kepada anak perempuan maupun laki-laki, demi menekan risiko kanker di masa depan.(srv)










