INDOPOSCO.ID – Langkah terstruktur dan konsisten mulai menunjukkan hasil. Di tengah tantangan fluktuasi harga, Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus mengakselerasi berbagai intervensi untuk memastikan stabilitas pangan tetap terjaga di seluruh penjuru negeri.
Sejumlah program strategis digulirkan secara paralel. Penyaluran beras SPHP telah menembus 98 ribu ton, sementara Gerakan Pangan Murah (GPM) digelar sebanyak 3.816 kali di 36 provinsi dan 341 kabupaten/kota. Tak hanya itu, bantuan pangan juga menjangkau masyarakat melalui distribusi 56,2 juta kilogram (kg) beras dan 11,2 juta liter minyak goreng kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Upaya ini bukan sekadar angka di atas kertas. Dampaknya mulai terasa pada pergerakan inflasi yang menunjukkan tren lebih terkendali. Inflasi bulanan Maret tercatat lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, dan stabilitas tersebut terus berlanjut hingga April.
Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, menekankan pentingnya intensitas intervensi di tingkat daerah sebagai kunci pengendalian harga.
“GPM menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas harga. Kami terus mendorong peningkatan pelaksanaan GPM di seluruh wilayah agar manfaatnya dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat. Terutama daerah-daerah yang realisasi GPM-nya masih relatif rendah,” terang Andriko dalam keterangannya seperti dikutip, Selasa (14/4/2026).
Ia menerangkan, dinamika harga di daerah sangat dipengaruhi oleh kekuatan pasokan serta efektivitas intervensi. Wilayah dengan pelaksanaan GPM yang terbatas cenderung lebih rentan terhadap gejolak harga, terutama untuk komoditas sensitif seperti cabai, bawang merah, telur, dan daging ayam.
Melalui GPM, tekanan harga pada komoditas tersebut berhasil diredam, menjaga daya beli masyarakat tetap stabil.
Di sisi lain, kondisi ketersediaan pangan nasional disebut berada dalam posisi yang sangat kuat. Andriko memastikan tidak ada kekhawatiran terkait pasokan komoditas utama.
“Pangan kita dalam kondisi baik, bahkan kalau kita mau sebut kondisi kita sangat baik. Pangan kita cukup dan hari ini kita tidak impor terkait dengan beras, jagung, bawang merah, cabai besar, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, gula konsumsi,” terangnya.
Pengawasan distribusi juga diperketat melalui Satuan Tugas Sapu Bersih (Satgas Saber) Pelanggaran Pangan. “Jadi, per minggu pertama April kita sudah melakukan pengawasan di 77.629 titik di seluruh Indonesia,” tambahnya.
Dari sisi indikator, Indeks Perkembangan Harga (IPH) hingga minggu kedua April menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Sebanyak 22 provinsi mengalami kenaikan, sementara 16 provinsi lainnya mencatat penurunan. Di tingkat kabupaten/kota, jumlah wilayah yang mengalami kenaikan IPH turun menjadi 149, dari sebelumnya 160 wilayah.
Khusus untuk komoditas cabai merah, pergerakan harga masih terkendali dan berada dalam rentang Harga Acuan Penjualan (HAP), yakni Rp37.000 hingga Rp55.000 per kg.
Dengan kombinasi intervensi yang semakin luas dan pengawasan yang ketat, sinyal positif dari sektor pangan semakin menguat, menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. (her)









