INDOPOSCO.ID – Atmosfer Piala AFF Futsal 2026 di Nonthaburi Hall, Bangkok, menyisakan satu rasa yang sulit dijelaskan bagi Timnas Futsal Indonesia: antara kecewa dan bangga. Harapan untuk mempertahankan gelar harus pupus, tetapi cara tim ini bertarung justru menegaskan sesuatu yang lebih besar arah baru yang sedang dibangun.
Indonesia sempat membuka cerita dengan sempurna. Gol dari Andres Dwi Persada Putra pada menit ke-16 membawa keunggulan dan kepercayaan diri. Namun, pengalaman Thailand berbicara di momen krusial. Pelanggaran keenam Indonesia berbuah titik kedua, dan Itticha Praphaphan dengan dingin menyamakan skor di detik terakhir babak pertama.
Momentum berbalik. Tendangan keras Panat Kittipanuwong memastikan Thailand unggul 2-1 skor yang bertahan hingga akhir laga sekaligus mengantar mereka meraih gelar ke-17 sepanjang sejarah turnamen.
Di balik kekalahan itu, pelatih Hector Souto justru melihat sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar trofi.
“Gelar runner-up ini terasa seperti kemajuan seperti gambaran masa depan, seperti Indonesia yang terus berkembang. Ini bukan sekadar tentang hasil, melainkan tentang membangun sesuatu yang mampu bertahan lama,” kata Souto dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Senin (13/4/2026).
“Kami berkembang dari pertandingan ke pertandingan, hingga akhirnya bersaing di final melawan Thailand, tim berpengalaman dengan enam pemain dari Piala Dunia terakhir dan satu pemain yang berlaga di liga Spanyol. Namun, kami melakukan sesuatu yang berbeda,” sambungnya.
Lebih dari sekadar strategi, Souto menekankan filosofi. Sebuah pendekatan yang tidak terjebak pada hasil instan, tetapi fokus pada identitas dan keberlanjutan tim.
“Kami membangun tim untuk memberi kesempatan, tanpa terobsesi pada hasil, tetapi dengan tuntutan yang jelas: tetap kompetitif dan menunjukkan identitas kami. Dan tim merespons dengan luar biasa, menunjukkan keseriusan, komitmen, kepribadian, dan ambisi. Ini bukan kebetulan, ini adalah proses pertumbuhan. Ini adalah masa depan,” jelasnya.
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Indonesia kini memiliki kedalaman skuad yang lebih luas sekitar 30 pemain berada dalam radar tim nasional, menciptakan kompetisi internal yang semakin sehat.
“Saya sangat bangga kepada para pemain, staf, serta federasi yang berani bertaruh pada pengembangan futsal nasional, bahkan di turnamen penting. Kini, kami memiliki sekitar 30 pemain dalam lingkungan tim nasional yang siap bersaing untuk satu tempat, lebih banyak kompetisi, lebih banyak kualitas, dan tentu saja lebih banyak harapan untuk masa depan,” ungkap Souto.
Meski gagal mempertahankan gelar yang diraih pada edisi 2024, Indonesia justru meninggalkan pesan kuat: proses sedang berjalan, dan fondasi sedang dibangun.
“Indonesia sedang berkembang. Indonesia sedang bersaing. Indonesia sedang membangun identitasnya. Gelar runner-up ini adalah sebuah sinyal bahwa kami berada di arah yang benar. Dan ini… baru saja dimulai, teman-teman. Saya berjanji akan memberikan segalanya untuk perjalanan ini,” tambahnya.
Kekalahan ini mungkin menutup satu bab, tetapi bagi Indonesia, ini terasa seperti pembuka cerita yang lebih besar. (her)










