• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Risiko Global Mengintai, Industri Tambang Peringatkan Dampak Pemangkasan Produksi

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Sabtu, 11 April 2026 - 09:21
in Ekonomi
Suasana diskusi bertajuk "Peran RKAB dan Peningkatan Produksi Dalam Strategi Menyikapi Tantangan Global", yang digelar Energy and Mining Editor Society (E2S) di Jakarta, Rabu (8/4/2026). Foto: E2S

Suasana diskusi bertajuk "Peran RKAB dan Peningkatan Produksi Dalam Strategi Menyikapi Tantangan Global", yang digelar Energy and Mining Editor Society (E2S) di Jakarta, Rabu (8/4/2026). Foto: E2S

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Industri pertambangan nasional kini berada dalam situasi yang tidak mudah. Di satu sisi, dunia dilanda ketidakpastian geopolitik akibat perang dan krisis rantai pasok global. Di sisi lain, pelaku usaha tambang di dalam negeri justru dihadapkan pada kebijakan pengendalian produksi melalui skema Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang makin ketat.

Kombinasi dua tekanan ini membuat sektor mineral dan batu bara (minerba) berada di persimpangan krusial: antara menjaga stabilitas harga komoditas atau memastikan roda ekonomi daerah tambang tetap berputar.

BacaJuga:

Monetisasi Sengeti Jadi Titik Balik Pengembangan Gas Bumi di Jambi

Kepemimpinan Visioner Edwin Bangun Antar PLN Energi Gas Raih Pengakuan Nasional

AMMAN Tuntaskan Smelter Tembaga Terintegrasi, Siap Dongkrak Nilai Tambah Mineral Nasional

Sekretaris Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Siti Sumilah Rita Susilawati, mengakui kondisi global saat ini sangat tidak stabil dan sulit diprediksi.

“Kita berada di dunia yang ritmenya sudah tidak jelas lagi. Yang jelas tidak stabil,” ujarnya dalam diskusi bertajuk “Peran RKAB dan Peningkatan Produksi Dalam Strategi Menyikapi Tantangan Global”, yang digelar Energy and Mining Editor Society (E2S) di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Menurutnya, sektor minerba saat ini berada dalam pusaran perebutan critical minerals di tengah gangguan rantai pasok global. Namun Indonesia dinilai masih memiliki posisi strategis karena kekayaan sumber daya alam yang melimpah, selama ditopang ketahanan energi dan hilirisasi.

Pemerintah kini menerapkan pendekatan baru dalam pengelolaan produksi tambang: value over volume. Evaluasi menunjukkan bahwa peningkatan produksi tidak selalu sejalan dengan kenaikan penerimaan negara.

RKAB yang sebelumnya berlaku tiga tahunan kini diubah menjadi tahunan agar pengendalian pasokan lebih presisi dan menghindari oversupply yang bisa menjatuhkan harga komoditas. Kewajiban domestic market obligation (DMO) juga tetap menjadi prioritas sebelum ekspor dilakukan.

“Ini bukan pembatasan, tapi pengendalian. Volume besar tidak selalu berarti pendapatan negara besar,” jelas Rita.

Di sektor nikel, tantangan datang bukan hanya dari regulasi, tetapi juga dari ketersediaan bahan baku pendukung.

Wakil Ketua Indonesian Mining Association (IMA) atau Asosiasi Pertambangan Indonesia) sekaligus Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk, Bernandus Irmanto, menyoroti kelangkaan sulfur untuk proses HPAL yang krusial dalam produksi nikel baterai.

“Punya uang untuk beli, tapi kalau barangnya tidak ada, bagaimana?” ujarnya.

Industri kini mulai mencari alternatif bahan seperti pirit dan limbah phosphogypsum. Namun tantangan keberlanjutan juga muncul dari ketergantungan pada MFO dan solar di operasional tambang. Elektrifikasi alat tambang mulai dikaji, tetapi produktivitasnya masih menjadi kendala.

Lebih jauh, hilirisasi nikel Indonesia masih sangat bergantung pada teknologi dan investasi dari China. Kondisi ini dinilai meningkatkan kompleksitas risiko geopolitik.

Vale sendiri mengaku proyek barunya yang akan beroperasi kuartal III-2026 membutuhkan kepastian pasokan nikel, sementara kuota produksi yang diberikan saat ini baru 30 persen.

“Kalau supply dikendalikan, harapannya harga naik. Tapi kalau demand turun, harga juga tidak baik. Jangan sampai ini membunuh mimpi nikel sebagai motor transisi energi,” kata Bernandus.

Dari sektor batu bara, Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Priyadi Sutarso mengingatkan bahwa pemangkasan produksi yang dilakukan mendadak akan menimbulkan efek domino yang besar, terutama bagi daerah tambang.

“Multiplier effect-nya besar sekali. Bukan hanya soal PNBP,” ucapnya.

Menurut Priyadi, sebagian besar operasional tambang batu bara melibatkan kontraktor. Rencana pengurangan produksi sudah mulai memicu wacana PHK di level kontraktor.

Ia mengingatkan bahwa industri tambang selama ini membuka keterisolasian daerah, membangun akses bandara, jalan, hingga menopang pendapatan asli daerah (PAD). Ketergantungan ini membuat keputusan mendadak soal RKAB berpotensi menimbulkan instabilitas sosial-ekonomi di daerah.

Selain itu, operasional tambang juga terdampak kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) solar akibat situasi global, sementara transisi ke kendaraan listrik di alat berat masih terbatas.

“Saya khawatir dampaknya ke daerah. Banyak PAD yang sangat bergantung pada batubara,” ujar Priyadi.

Diskusi ini memperlihatkan dilema besar yang dihadapi pemerintah dan industri: mengendalikan produksi untuk menjaga harga komoditas, atau menjaga volume produksi agar permintaan global tetap kuat dan dampak ekonomi daerah tidak terganggu.

Di tengah perebutan critical minerals dunia, Indonesia dinilai memiliki kartu kuat. Namun kartu itu hanya efektif bila kebijakan produksi, hilirisasi, ketahanan energi, dan kepastian pasokan berjalan seimbang.

Jika tidak, pengendalian produksi yang bertujuan menjaga nilai komoditas justru bisa berujung pada turunnya permintaan, melemahnya daya saing nikel baterai, hingga gejolak ekonomi di daerah tambang. (rmn)

Tags: E2SIndustri TambangPemangkasan Produksipertambangan

Berita Terkait.

Monetisasi Sengeti Jadi Titik Balik Pengembangan Gas Bumi di Jambi
Ekonomi

Monetisasi Sengeti Jadi Titik Balik Pengembangan Gas Bumi di Jambi

Minggu, 26 Juli 2026 - 13:26
AMMAN Tuntaskan Smelter Tembaga Terintegrasi, Siap Dongkrak Nilai Tambah Mineral Nasional
Ekonomi

Kepemimpinan Visioner Edwin Bangun Antar PLN Energi Gas Raih Pengakuan Nasional

Minggu, 26 Juli 2026 - 12:06
AMMAN Tuntaskan Smelter Tembaga Terintegrasi, Siap Dongkrak Nilai Tambah Mineral Nasional
Ekonomi

AMMAN Tuntaskan Smelter Tembaga Terintegrasi, Siap Dongkrak Nilai Tambah Mineral Nasional

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:07
Bapanas Klaim Beras Premium Aman Meski Ditemukan Ritel Kosong
Ekonomi

Bapanas Klaim Beras Premium Aman Meski Ditemukan Ritel Kosong

Sabtu, 25 Juli 2026 - 22:02
Menkop: MES Harus Jadi Penggerak Sektor Riil dan Ekonomi Umat
Ekonomi

Menkop: MES Harus Jadi Penggerak Sektor Riil dan Ekonomi Umat

Sabtu, 25 Juli 2026 - 20:03
Sawit Berpotensi Jadi Pilar Energi Terbarukan Indonesia
Ekonomi

Sawit Berpotensi Jadi Pilar Energi Terbarukan Indonesia

Sabtu, 25 Juli 2026 - 19:10

BERITA POPULER

  • epi

    Desa Berdaya Energi Berbuah Hasil, Populasi Kambing Perah dan Pendapatan Peternak Meningkat

    3198 shares
    Share 1279 Tweet 800
  • Tokoh Banten Mulyadi Jayabaya Sesalkan Ada Oknum Pejabat Dikaitkan Aksi Penculikan Aktivis

    1420 shares
    Share 568 Tweet 355
  • Industri Sawit Nasional Miliki Fondasi Kuat dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja

    1150 shares
    Share 460 Tweet 288
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    2905 shares
    Share 1162 Tweet 726
  • Awal Pekan Ini Cuaca di Jakarta Didominasi Berawan, Waspadai Potensi Hujan di Jaksel dan Jaktim

    769 shares
    Share 308 Tweet 192
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.