INDOPOSCO.ID – Pelaku usaha boga bahari Indonesia mencatatkan potensi transaksi mencapai USD 198,33 juta atau sekitar Rp3,49 triliun dalam ajang The 28th Japan International Seafood & Technology Expo (JISTE) 2026 di Tokyo, Jepang.
“Ini (potensi transaksi,red) jadi salah satu momentum bagi produk perikanan Indonesia untuk memperluas akses pasar di Negeri Sakura,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan (Kemendag) Fajarini Puntodewi dalam keterangan, Rabu (9/9/2026).
Ia mengatakan, capaian potensi transaksi tersebut menunjukkan besarnya peluang pasar produk perikanan Indonesia di Jepang.
Menurut dia, pelaku usaha Indonesia perlu terus mengoptimalkan implementasi Protokol Perubahan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) untuk memperkuat penetrasi produk ikan olahan Indonesia di pasar Jepang.
“Potensi transaksi pada JISTE 2026 menunjukkan tingginya daya saing produk perikanan Indonesia di Jepang. Peluang nyata ini dapat terus dimanfaatkan oleh pelaku usaha Indonesia, termasuk dengan mengoptimalkan implementasi Protokol Perubahan IJEPA,” ujar Puntodewi.
Dia menambahkan, implementasi protokol tersebut memberikan peluang lebih besar bagi produk ikan olahan Indonesia melalui kebijakan tarif nol persen.
“Dengan kerja sama ini, akses pasar ke Jepang semakin terbuka melalui kebijakan tarif nol persen untuk produk ikan olahan asal Indonesia,” tetangnya.
Berdasarkan hasil penjajakan bisnis (business matching) antara eksportir Indonesia dengan buyer Jepang selama pameran, tuna dalam berbagai bentuk dan olahan menjadi produk dengan potensi transaksi terbesar.
Selain tuna, sejumlah produk perikanan lainnya juga mendapat respons positif dari buyer Jepang. Di antaranya gurita, ikan kisu, dan produk udang goreng atau ebi fry.
Produk lainnya seperti cakalang, rajungan, cumi-cumi, sotong, olahan ikan teri (chirimen), telur ikan (tobiko), bulu babi (uni), serta berbagai produk hasil laut olahan turut menarik perhatian pasar Jepang. (nas)























