INDOPOSCO.ID – Di tengah ketidakpastian global yang dipicu konflik di kawasan Gulf States, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mengambil langkah tegas untuk memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga. Situasi geopolitik yang bergejolak dinilai berpotensi mengganggu stabilitas pasokan minyak dan gas dunia.
Komitmen tersebut ditegaskan oleh Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, saat tampil dalam Leadership Dialogue Offshore Technology Conference (OTC) Asia 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (31/3/2026). Forum ini menjadi panggung penting bagi para pelaku industri energi untuk membahas peran Asia dalam menjaga keseimbangan pasokan global.
Dalam paparannya, Awang menyoroti bahwa energi berbasis hidrokarbon masih menjadi tulang punggung dalam memenuhi kebutuhan energi dunia yang terus meningkat. Namun, tekanan global untuk menurunkan emisi karbon juga tidak bisa diabaikan.
“Di tengah ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar energi global, prioritas utama industri adalah memastikan keamanan pasokan energi (security of supply) yang andal, terjangkau, dan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, sektor hulu migas tetap memiliki peran krusial sebagai fondasi ketahanan energi, sekaligus menjembatani transisi menuju energi rendah karbon,” ujar Awang.
Sebagai respons atas tantangan tersebut, PHE mengusung strategi pertumbuhan ganda atau dual growth strategy. Pendekatan ini menggabungkan penguatan bisnis hulu migas dengan pengembangan energi rendah karbon.
Di sektor migas, PHE terus menggenjot produksi melalui berbagai langkah strategis. Mulai dari pemanfaatan teknologi canggih, pengembangan lapangan secara organik, hingga penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk memaksimalkan potensi sumur yang ada.
Tak hanya itu, perusahaan juga memperluas langkah melalui eksplorasi baru, pengembangan Migas Non Konvensional (MNK), serta akuisisi aset strategis guna menjaga keberlanjutan produksi di masa depan.
“Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus mendukung ketahanan energi di tengah kondisi global yang penuh tantangan,” ungkapnya.
Dalam menjalankan strategi tersebut, PHE menempatkan kolaborasi sebagai kunci utama. Perusahaan активно membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, terutama untuk proyek-proyek dengan tingkat kompleksitas tinggi.
Kolaborasi ini dinilai penting untuk mempercepat peningkatan produksi sekaligus menghadirkan inovasi teknologi yang mampu menjawab tantangan industri migas modern.
Seiring dengan itu, PHE juga mempercepat pengembangan bisnis rendah karbon, khususnya melalui teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS).
“Saat ini, proyek CCS/CCUS yang paling memungkinkan untuk berjalan adalah yang terintegrasi dengan pengembangan lapangan migas,” jelas Awang.
Lebih jauh, PHE menilai bahwa tantangan energi global tidak bisa dihadapi sendiri. Diperlukan sinergi lintas negara dan lintas sektor, melibatkan pemerintah, regulator, akademisi, hingga masyarakat.
“Melalui pendekatan kolaboratif dan strategi pertumbuhan yang seimbang antara ketahanan energi saat ini dan transisi energi masa depan, PHE menegaskan komitmennya untuk terus berperan sebagai mitra strategis dalam menjaga pasokan energi sekaligus mendukung agenda dekarbonisasi di tingkat nasional maupun regional,” tambahnya.
Di sisi lain, komitmen terhadap praktik bisnis berkelanjutan juga terus diperkuat. PHE memastikan seluruh operasional berjalan sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Perusahaan juga menegaskan sikap tegas terhadap praktik korupsi melalui kebijakan Zero Tolerance on Bribery, termasuk implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) berstandar ISO 37001:2016 sebagai bagian dari tata kelola perusahaan yang bersih dan transparan. (her)









