INDOPOSCO.ID – Amerika Serikat dilaporkan telah menembakkan lebih dari 850 rudal Tomahawk sejak awal operasi militernya terhadap Iran, yang berdampak pada menipisnya cadangan senjata di kawasan Timur Tengah.
Laporan The Washington Post pada Jumat (27/3/2026) menyebutkan, tingginya intensitas penggunaan rudal jelajah tersebut memicu kekhawatiran di kalangan pejabat pertahanan Amerika Serikat, mengingat produksi rudal Tomahawk hanya mencapai beberapa ratus unit per tahun.
Mengutip sumber yang mengetahui situasi tersebut, laporan itu menyebutkan bahwa jumlah rudal yang tersisa di kawasan digambarkan sebagai “sangat rendah dan mengkhawatirkan”.
Kondisi ini membuat militer AS harus mempertimbangkan langkah strategis, termasuk kemungkinan memindahkan stok rudal dari wilayah lain seperti Indo-Pasifik, serta meningkatkan produksi dalam jangka panjang.
Meski demikian, sebagaimana juga dilansir ANTARA dari Sputnik, juru bicara Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Sean Parnell, menegaskan bahwa militer AS tetap memiliki kemampuan penuh untuk menjalankan misi sesuai kebutuhan.
“Untuk melaksanakan misi apa pun pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden dan dalam jangka waktu apa pun,” ujarnya.
Sebelumnya, pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Sebagai balasan, Iran menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah, memicu eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.
Ketegangan tersebut juga berdampak pada jalur perdagangan global, termasuk terganggunya aktivitas di Selat Hormuz yang berimbas pada kenaikan harga energi dunia.
Situasi ini menambah tekanan terhadap stabilitas kawasan sekaligus memperbesar kekhawatiran akan konflik berkepanjangan. (dil)










