INDOPOSCO.ID – Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan kesiapan negaranya untuk memfasilitasi pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran guna meredakan ketegangan di kawasan tersebut.
“Dengan syarat mendapat persetujuan dari AS dan Iran, Pakistan siap dan merasa terhormat menjadi tuan rumah untuk memfasilitasi pembicaraan yang bermakna dan menghasilkan kesepakatan guna penyelesaian komprehensif atas konflik yang sedang berlangsung,” kata Shehbaz Sharif seperti dilansir dari Sky News, Selasa (24/3/2026).
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengklaim bahwa pemerintahannya telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif dengan Iran terkait upaya pengakhiran konflik di kawasan tersebut.
“Saya telah memerintahkan Departemen Perang untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, tergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung,” ujarTrump terpisah melalui akun Truth Social pribadinya @realDonaldTrump, Senin (23/3/2026).
Trump juga sempat mengeluarkan ultimatum terhadap Iran, mengancam akan menghancurkan seluruh infrastruktur pembangkit listrik negara tersebut jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya dalam kurun waktu 48 jam ke depan.
“Jika Iran tidak membuka sepenuhnya tanpa ancaman, Selat Hormuz dalam waktu 48 jam sejak saat ini Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mereka,” ucap Trump melalui Truth Social pribadinya @realDonaldTrump, Minggu (22/3/2026).
Pernyataan itu disampaikannya sehari setelah ia menyinggung pengakhiran perang. Sementara itu, ancaman Iran di Selat Hormuz telah melumpuhkan jalur pelayaran tersebut dan memicu lonjakan harga minyak.
Wakil Ketua Parlemen Iran Ali Nikzad mendesak pemerintah agar tidak bernegosiasi dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, di tengah berhembusnya isu pembicaraan baru untuk mengakhiri perang di kawasan tersebut.
Langkah tersebut diambil karena Nikzad menilai Trump tidak bermartabat dan telah terbukti berbohong. Ia mencatat bahwa Iran sudah dua kali dibohongi Amerika Serikat dalam proses perundingan sebelumnya.
“Republik Islam Iran, dengan dukungan rakyatnya, berdiri teguh atas kemampuan militernya, dan jika Trump berkata jujur, ia harus mengumumkan dengan siapa ia bernegosiasi,” jelas Ali Nikzad terpisah seperti dilansir dari Al Jazeera, pagi tadi. (dan)









