INDOPOSCO.ID – Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul memberikan sinyal positif terhadap langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengupayakan negosiasi untuk mengakhiri konflik dengan Iran.
Wadephul menegaskan bahwa inisiatif diplomatik itu perlu diberikan ruang dan kesempatan penuh agar dapat membuahkan hasil yang konkret.
“Patut diapresiasi bahwa Presiden AS telah menunda ultimatumnya kepada rezim Iran selama beberapa hari dan kini mencari jalan negosiasi,” kata Wadephul bersama mitranya dari Tunisia Mohamed Ali Nafti di Berlin seperti dilansir dari Al Jazeera, Rabu (25/3/2026).
Oleh karena itu, ia meminta Iran menanggapi rencana dialog tersebut karena menurutnya setiap peluang diplomasi yang terbuka harus dimanfaatkan dan didukung sepenuhnya.
“Rezim Iran sebaiknya merespons hal ini sekarang. Jadi, jika ada peluang bagi diplomasi, kita harus benar-benar memberikan kesempatan bagi perundingan tersebut,” ujar Wadephul.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif dengan Iran terkait upaya pengakhiran konflik di kawasan tersebut.
“Saya telah memerintahkan Departemen Perang untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, tergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung,” tulis Trump melalui akun Truth Social pribadinya @realDonaldTrump, Senin (23/3/2026).
Wakil Ketua Parlemen Iran Ali Nikzad mendesak pemerintah agar tidak bernegosiasi dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, di tengah berhembusnya isu pembicaraan baru untuk mengakhiri perang di kawasan tersebut.
Langkah tersebut diambil karena Nikzad menilai Trump tidak bermartabat dan telah terbukti berbohong. Ia mencatat bahwa Iran sudah dua kali dibohongi Amerika Serikat dalam proses perundingan sebelumnya.
“Republik Islam Iran, dengan dukungan rakyatnya, berdiri teguh atas kemampuan militernya, dan jika Trump berkata jujur, ia harus mengumumkan dengan siapa ia bernegosiasi,” ucap Ali Nikzad terpisah seperti dilansir dari Al Jazeera, Selasa (24/3/2026). (dan)









