• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Gaya Hidup

Topeng-Topeng Yang Menjaga Ingatan

Nelly Marinda Situmorang Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 24 Maret 2026 - 19:01
in Gaya Hidup
Pesta-Topeng

Sekura Kamak ikut dalam kegiatan Pesta Sekura di Lampung Barat. (ANTARA/HO-Kominfo Lampung Barat)

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Di tengah derasnya arus globalisasi yang kian mengaburkan batas-batas identitas lokal, sebuah tradisi tua di Lampung Barat tetap bertahan. Bahkan tumbuh dengan semangat baru.

Tradisi itu adalah Sekura Cakak Buah, pesta topeng yang bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi juga menjadi simbol kuat dari jati diri, kebersamaan, dan keberlanjutan budaya masyarakat setempat.

BacaJuga:

Penampilan Baru Shuhua i-dle Jadi Sorotan, Penggemar Khawatir Usai Melihat Perubahan Berat Badan

NCT 127 Resmi Umumkan Comeback, Album Ketujuh Meluncur Agustus 2026

Dipertemukan Takdir, Ha Seok Jin dan Hani Tampil Romantis di Poster Perdana ‘Love On The Menu’

Pada suasana hangat setelah Idul Fitri di Pekon Muara Jaya II, Kecamatan Kebun Tebu, denyut kehidupan tradisi itu terasa begitu nyata. Tawa, canda, dan langkah kaki para peserta Sekura berpadu dalam satu harmoni yang menggambarkan kegembiraan kolektif.

Di balik topeng-topeng yang dikenakan, tersembunyi kisah panjang tentang nilai, sejarah, dan identitas yang diwariskan lintas generasi. Sekura bukanlah tradisi biasa, ia merupakan ekspresi budaya yang sarat makna di mana para peserta mengenakan topeng dengan berbagai bentuk dan karakter, menciptakan suasana penuh misteri sekaligus kegembiraan.

Dalam anonimitas topeng, semua perbedaan seakan luluh, status sosial, usia, bahkan latar belakang semuanya menyatu dalam satu ruang kebersamaan.

Tradisi ini digelar setiap awal Syawal, menjadi penanda berakhirnya bulan suci Ramadan sekaligus awal dari kebersamaan yang baru. Lebih dari sekadar pesta, Sekura merupakan ruang rekonsiliasi sosial, tempat masyarakat mempererat tali silaturahim dan menumbuhkan kembali semangat gotong royong.

Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus menyatakan turut bangga menyaksikan bagaimana generasi muda, khususnya muli mekhanai (bujang-gadis) di daerahnya mengambil peran penting dalam menjaga dan menghidupkan tradisi ini. Bahkan hampir mereka menjadi penggerak utama dalam penyelenggaraannya.

Bagi dia, keterlibatan generasi muda bukan sekadar partisipasi, tetapi merupakan indikator kuat bahwa budaya ini masih memiliki masa depan. Di tengah gempuran budaya populer dan gaya hidup modern.

Fenomena ini menjadi angin segar di tengah kekhawatiran akan pudarnya budaya lokal. Sebab, tanpa keterlibatan generasi penerus, tradisi hanya akan menjadi catatan sejarah tanpa kehidupan.

Menjaga budaya bukanlah perkara mudah, sehingga dibutuhkan kesadaran kolektif, komitmen, dan konsistensi dari berbagai pihak mulai dari tokoh adat, pemerintah, hingga masyarakat itu sendiri.

Ia menekankan bahwa pendidikan dan mobilitas generasi muda ke luar daerah bukanlah halangan untuk tetap mencintai budaya sendiri. Justru, pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkaya perspektif, sehingga mereka mampu melihat nilai budaya lokal dengan cara yang lebih luas dan mendalam.

Muda-mudi boleh merantau ke mana saja, menimba ilmu di kota-kota besar, tetapi ketika pulang ke kampung halaman, harus tetap ikut ambil bagian dalam menjaga tradisi.

Pesan tersebut terasa relevan, mengingat banyak generasi muda yang kini lebih akrab dengan budaya global dibandingkan dengan tradisi lokal. Sebab tanpa upaya sadar untuk menjaga, bukan tidak mungkin budaya seperti Sekura akan perlahan menghilang.

Padahal, Sekura bukan sekadar hiburan. Kegiatan tersebut mengandung nilai-nilai filosofis yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Gotong royong, kebersamaan, keberanian, dan rasa percaya diri adalah beberapa nilai yang tertanam dalam tradisi ini.

Dalam Sekura, seseorang belajar untuk tampil di hadapan publik, meski dengan wajah tertutup topeng. Ada keberanian yang dibangun, ada kepercayaan diri yang tumbuh, dan ada rasa kebersamaan yang diperkuat.

Tidak hanya itu, Sekura juga menjadi ruang ekspresi kreatif bagi masyarakat. Berbagai bentuk topeng yang digunakan mencerminkan imajinasi, keterampilan, dan kreativitas pembuatnya.

Setiap topeng memiliki karakter dan cerita tersendiri, menjadikan Sekura sebagai panggung seni yang hidup. Pada pesta Sekura terdapat dua aspek topeng yang dipakai yakni Sekura Kamak dan Sekura Betik. Sekura Kamak biasanya ditandai dengan topeng menyeramkan dan membawa pepohonan. Hal ini melambangkan nafsu, angkara murka, dan kejahatan.

Sementara itu Sekura Betik ditandai dengan penampilan yang rapih dan sopan karena hal ini melambangkan kebaikan. Filosofinya adalah keseimbangan antara kebaikan dan kejahatan, yang selalu berpasangan dalam kehidupan.

Keunikan inilah yang membuat Sekura diakui sebagai warisan budaya takbenda Indonesia. Pengakuan tersebut bukan hanya sebuah kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab untuk terus menjaga dan melestarikannya.

Parosil melihat potensi besar Sekura sebagai daya tarik wisata budaya. Dalam pandangannya, tradisi ini memiliki nilai jual yang tinggi karena keunikannya yang tidak dimiliki daerah lain.

Jika dikelola dengan baik, pesta Sekura bisa menjadi magnet bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya berdampak pada aspek sosial dan kultural, tetapi juga ekonomi.

Namun, pengembangan wisata budaya harus tetap menjaga keaslian dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Jangan sampai komersialisasi justru merusak esensi budaya itu sendiri.

Oleh karena itu, seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga marwah Sekura. Mulai dari penyelenggaraan yang tertib, hingga menjaga agar tidak ada unsur-unsur negatif yang mencederai nilai budaya.

Hal yang perlu diingat juga, Sekura jangan diisi dengan hal-hal yang tidak pantas, seperti musik atau perilaku yang bertentangan dengan norma adat. Sebab baginya, menjaga budaya berarti juga menjaga kehormatan dan identitas masyarakat.

Ajakan tersebut tidak hanya ditujukan kepada panitia, tetapi kepada seluruh masyarakat Lampung Barat. Sebab, keberhasilan pelestarian budaya sangat bergantung pada partisipasi kolektif.

Semangat muda-mudi menjaga tradisi Sekura dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mempertahankan budaya. Namun begitu setiap pelaksanaan kegiatan Sekura harus terdapat evaluasi sehingga tradisi ini dapat terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.

Sekura harus terus membumi dan menjadi tradisi yang mengakar kuat, khususnya di Kabupaten Lampung Barat.

Pesta Sekura bukan sekadar hiburan, melainkan juga bagian penting dari identitas budaya masyarakat Lampung Barat. Sejak dini masyarakat daerah itu sudah diperkenalkan dengan tradisi warisan turun menurun dari nenek moyang sehingga hal tersebut terus melekat hingga dewasa.

Arif warga Lampung Barat mengatakan setiap tahun selalu pulang kampung untuk berlebaran dengan keluarga. Selain itu juga memeriahkan pesta Sekura yang dilaksanakan setelah 1 Syawal.

Menurut dia ikut serta dalam penyelenggaraan Sekura menjadi salah satu hal yang penting guna menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah.

Keterlibatannya dalam setiap perayaan Sekura merupakan wujud komitmen dan kecintaan terhadap tradisi nenek moyang. Maka dari itu generasi muda harus terus mengambil peran agar budaya ini tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

Namun begitu, dirinya berharap pelestarian budaya tidak hanya berhenti pada seremoni tahunan, tetapi dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, baik melalui pendidikan maupun kegiatan kreatif lainnya.

Realitas modern memang menghadirkan tantangan tersendiri, dan tidak semua orang memiliki kepedulian yang sama terhadap budaya. Namun, di tengah tantangan itu, masih ada harapan dari wajah-wajah muda yang dengan bangga mengenakan topeng Sekura, berjalan di tengah keramaian, dan menjadi bagian dari cerita besar budaya.

Sekura Cakak Buah, dengan segala keunikan dan nilai yang dimilikinya, merupakan warisan yang tak ternilai. Di balik topeng-topeng itu, ada identitas yang dijaga. Ada sejarah yang dirawat. Dan ada harapan yang terus menyala bahwa Sekura akan tetap lestari, menjadi kebanggaan, dan terus bercerita tentang siapa kita sebenarnya.

Mereka adalah bukti bahwa tradisi tidak harus kalah oleh zaman. Bahwa budaya bisa tetap hidup jika ada kemauan untuk menjaganya dan selama masih ada generasi muda yang peduli. Selama masih ada masyarakat yang mau terlibat, tradisi ini akan terus hidup. (ney)

Tags: budayaLampung BaratPesta TopengSekura Cakak Buah

Berita Terkait.

idle
Gaya Hidup

Penampilan Baru Shuhua i-dle Jadi Sorotan, Penggemar Khawatir Usai Melihat Perubahan Berat Badan

Selasa, 7 Juli 2026 - 19:09
NCT
Gaya Hidup

NCT 127 Resmi Umumkan Comeback, Album Ketujuh Meluncur Agustus 2026

Selasa, 7 Juli 2026 - 18:08
Drama-Korea
Gaya Hidup

Dipertemukan Takdir, Ha Seok Jin dan Hani Tampil Romantis di Poster Perdana ‘Love On The Menu’

Selasa, 7 Juli 2026 - 17:35
Riize
Gaya Hidup

Viral! ‘Do Your Dance’ RIIZE Tembus 100 Juta Penayangan di TikTok

Selasa, 7 Juli 2026 - 16:34
Jennie BLACKPINK Tampil Memukau di Festival Roskilde, Gaya Panggung Berani Jadi Sorotan
Gaya Hidup

Jennie BLACKPINK Tampil Memukau di Festival Roskilde, Gaya Panggung Berani Jadi Sorotan

Selasa, 7 Juli 2026 - 13:01
Park Yoochun Cicil Tunggakan Pajak Rp4,4 Miliar, Target Lunas Tahun Ini
Gaya Hidup

Park Yoochun Cicil Tunggakan Pajak Rp4,4 Miliar, Target Lunas Tahun Ini

Selasa, 7 Juli 2026 - 12:31

BERITA POPULER

  • brace

    Hasil Piala Dunia: Brace Haaland Antar Norwegia Singkirkan Brasil dan Cetak Sejarah

    919 shares
    Share 368 Tweet 230
  • Portugal vs Kroasia: Martinez Sebut Ronaldo dan Modric Berada di Atas Keraguan Publik

    853 shares
    Share 341 Tweet 213
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    2300 shares
    Share 920 Tweet 575
  • Cuaca di Jakarta Didominasi Cerah, Sebagian Wilayah Jaksel dan Jakbar Berpotensi Hujan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Gempa Bumi Dangkal M 4,0 Guncang Palu, BMKG: Kedalaman Hiposenter 2 Km

    779 shares
    Share 312 Tweet 195
Hossam-Hassan
Olahraga

Kalah Kontroversial dari Argentina, Pelatih Mesir: Kami Telah Ditipu!

Editor Ali Rachman
Rabu, 8 Juli 2026 - 09:31

INDOPOSCO.ID - Pelatih Timnas Mesir Hossam Hassan meluapkan kekecewaan setelah timnya menelan kekalahan 2-3 dari Timnas Argentina pada babak 16...

SelengkapnyaDetails
Trophy

Jadwal Perempatfinal Piala Dunia: Dibuka Prancis vs Maroko, Ditutup Argentina Kontra Swiss

Rabu, 8 Juli 2026 - 09:21
Swiss

Hasil Piala Dunia: Swiss ke 8 Besar Usai Taklukkan Kolombia via Tos-tosan

Rabu, 8 Juli 2026 - 08:40
Messi

Hasil Piala Dunia: Comeback Dramatis, Mental Juara Argentina Tumbangkan Perlawanan Heroik Mesir

Rabu, 8 Juli 2026 - 08:20
Hossam-Hassan

Jelang Lawan Argentina, Pelatih Mesir Curi Perhatian Lewat Pesan Solidaritas Palestina

Selasa, 7 Juli 2026 - 18:58
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.