INDOPOSCO.ID – Haisawit Indonesia bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menyelenggarakan kegiatan Program Dukungan UMKM Sawit untuk Desa Wisata di Desa Wisata Pentingsari, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (23/03/2026).
Kegiatan itu bertujuan untuk memperkuat kapasitas pelaku UMKM desa wisata melalui pemanfaatan produk turunan kelapa sawit, sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai manfaat sawit dalam kehidupan sehari-hari.
Produk yang diperkenalkan dalam kegiatan ini antara lain lilin aromaterapi, sandal, serta kerajinan taplak meja yang dapat dimanfaatkan sebagai produk homestay maupun souvenir wisata.
Direktur Haisawit Indonesia, M. Danang MRQ, mengatakan, bahwa pihaknya hadir sebagai platform digital yang memberikan akses informasi, edukasi, serta promosi bagi masyarakat dan pelaku usaha.
“Platform Haisawit tidak hanya menghadirkan informasi mengenai industri sawit, tetapi juga menjadi ruang promosi UMKM, informasi lowongan kerja, serta berbagai pemberitaan industri,” kata Danang dalam keterangannya, Senin (23/3/2026).
Haisawit juga memiliki program pengembangan karir seperti Palm Oil Career Expo (POCE) serta forum internasional Haisawit Simposium(HASI) yang menjadi ruang kolaborasi dan pertukaran informasi mengenai industri sawit.
Ia menambahkan bahwa Haisawit Indonesia juga aktif melakukan peningkatan kapasitas UMKM di berbagai daerah melalui pelatihan pengolahan produk turunan sawit dan penguatan jejaring pemasaran.
Di beberapa daerah, UMKM telah menghasilkan berbagai produk turunan seperti sabun dan berbagai kerajinan rumah tangga. Kami juga mempertemukan pelaku UMKM dengan sektor industri dan hotel untuk membuka peluang pasar yang lebih luas.
“Kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi bersama untuk menyusun strategi produksi yang lebih optimal agar UMKM siap memenuhi permintaan pasar,” ujar Danang.
Sementara itu, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menjelaskan bahwa Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebelumnya dikenal sebagai Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
Lembaga ini mengelola dana dari sektor perkebunan yang berasal dari kontribusi industri kelapa sawit sebagai salah satu komoditas utama penyumbang devisa negara dari sektor non-migas. “Dana yang dikelola BPDP kemudian dikembalikan kepada masyarakat melalui berbagai program seperti Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), program biodiesel, beasiswa, hingga pemberdayaan UMKM berbasis sawit,” jelas Helmi.
Lebih lanjut, Helmi menegaskan pentingnya mendorong kemitraan antara UMKM dan koperasi petani komoditas perkebunan sebagai bagian dari penguatan ekosistem sawit yang berkelanjutan.
“Melalui kemitraan ini, rantai pasok dapat terintegrasi dengan lebih baik, mulai dari penyediaan bahan baku hingga pemasaran produk. Hal ini tidak hanya memberikan kepastian usaha bagi UMKM, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani sebagai bagian dari ekosistem industri sawit,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pengembangan kawasan berbasis komoditas perkebunan yang terintegrasi dengan sektor lain, termasuk pariwisata desa.
“Pendekatan pengembangan kawasan ini mendorong terciptanya nilai tambah dari komoditas perkebunan melalui inovasi produk dan integrasinya dengan sektor pariwisata. Dengan demikian, manfaat ekonomi dari sawit dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” tambahnya.
Menurutnya, kegiatan di Yogyakarta menjadi bagian dari upaya kampanye positif mengenai manfaat kelapa sawit kepada masyarakat.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa sawit memiliki banyak manfaat bagi kehidupan sehari-hari. Harapannya kegiatan ini dapat menambah wawasan masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi UMKM,” ujarnya.
Dinas pariwisata kabupaten Sleman dalam hal ini diwakili oleh Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Erny Maryatun, S.IP., M.T., menyampaikan bahwa Kabupaten Sleman saat ini memiliki 81 dessa wisata, dan Desa Wisata Pentingsari telah mencapai status desa wisata mandiri dengan jumlah kunjungan wisatawan yang terus meningkat.
“Pada tahun 2025, Desa Wisata Pentingsari mencatat sekitar 32 ribu kunjungan wisatawan. Hal ini menunjukkan bahwa desa wisata mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Dinas koperasi dan UMKM kabupaten Sleman yang diwakili oleh Kepala Tim Fasilitas dan Layanan, Werdiningsih, menjelaskan bahwa pemerintah daerah memiliki sistem pendataan khusus yang mencatat lebih dari 100 ribu pelaku UMKM di wilayah Sleman.
“Kami juga memiliki klinik UMKM yang siap mendampingi para pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya, baik yang berada di wilayah Minggir maupun di kantor dinas Kabupaten Sleman,” jelasnya.
Ketua Desa Wisata Pentingsari, Ciptaningtias, menekankan bahwa sumber daya manusia menjadi kunci utama dalam mewujudkan desa wisata mandiri.
“Pelatihan seperti pembuatan sandal dan taplak meja dari turunan sawit sangat bermanfaat karena dapat dikembangkan menjadi produk yang digunakan di homestay maupun dijual sebagai suvenir bagi wisatawan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Haisawit Indonesia dan BPDP juga membawa dua pesan utama bagi pelaku UMKM di Yogyakarta, yakni pentingnya pemberdayaan UMKM dan koperasi petani komoditas perkebunan melalui kemitraan rantai pasok, serta penguatan pemahaman masyarakat mengenai manfaat kelapa sawit.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam mengembangkan UMKM desa wisata sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat lokal. (dan)










