INDOPOSCO.ID – Pengelolaan sampah di Indonesia merupakan tanggung jawab jangka panjang yang bersifat sistemik dan membutuhkan aksi nyata secara kolektif oleh seluruh elemen masyarakat, melalui kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dan pelaku usaha termasuk produsen.
Riset NielsenIQ (NIQ) di Indonesia di 2025 menunjukkan adanya pergeseran terhadap aspek kesejahteraan (wellness), dengan 69% konsumen kini mementingkan aspek emosional dan mental dibandingkan lima tahun lalu. Hal ini mendorong pelaku usaha untuk menghadirkan kualitas produk unggul serta menunjukkan komitmen keberlanjutan yang kredibel dan transparan.
Pergeseran tren ini membuat sustainability leadership menjadi penting, bukan lagi ditentukan oleh angka atau skala semata tetapi kemauan untuk bertindak lebih cepat dan bertanggung jawab. Di Indonesia, pemimpin bisnis memiliki peran moral dan strategis dalam membentuk kebiasaan yang melindungi konsumen dan lingkungan secara berkelanjutan.
Sejalan dengan arah strategi kolaborasi lintas sektor dan penguatan rantai nilai pengelolaan sampah, Kao Indonesia sebagai purpose-driven company mengembangkan program-program selaras dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Upaya ini juga sejalan dengan implementasi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen dengan target pengurangan 30 persen di 2029.
Tanggung jawab ESG Kao Indonesia berlandaskan pada filosofi Kirei Lifestyle, yaitu komitmen menciptakan kehidupan yang harmonis antara manusia dan planet untuk masa kini dan depan. Kirei menjadi nilai utama dalam inovasi produk serta melibatkan konsumen sebagai mitra dalam menjalani gaya hidup berkelanjutan menuju target zero waste.
Salah satu komitmen nyata adalah peluncuran kolaborasi digital waste take-back bekerja sama dengan Rekosistem, yang diresmikan bersamaan dengan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada 21 Februari 2026. Melalui aplikasi Rekosistem, konsumen dapat memilah kemasan habis pakai produk Kao kemudian disetorkan ke Waste Station terdekat, dengan sistem pelacakan dan pelaporan transparan. Program ini membantu memenuhi kewajiban regulasi sekaligus mengajak konsumen untuk bersama-sama mengolah kemasan habis pakai.
Kao Indonesia juga menjalankan berbagai inisiatif lainnya, seperti program Extended Producer Responsibility (EPR) yang berhasil mengumpulkan dan mengelola lebih dari 200 ton sampah kemasan sejenis, pengelolaan popok menjadi bahan bakar alternatif lewat program Merries Senyumkan Lingkungan, Anak KAO (Kreatif, Aktif, Optimis) Bijak Sampah, Kao BERGERAK (Kao Berdayakan Gerakan Masyarakat), dan platform edukasi kaolifeacademy.com.
Melalui pendekatan edukasi dan teknologi, program-program ini bertujuan mengurangi timbulan sampah di tempat pembuangan akhir serta memberdayakan keluarga dan pemangku kepentingan lokal untuk berpartisipasi dalam ekonomi sirkular.
Selain itu, Kao Indonesia telah meluncurkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pabrik Kao Indonesia Karawang dengan kapasitas total 6,53 Mega Watt peak pada 2025 sebagai bentuk komitmen pada keberlanjutan dan decarbonization.
Mewujudkan Indonesia yang lebih bersih membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Kao mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk turut serta dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan indah sejalan dengan gaya hidup Kirei, sebagai bagian dari komitmen bersama menuju masa depan yang berkelanjutan. (ibs)










