INDOPOSCO.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (9/3/2026) pagi, dibuka melemah 211,38 poin atau 2,79 persen ke posisi 7.374,31.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 22,31 poin atau 2,87 persen ke posisi 753,74.
Turunnya IHSG ini pun sudah diprediksi oleh Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus. Menurutnya, salah satu sentimen utama yang menekan pasar saham domestik adalah melonjaknya harga minyak mentah dunia yang telah menembus level 100 dolar Amerika Serikat per barel.
“Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance di kisaran 7.460–7.860,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, sebagiamana dilansir dai ANTARA, Senin (9/3/2026).
Kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Pasukan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menargetkan sejumlah fasilitas militer serta menyerang infrastruktur energi Iran, termasuk depot penyimpanan minyak dan fasilitas terkait di sekitar Teheran dan Provinsi Alborz.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal balistik dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan perdagangan minyak global, terutama karena kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi energi dunia.
Pada Senin (9/3/2026) pagi pukul 07.50 WIB, harga minyak global tercatat melonjak signifikan. Minyak mentah West Texas Intermediate crude oil (WTI) mencapai 109,82 dolar AS per barel, sementara Brent crude oil menyentuh 109,53 dolar AS per barel.
“Kami menilai eskalasi serangan terhadap fasilitas energi Iran berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia karena meningkatkan risiko gangguan pasokan, terutama jika konflik memengaruhi jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak global,” kata Nico.
Dari dalam negeri, pemerintah juga membuka opsi penyesuaian anggaran untuk program Program Makan Bergizi Gratis Indonesia (MBG) atau menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi apabila lonjakan harga minyak dunia semakin menekan APBN 2026.
Tanpa penyesuaian kebijakan, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diperkirakan berpotensi melebar hingga 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Nico menilai kebijakan efisiensi belanja dan penundaan proyek infrastruktur dapat membantu menjaga disiplin fiskal serta menahan pelebaran defisit. Namun, langkah tersebut juga berpotensi memperlambat realisasi pembangunan dan aktivitas ekonomi, khususnya di sektor konstruksi.
“Sementara itu, apabila pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM bersubsidi, dampaknya bisa memicu kenaikan inflasi, meningkatkan biaya transportasi dan logistik, serta menekan daya beli masyarakat,” ujarnya.
Di sisi global, bursa saham Amerika Serikat di Wall Street juga ditutup melemah pada perdagangan Jumat (6/3). Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,95 persen ke level 47.501,55, indeks S&P 500 melemah 1,33 persen ke posisi 6.740,02, dan indeks Nasdaq Composite turun 1,59 persen menjadi 22.387,68.
Sementara itu, pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, IHSG tercatat turun 124,85 poin atau 1,62 persen ke level 7.585,68. Adapun indeks saham unggulan LQ45 juga melemah 11,77 poin atau 1,49 persen ke posisi 776,04. (dil)










