INDOPOSCO.ID – Duta Besar Iran untuk PBB di Jenewa Ali Bahreini meragukan, kelanjutan negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat (AS) setelah serangan udara gabungan AS dan Israel menghantam sejumlah wilayah Iran dalam tiga hari terakhir.
“Untuk saat ini, kami sangat meragukan kegunaan negosiasi,” kata Ali Bahreini di Jenewa, kepada para wartawan seperti dilansir dari Al Jazeera, Rabu (4/3/2026).
Pihak Teheran menyatakan, militer menjadi satu-satunya instrumen yang relevan dalam menghadapi Washington, sehingga tidak ada lagi waktu yang tersedia bagi kedua belah pihak kembali ke meja perundingan.
“Bahasa satu-satunya untuk berbicara dengan AS adalah bahasa pertahanan; tidak ada waktu untuk negosiasi,” ujar Ali Bahreini.
Serangan ke Teheran yang diberi nama sandi Operation Epic Fury oleh AS dan Operation Roaring Lion oleh Israel itu diluncurkan, setelah perundingan nuklir di Jenewa pada 26 Februari 2026 berakhir buntu.
Operasi militer itu menargetkan fasilitas militer, situs nuklir, dan sistem pertahanan udara di beberapa kota besar seperti Teheran, Isfahan, dan Qom.
Selain itu, serangan tersebut merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, serta beberapa pejabat tinggi keamanan lainnya, yang dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran pada 1 Maret 2026.
Meskipun terjadi serangan, Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menyatakan bahwa tidak ditemukan bukti adanya program sistematis pembuatan senjata nuklir di Iran dan tidak terdeteksi adanya kebocoran radioaktif besar. (dan)



















