INDOPOSCO.ID – Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Jamjam Muzaki mengungkapkan, bahwa wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) saat ini telah memasuki fase transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan layanan pendidikan.
“Tahap transisi ini menjadi momentum penting untuk mengembalikan aktivitas belajar secara bertahap, sekaligus memperbaiki infrastruktur pendidikan yang rusak,” kata Jamjam saat dialog bersama Forum Wartawan Pendidikan (Fortadik), Senin (2/3/2026).
Ia menjelaskan, dampak bencana terhadap sektor pendidikan terjadi dalam tiga aspek utama. Meliputi, kerusakan sarana dan prasarana sekolah akibat banjir, longsor, dan material yang terbawa arus. Kerusakan mencakup ruang kelas, perabot, buku pelajaran, hingga perangkat pembelajaran.
Lalu, terputusnya akses menuju sekolah akibat rusaknya jembatan dan jalan. Kondisi ini membuat siswa dan guru kesulitan menjangkau lokasi belajar.
“Di beberapa daerah, guru harus menyeberangi sungai menggunakan sling karena jalur transportasi belum pulih,” ujarnya.
Dan, dampak sosial terhadap warga sekolah. Banyak guru dan siswa terdampak langsung, mulai dari kehilangan tempat tinggal hingga harus mengungsi, yang turut mengganggu kelangsungan pendidikan.
“Untuk menjaga pembelajaran tetap berlangsung, pemerintah menyediakan kelas sementara dengan memanfaatkan fasilitas publik maupun ruang darurat,” katanya.
“Ratusan tenda pendidikan telah disalurkan dan puluhan ruang kelas semi permanen dibangun sebagai solusi sementara,” sambungnya.
Selain ruang belajar, masih ujar dia, bantuan juga diberikan dalam bentuk perlengkapan sekolah, buku pelajaran, serta dukungan finansial bagi guru terdampak.
Upaya pemulihan sarana pendidikan dilakukan melalui program revitalisasi sekolah yang melibatkan ribuan satuan pendidikan. Perbaikan kerusakan ringan dan sedang ditargetkan rampung sebelum tahun ajaran baru dimulai.
Jamjam menegaskan, pemulihan pendidikan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memastikan keberlanjutan pembelajaran dan kesiapan mental peserta didik.
“Prioritas kami adalah memastikan anak-anak tetap belajar dan tidak tertinggal akibat bencana,” ucapnya. (nas)




















