INDOPOSCO.ID – Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai bulan ibadah, tetapi juga menjadi momentum refleksi bersama, termasuk dalam menguatkan implementasi reformasi birokrasi. Nilai-nilai introspeksi, pengendalian diri, dan empati yang diajarkan selama bulan suci dinilai relevan untuk memperkokoh komitmen aparatur negara dalam menghadirkan pelayanan publik yang lebih baik.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini mengatakan, selama ini reformasi birokrasi kerap dipahami sebatas perbaikan sistem, penguatan tata kelola, peningkatan profesionalisme, hingga percepatan pelayanan publik. Namun dalam suasana Ramadan yang sarat makna, reformasi birokrasi perlu dimaknai lebih dalam, tidak hanya dari sisi proses dan hasil, tetapi juga dari karakter pelaksananya.
Hal itu disampaikan Rini dalam Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Komisi II DPR RI dan Keluarga Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps Alumni HMI (KAHMI) se-Provinsi Jawa Timur di Kota Surabaya, Jumat (27/2/2026).
Ia mengibaratkan Ramadan sebagai sekolah yang melatih kesabaran, kedisiplinan, dan empati.
“Ramadan diibaratkan menjadi sebuah sekolah. Hasilnya sangat bergantung pada kesungguhan dalam menjalaninya. Nilai-nilai ini yang sesungguhnya menjadi fondasi kehidupan, termasuk dalam menjalankan amanah sebagai aparatur negara,” ujar Menteri PANRB.
Menurutnya, empati sosial yang tumbuh selama Ramadan harus tercermin dalam pelayanan publik. Reformasi birokrasi tidak boleh berhenti pada pemenuhan indikator kinerja, tetapi harus benar-benar memahami kebutuhan masyarakat serta menghadirkan keadilan dan kemudahan akses layanan.
Agar reformasi birokrasi berdampak nyata, Rini menekankan pentingnya kepemimpinan yang memberi teladan, budaya kerja kolaboratif, serta akuntabilitas yang kuat. Keberhasilan reformasi, lanjutnya, sangat ditentukan oleh karakter para pelaksananya. Perubahan sistem tanpa perubahan diri hanya akan menghasilkan perbaikan yang semu.
Menteri PANRB juga menegaskan penerapan tata kelola pemerintahan berbasis meritokrasi sejalan dengan nilai amanah dan integritas dalam ajaran Islam. Ketika aparatur menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, hal tersebut menjadi bagian dari ibadah dan kontribusi nyata bagi kemaslahatan masyarakat.
Rini mengajak seluruh aparatur negara menjadikan Ramadan sebagai titik tolak transformasi, baik transformasi niat, sikap, maupun budaya kerja.
“Semoga Ramadan ini membersihkan hati kita, meluruskan niat kita, dan menguatkan komitmen kita untuk menghadirkan birokrasi yang bersih dan melayani,” tutupnya.(rmn)