INDOPOSCO.ID – Ustaz Abdul Somad (UAS) menuturkan, bulan Ramadan merupakan pendidikan terpanjang bagi umat Islam. Saat berpuasa, seseorang tidak hanya dididik untuk menahan lapar, melainkan juga mengelola emosi.
Menurutnya, proses puasa di bulan Ramadan untuk membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional juga spiritual.
“Cerdas secara intelektual, emosional, dan spritual, itulah sifat-sifat orang yang terdidik,” jelas Ustaz Abdul Somad, dalam Khotbah Jumat di masjid Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI, Jumat (27/2/2025).
Lebih jauh ia mengungkapkan, peristiwa Perang Badar yang dimenangkan oleh umat Islam pada 17 Ramadan tahun kedua Hijriah. Pada masa itu, Nabi Muhammad SAW memberikan pilihan yang berbeda dalam menangani tawanan perang.
Alih-alih meminta tebusan berupa harta seperti emas atau perak, ia justru membebaskan tawanan dengan syarat mereka harus mengajarkan baca tulis kepada anak-anak Muslim.
“Islam lebih mengedepankan pendidikan daripada harta. Karena dengan pendidikan, seseorang dapat memperoleh harta,” ujar UAS.
“Namun, harta tanpa pendidikan yang baik hanya akan habis di tangan anak dan cucunya,” imbuhnya.
Abdul Somad menekankan bahwa pendidikan dalam Islam tidak terbatas pada ruang kelas atau ilmu agama saja, seperti tauhid, tafsir, maupun akidah. Akan tetapi, Islam mendorong umatnya untuk mempelajari ilmu alam semesta yang luas.
Terkait sosok pendidik, UAS menerangkan definisi guru dalam Islam yang sangat mulia. Guru bukan sekadar teacher (orang yang mengajarkan), tetapi juga mu’allim (orang yang mengajarkan ilmu), muaddib (orang yang mengajarkan adab), dan murabbi (orang yang melanjutkan tugas kenabian).
“Guru adalah sosok yang ditiru perkataan dan perbuatannya. Guru itu ditiru mulai dari cara berjalan, bicara, minum, hingga tata kramanya,” tuturnya.
UAS mengingatkan sejarah kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan oleh para guru. Ia menyebut tokoh-tokoh seperti Panglima Besar Tentara Republik Indonesia Jenderal Sudirman dan Jenderal Besar A.H. Nasution yang sejatinya merupakan seorang guru sebelum akhirnya mengabdikan diri menjadi tentara.
Sejarah kemerdekaan Indonesia juga tidak lepas dari peran organisasi masyarakat (ormas) Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Perti, dan Al-Washliyah. Ormas-ormas ini didirikan oleh para guru yang belajar di Makkah dan lalu pulang ke Indonesia untuk mendirikan pondok pesantren, yang pada akhirnya menjadi tonggak merdekanya Indonesia, jauh sebelum proklamasi 1945.
“Puncaknya terjadi pada Proklamasi 17 Agustus 1945, yang bertepatan dengan 9 Ramadan,” katanya.
“Para pengibar bendera dan pembaca teks proklamasi adalah orang-orang yang sedang menjalankan ibadah puasa dan memiliki kedekatan spiritual yang kuat kepada Allah SWT,” tambahnya. (nas)












