INDOPOSCO.ID – PT United Tractors Tbk (Perseroan) mengumumkan laporan keuangan konsolidasian hingga triwulan keempat 2025 dengan mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp131,3 triliun, turun 2 persen dibandingkan Rp134,4 triliun pada periode yang sama tahun 2024.
Penurunan kinerja turut berdampak pada laba bersih Perseroan yang terkoreksi 24 persen menjadi Rp14,8 triliun. Pelemahan ini terutama disebabkan oleh turunnya kontribusi dari segmen Kontraktor Penambangan akibat curah hujan tinggi, serta segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi yang terdampak harga jual batu bara lebih rendah. Kinerja tersebut sebagian tertolong oleh penguatan harga emas.
Manajemen United Tractors menyampaikan tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi industri berbasis komoditas.
“Sepanjang 2025, kami menghadapi tekanan dari faktor eksternal seperti curah hujan yang tinggi dan volatilitas harga batu bara. Meski demikian, fundamental bisnis Perseroan tetap solid dan kami mampu menjaga kinerja operasional secara keseluruhan,” ujar manajemen United Tractors dalam keterangan resminya, Jumat (27/2/2026).
United Tractors (UT) menambahkan, diversifikasi portofolio, khususnya di emas dan nikel, menjadi salah satu penopang kinerja di tengah pelemahan harga batu bara.
“Kenaikan harga emas memberikan kontribusi positif terhadap kinerja Grup. Ke depan, kami akan terus memperkuat portofolio bisnis yang berkelanjutan dan resilien terhadap dinamika pasar,” tambahnya.
Kontraktor Penambangan Turun 7 Persen
Segmen Kontraktor Penambangan menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan Rp54,1 triliun atau turun 7 persen secara tahunan. Segmen ini dioperasikan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan anak usahanya PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining).
Hingga akhir 2025, PAMA Grup mencatat volume pemindahan tanah (overburden removal) sebesar 1.100 juta bcm, turun 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara volume produksi batu bara untuk klien tetap di level 148 juta ton dengan rata-rata stripping ratio 7,4x. Penurunan volume terutama dipicu curah hujan tinggi serta penyesuaian stripping ratio pada sejumlah kontrak.
United Tractors menyebutkan kondisi cuaca menjadi faktor utama yang memengaruhi produktivitas.
“Curah hujan yang lebih tinggi dari rata-rata historis berdampak pada penurunan volume overburden removal. Namun kami tetap menjaga efisiensi dan kualitas layanan kepada seluruh klien,” jelasnya.
Mesin Konstruksi Turun Tipis, Komatsu Naik 2 Persen
Segmen Mesin Konstruksi membukukan pendapatan Rp36,6 triliun, turun 2 persen dibandingkan tahun lalu. Penjualan alat berat Komatsu naik 2 persen menjadi 4.515 unit, didorong permintaan dari sektor kehutanan dan perkebunan. Pangsa pasar Komatsu tercatat sekitar 20 persen dan tetap memimpin pasar alat berat di sektor pertambangan.
Penjualan Scania meningkat dari 436 unit menjadi 466 unit, sedangkan UD Trucks turun dari 234 unit menjadi 155 unit. Pendapatan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan juga turun 3 persen menjadi Rp11,3 triliun.
Batu Bara Turun, Emas Melonjak
Segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi yang dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (Turangga Resources) mencatatkan pendapatan Rp24,2 triliun, turun 7 persen akibat melemahnya harga jual rata-rata batu bara.
Sepanjang 2025, Turangga mencatat volume penjualan batu bara 11,6 juta ton (termasuk 3,7 juta ton batu bara metalurgi), naik 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Total volume penjualan termasuk batu bara pihak ketiga mencapai 14,3 juta ton atau naik 9 persen.
Sebaliknya, segmen Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya melonjak 41 persen menjadi Rp14,0 triliun, terutama terdorong kenaikan harga emas.
Usaha tambang emas dijalankan oleh PT Agincourt Resources (PTAR) dan PT Sumbawa Jutaraya (SJR), dengan total penjualan setara emas 227 ribu ons hingga akhir 2025. PTAR mencatatkan 213 ribu ons (turun 7 persen), sementara SJR menyumbang 14 ribu ons.
Di bisnis nikel, PT Stargate Pasific Resources (SPR) membukukan penjualan 2,1 juta wet metric ton (wmt). Sementara itu, Nickel Industries Limited (NIC) yang dimiliki 20,14 persen melaporkan penjualan nickel metal sebesar 93.264 ton hingga kuartal ketiga 2025.
Buyback Rp4 Triliun dan Akuisisi Tambang Emas
Pada 14 Januari 2026, Perseroan menyelesaikan program pembelian kembali saham senilai Rp2 triliun yang dimulai sejak 31 Oktober 2025 dengan total 68,5 juta lembar saham. Tahap kedua buyback dengan nilai maksimal Rp2 triliun berlangsung pada 22 Januari hingga 15 April 2026.
“Program buyback ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang Perseroan serta komitmen kami dalam menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham,” ujar United Tractors.
Selain itu, pada 11 Februari 2026, melalui PT Danusa Tambang Nusantara dan PT Energia Prima Nusantara, Perseroan menyelesaikan akuisisi 100 persen saham PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas di Sulawesi Utara.
Komitmen ESG dan Penghargaan
Sepanjang 2025, Turangga Resources bersama anak usahanya meraih tiga penghargaan di Indonesian SDGs Awards 2025 sebagai pengakuan atas komitmen praktik bisnis berkelanjutan.
PT Energia Prima Nusantara juga meraih Penghargaan Efisiensi Energi Nasional (PEEN) 2025 pada ajang Subroto Award dari Kementerian ESDM. Sementara itu, United Tractors menerima Penghargaan Eco-Innovation dari B-Universe atas konsistensi penerapan prinsip ESG di seluruh lini operasionalnya.
“Keberlanjutan menjadi bagian integral dari strategi jangka panjang kami. Kami akan terus mengedepankan praktik ESG dalam setiap pengembangan bisnis,” tutup manajemen.
Dengan strategi ekspansi, penguatan portofolio emas dan nikel, serta langkah buyback saham, United Tractors menegaskan komitmennya menjaga fundamental bisnis di tengah dinamika harga komoditas global. (rmn)










