INDOPOSCO.ID – Penataan kelembagaan di lingkungan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) kini bergerak ke arah yang lebih strategis. Pemerintah mendorong kebijakan yang tidak hanya administratif, tetapi juga akuntabel, efektif, dan responsif terhadap dinamika pembangunan olahraga nasional yang semakin kompetitif.
Penguatan institusi dinilai menjadi fondasi penting untuk meningkatkan kualitas layanan keolahragaan sekaligus memaksimalkan pemanfaatan aset dan kawasan olahraga yang tersebar di berbagai daerah. Langkah ini menjadi bagian dari transformasi besar ekosistem olahraga nasional.
Dalam pertemuan bersama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini menegaskan bahwa penguatan kelembagaan menjadi kunci keberlanjutan prestasi Indonesia di masa depan.
“Diharapkan langkah penataan dapat memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan profesionalisme pengelolaan aset dan layanan keolahragaan,” ujar Rini di Kantor Kementerian PANRB, Selasa (24/2/2026).
Kemenpora saat ini mengemban mandat besar: meningkatkan kesejahteraan atlet, memperkuat cabang olahraga menuju olimpiade, serta membangun ekosistem pembinaan yang solid dan berjenjang dari usia dini hingga elite.
Presiden Prabowo Subianto juga telah memberikan arahan langsung mengenai pembangunan Pusat Olahraga Nasional yang terintegrasi, mencakup akademi olahraga, fasilitas asrama, sarana latihan terpadu, hingga layanan kesehatan atlet yang modern dan terstandar.
Pelaksanaan program tersebut tak hanya berfokus pada prestasi, tetapi juga memastikan atlet muda tetap memperoleh pendidikan yang layak di tengah jadwal latihan intensif yang padat.
“Arahan tersebut menjadi landasan strategis perlunya penataan kelembagaan yang lebih kuat, adaptif, dan profesional, agar pengelolaan aset dan layanan olahraga mampu mendukung pembinaan atlet secara menyeluruh,” jelas Rini.
Di sisi lain, Erick Thohir menegaskan pemerintah memusatkan pembinaan pada 21 cabang olahraga unggulan yang telah tercantum dalam revisi Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) 2026 sebagai strategi memperkuat daya saing global.
“Intinya Bapak Presiden menginginkan kami mempersiapkan atlet dari sekolah, pengembangan pendidikan, dan dana pensiunnya. Jadi kami memayungi atlet dari awal berkarier hingga pensiun,” kata Erick.
Momentum bonus demografi turut menjadi perhatian serius. Kemenpora mengambil peran preventif dalam menjaga kesehatan generasi muda agar terhindar dari persoalan kesehatan jangka panjang melalui budaya olahraga yang masif dan terstruktur.
“Tentu kaitannya dengan 21 cabor olah raga ini tidak hanya prestasi tapi memasyarakatkan olah raga dan membangun karakter bangsa,” ungkapnya.
Lebih jauh, Erick menekankan bahwa seluruh mandat tersebut harus dijalankan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas, dilengkapi indikator kinerja utama (KPI) yang terukur serta pendekatan Money Follow Program, yakni penganggaran berbasis prioritas program agar setiap rupiah benar-benar berdampak pada kinerja yang efektif dan efisien. (her)




















