INDOPOSCO.ID – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) melalui anak usahanya PT Krakatau Pipe Industries resmi memulai pengiriman pipa baja untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) pipa gas transmisi Dumai–Sei Mangkei (Dusem).
Proyek pipa sepanjang 541 km ini akan menjadi tulang punggung distribusi gas untuk kebutuhan industri di Sumatra. Dalam proyek tersebut, konsorsium Krakatau Steel memasok sekitar 83 ribu ton pipa baja jenis Electric Resistance Welding (ERW) dan Helical Submerged Arc Welding (HSAW) dengan spesifikasi API 5L X52 PSL 2.
Direktur Komersial, Pengembangan Usaha dan Portofolio Krakatau Steel, Hernowo, mengatakan produk pipa KRAS memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sekitar 60 persen. Untuk mengejar target penyelesaian proyek, perusahaan juga menggandeng mitra swasta dengan bahan baku dari Krakatau Steel Group.
Dari sisi nilai proyek, Hernowo memperkirakan kontrak pengadaan pipa berada di kisaran Rp3–4 triliun dari total investasi proyek Rp6,3 triliun. Distribusi pipa dilakukan secara paralel menggunakan kapal laut dengan kapasitas sekitar 4 ribu ton per pengiriman.
“Kami sudah pararel kirim lewat kapal. Satu kapal kira-kira 4 ribu ton, terus sampai total 83 ribu ton. Tahun ini kami selesaikan, karena target (dari Kementerian ESDM) sangat agresif, jadi kami harus menyesuaikan,” ujar Hernowo ditemui INDOPOSCO usai seremoni pengiriman perdana pipa gas transmisi Dumai–Sei Mangkei di area pabrik Krakatau Pipe di Cilegon, Banten, Kamis (19/2/2026).
Selain proyek pipa gas, Krakatau Steel juga membidik peluang dari sektor perkapalan melalui kerja sama dengan PT PAL Indonesia, yang menangani proyek kapal untuk Pertamina dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
“Pertamina mau bikin kapal, KKP juga bikin kapal, itu yang mengerjakan PT PAL. Nah, PT PAL itu bahan bakunya dari Krakatau Steel. Jadi pasti lumayan, tapi belum dihitung (nilai kontrak dan kontribusi terhadap kinerja KRAS),” kata Hernowo.
KRAS juga berkontribusi dalam program pemerintah, termasuk penanganan bencana dan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) melalui pendirian dapur MBG di berbagai lokasi. “Kami juga bantu agenda pemerintah (dalam hal ini MBG),” imbuh Hernowo.
Optimisme perusahaan diperkuat kebijakan proteksi impor baja, seperti tarif 17,5 persen untuk produk tertentu dari China. Dengan katalis tersebut, KRAS menargetkan peningkatan produksi baja hingga 4,5 juta ton pada 2026, didukung oleh beroperasinya kembali Hot Strip Mill (HSM) 1.
Ke depan, Krakatau Steel juga siap masuk ke proyek hilirisasi Danantara, mengolah pasir besi dan bijih besi menjadi baja karbon serta bijih nikel menjadi stainless steel. Dari sisi keuangan, perusahaan menargetkan perbaikan kinerja secara berkelanjutan.
“Tahun lalu bukunya InsyaAllah sudah hijau. Tahun ini biru. Terus, tidak boleh merah lagi, pesan dari Danantara begitu,” tutupnya. (her)











