INDOPOSCO.ID – Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menilai penanganan kenakalan remaja oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum optimal. Hal itu disebabkan pola penanganan masih bersifat reaktif atau baru dilakukan setelah peristiwa terjadi.
Baru-baru ini terjadi penyiraman air keras diduga dilakukan tiga pelajar kepada pelajar lain terjadi di Jalan Cempaka Raya, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, pada Jumat (7/2/2026). Tak berselang lama, tawuran dua kelompok pelajar di Jalan Mayjen Sutoyo, Makasar, Jakarta Timur, Selasa (10/2/2026).
“Memang penanganannya belum maksimal. kenapa belum maksimal? Karena selama ini, penangannya sering sebagai model ‘pemadam kebakaran’,” kata Ketua Dewan Pakar P2G Rakhmat Hidayat kepada INDOPOSCO melalui gawai di Jakarta, Sabtu (14/2/2026).
Ia menjelaskan, model penanganan tersebut berarti institusi pendidikan baru menunjukkan tindakan nyata saat masalah sudah pecah, baik itu dalam bentuk tawuran maupun perilaku menyimpang remaja lainnya.
“Model ‘pemadaman kebakaran’ itu maksudnya apa? Sekolah baru bertindak, sekolah baru melakukan penanganan kalau sudah ada kejadian,” ujar Rakhmat.
Menurutnya, langkah-langkah instan menangani masalah remaja tidak akan membuahkan hasil efektif, sebab pola tersebut akan berhenti begitu saja setelah situasi dianggap selesai.
“Model ‘pemadam kebakaran’ tidak efektif karena itu hanya bersifat temporer. Hanya bersifat instan. Jadi, kalau ada kejadian baru tindakan, setelah itu berhenti tidak ada lagi (tindakan),” kritik Rakhmat.
Oleh karena itu, perlunya langkah komprehensif di masa mendatang melalui mitigasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan secara berkelanjutan.
“Jadi pendekatannya tidak lagi pasca-kejadian, tapi pada (kejadian). Jadi itu yang disebut mitigasi. Ada sosialisasi, edukasi dan diseminasi,” imbuh dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan tidak akan menoleransi aksi kekerasa dan meminta tindakan tegas terhadap pelaku penyiraman air keras terhadap pelajar di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
“Siapa pun yang melakukan tindakan itu, itu sudah tindakan kekerasan. Saya minta untuk diambil tindakan tegas, nggak ada kompromi untuk itu,” tutur Pramono terpisah di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026). (dan)











