INDOPOSCO.ID – Komisi XII DPR RI menyoroti lemahnya sistem pengawasan nuklir di Indonesia setelah ditemukannya alat monitoring radiasi yang rusak serta masih adanya temuan zat radioaktif ilegal. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap rencana pengembangan energi nuklir nasional.
Anggota Komisi XII DPR RI Ateng Sutisna mengaku kurang yakin terhadap kesiapan Indonesia mengembangkan energi nuklir apabila fasilitas dasar pengawasan, seperti alat monitoring radiasi, masih bermasalah dan bahkan menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
“Ada alat monitoring yang rusak, kesannya dibiarkan bahkan menjadi temuan BPK. Ini mengurangi kepercayaan kami terhadap pengembangan energi nuklir ke depan,” ujar Ateng dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII dengan Kepala BAPETEN di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Politisi Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu juga menyoroti lemahnya koordinasi pengawasan, menyusul masih adanya barang berbahaya dari luar negeri yang masuk tanpa sertifikat keamanan. Ia menilai Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) seharusnya dapat memastikan barang berisiko radiasi telah memenuhi standar keselamatan sebelum masuk ke Indonesia.
“Pengawasan juga kurang optimal, terbukti masih bisa masuk barang dari luar dan ketahuan setelah terjadi radiasi. Seharusnya sebelum masuk sudah ada sertifikat aman,” tegasnya.
Ateng mengingatkan bahwa persoalan tersebut dapat menjadi hambatan serius bagi agenda pemerintah yang mendorong energi nuklir sebagai alternatif ketahanan energi nasional. “Padahal Presiden Prabowo mengharapkan nuklir jadi alternatif pertahanan energi kita,” tambahnya.
Ia pun meminta BAPETEN segera melakukan pembenahan internal, termasuk peningkatan profesionalisme dan integritas sumber daya manusia. Menurutnya, kepercayaan masyarakat menjadi faktor kunci agar energi nuklir dapat diterima sebagai solusi energi masa depan.
“Mari kita sama-sama benahi dan perbaiki untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat. Tujuannya agar pemanfaatan energi nuklir ini benar-benar diterima karena aman dan bermanfaat,” pungkas Ateng. (dil)










