INDOPOSCO.ID – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) membuka awal tahun 2026 dengan pencapaian gemilang. Anak usaha Pertamina Hulu Indonesia ini berhasil mendongkrak produksi minyak di Lapangan Handil, Kalimantan Timur, sebesar 2 ribu barel per hari (bph) melalui optimasi dua sumur High Pour Point Oil (HPPO).
Angka ini jauh melampaui target awal yang ditetapkan dalam Work Program & Budget (WP&B) 2026 sebesar 400 bph. Dengan tambahan ini, total kontribusi sumur HPPO di wilayah operasi PHM kini mencapai 3 ribu bph, termasuk tambahan dari satu sumur di Lapangan Tambora yang telah beroperasi sejak 2024.
Karakteristik sumur HPPO di Lapangan Handil tergolong unik dan menantang. Minyak yang dihasilkan memiliki titik tuang (pour point) lebih tinggi dari temperatur operasi pipa, yakni sebesar 25 derajat Celcius. Jika tidak ditangani secara khusus, minyak tersebut berisiko memadat di dalam pipa dan menghambat aliran produksi.
Senior Manager Production PHM, Robert Roy Antoni, mengatakan kunci keberhasilan ini terletak pada penerapan teknologi chemical treatment Pour Point Depressant (PPD).
“Teknologi ini mampu menurunkan titik tuang minyak hingga 21 derajat Celcius. Blok Mahakam adalah lapangan mature (tua) dengan karakteristik sumur yang kian menantang. Namun, kami berkomitmen mencari solusi agar sumur-sumur challenging yang sebelumnya belum tersentuh dapat diproduksikan secara optimal,” jelas Robert.
Keberhasilan ini menambah portofolio PHM dalam mengelola lapangan migas kompleks. Sebelumnya, PHM juga sukses mengoperasikan 17 sumur minyak beremulsi di berbagai lapangan seperti Tunu, Tambora, hingga South Mahakam, yang menyumbang tambahan kumulatif hingga 5.200 bph.
General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menyebutkan berkat berbagai inovasi tersebut, PHM memasuki tahun 2026 dengan rata-rata produksi minyak mencapai 25 ribu bph.
“Angka ini sekitar 20 persen lebih tinggi dibandingkan target WP&B yang ditetapkan Pemerintah. Kami yakin keberlanjutan bisnis ini adalah kunci mendukung transisi energi sekaligus mengejar target produksi nasional 1 juta barel minyak pada 2029,” kata Setyo dalam keterangannya, Kamis (29/1/2026).
Langkah agresif PHM dalam melakukan investasi hulu migas, baik melalui eksplorasi maupun eksploitasi, dipandang krusial untuk menjaga ketahanan energi nasional. Hal ini sejalan dengan visi Asta Cita Pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi.
“Investasi hulu migas sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan produksi. Kami akan terus berinovasi untuk menghadapi tantangan di lapangan-lapangan tua demi kedaulatan energi Indonesia,” ujar Setyo. (rmn)










