INDOPOSCO.ID – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjalin kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) sebagai upaya memperkuat hilirisasi melalui percepatan penelitian-penelitian di bidang kesehatan dan farmasi.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyebutkan, kerja sama tersebut karena pihaknya ingin berkontribusi dalam hilirisasi sejak awal, mulai dari pengembangan sains, teknologi, dan obat-obatan inovatif. Hal ini salah satu bentuk upaya pihaknya untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen, sebagai komitmennya di ulang tahun ke-25.
“Kenapa BPOM mau berkontribusi? Seperti yang saya katakan di berbagai pemberitaan, BPOM berkontribusi sangat banyak bagi produk domestik bruto (PDB). Sekitar 35-40 persen dari PDB,” kata Kepala BPOM Taruna Ikrar di Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Sejumlah strategi untuk mencapai itu, katanya, yakni berkontribusi dalam dunia teknologi dan sains melalui transfer teknologi, lewat pendekatan akademia-bisnis-pemerintahan atau (ABG).
Dia menjelaskan, ada 4 ribu universitas di seluruh penjuru Tanah Air di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Namun demikian, katanya, sejak Indonesia merdeka hingga sekarang, katanya, publikasi ilmiah di bidang kesehatan hanya sekitar 11 ribu, sementara di Malaysia ada 75 ribu dan di Singapura ada 500 ribu.
“Kita berharap tentu dengan kepemimpinan Bapak Menteri Pendidikan, Profesor Brian, bisa kita percepat penelitian-penelitian ilmu-ilmu di bidang kesehatan termasuk produk-produk farmasi kita bisa meningkat Pak,” katanya.
Dia berharap, angka publikasi ilmiah bisa menembus minimal 100 ribu dalam waktu yang singkat.
“Kemudian seterusnya kita juga memiliki banyak industri, yang industri kita jumlahnya sangat besar, 4,2 juta industri,” katanya.
Karena BPOM berfokus pada hilirisasi, pihaknya juga turut membantu mempermudah proses sertifikasi.
Dia mengatakan bahwa target pertumbuhan ekonomi 8 persen sangat ambisius, karena dengan angka seperti itu, Indonesia mampu keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah. Angka 8 persen, katanya, lebih dari pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang sebesar 1-2 persen.
Dari PBD Indonesia sebesar 1,5 triliun dolar AS, katanya, BPOM menyumbang sekitar 400 miliar dolar AS. Dia menyebutkan, partisipasi BPOM dalam mencapai pertumbuhan ekonomi itu yakni dengan menciptakan regulasi yang memastikan keamanan dan kesehatan orang Indonesia, melindungi publik dari obat dan makanan yang berbahaya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menilai langkah ini adalah kolaborasi yang strategis.
Dia menyebutkan, Kepala BPOM Taruna Ikrar memiliki pengalaman dan kapasitas yang mumpuni, dan ada sebanyak 4,2 juta pelaku industri di bawah lingkup pengawasan BPOM. Selain itu, pihaknya memiliki 126 perguruan tinggi negeri, sebanyak 300 ribu dosen yang terdaftar, dan 12 ribu profesor.
“Saya yakin ini menjadi aset bersama yang kalau kita bisa berkolaborasi, maka kami akan bisa bersama-sama dengan BPOM untuk wujudkan apa yang salah satu diharapkan oleh Bapak Presiden kita adalah kemandirian terutama di sektor obat-obatan,” kata Brian.
Dia mengatakan, kolaborasi ini dapat membangun kemandirian di bidang obat-obatan, makanan, dan memacu kreativitas serta inovasi agar Indonesia mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
“Bapak Presiden kemarin juga memberikan komitmen yang sangat tinggi menaikkan anggaran riset kita sebanyak 4 triliun, tentu salah satunya kami akan jadikan obat-obatan ini menjadi salah satu prioritas,” katanya. (ney)




















