INDOPOSCO.ID – Di tengah riuh rendah percakapan media sosial yang kian bising, batas antara informasi, opini, dan propaganda sering kali menjadi kabur. Dalam situasi itulah buku “Riah Riuh Komunikasi” hadir, menawarkan bukan sekadar bacaan, tetapi juga peta berpikir bagi publik dan kalangan akademisi untuk memahami komunikasi politik serta pembentukan opini di era digital.
Penulis sekaligus pegiat literasi, Maman Suherman, menilai buku ini layak menjadi rujukan serius karena tidak hanya memotret fenomena, tetapi juga membedahnya secara ilmiah.
“Semua buku pasti ada manfaatnya. Buku ini mengajak kita untuk memotret fenomena-fenomena komunikasi sosial, komunikasi politik hari ini, lalu mencoba mengaitkannya dengan landasan teori komunikasi,” ujar Maman kepada INDOPOSCO usai Executive Breakfast Meeting bertajuk “Riah Riuh Komunikasi” di Jakarta, Senin (26/1/2026).
Menurut pria yang akrab disapa Kang Maman itu, kekuatan utama buku ini terletak pada kemampuannya menjembatani praktik komunikasi sehari-hari dengan kerangka berpikir akademik.
“Jadi bagus buat mahasiswa, bagus buat orang yang ingin mendalami komunikasi di negeri ini, tapi juga sekaligus memantik kita untuk selalu berpikir kritis,” katanya.
Ia menegaskan, membangun narasi di ruang publik tidak cukup hanya dengan merangkai kata-kata menarik, tetapi harus disertai kemampuan mempertahankan argumen secara rasional.
“Bagus memantik kita untuk selalu berpikir menggunakan landasan-landasan berpikir yang kuat. Karena membangun narasi itu tidak sekadar membuat narasi, tapi bagaimana mempertahankan narasi itu, bagaimana bisa berargumentasi dengan baik,” tutur Kang Maman.
“Buku ini mengajarkan kita seperti itu, sehingga yang didapat itu bukan cuma soal bisingnya, tapi soal isinya. Itu poin penting yang ada di buku ini,” sambungnya.
Ia berharap, kehadiran buku ini mampu mendorong kualitas debat publik menjadi lebih substansial dan tidak lagi terjebak pada serangan personal, hoaks, maupun polarisasi ekstrem.
“Paling tidak mengajak terus masyarakat untuk bersuara. Salah satunya dengan medium buku misalnya. Nggak boleh masyarakat dibungkam untuk tidak bersuara sama sekali,” tegasnya.
Menurutnya, hilangnya daya berpikir kritis merupakan ancaman serius bagi demokrasi.
“Kalau sudah sampai kita kehilangan daya berpikir kritis, kita kehilangan critical thinking, critical analysis, itu bahaya buat negeri ini sendiri,” ungkapnya.
Melalui Riah Riuh Komunikasi, Kang Maman berharap ruang publik Indonesia tidak lagi sekadar dipenuhi kebisingan, tetapi juga keberanian berpikir, adu gagasan yang sehat, serta budaya dialog yang beradab—agar demokrasi tidak hanya ramai di permukaan, tetapi juga matang dalam substansi.
Diketahui, Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran (IKA Fikom Unpad) kembali menggelar Executive Breakfast Meeting bertajuk “Riah Riuh Komunikasi” di Jakarta, Senin (26/1/2026).
Tema ini diambil dari buku terbaru analis komunikasi politik sekaligus Ketua Umum IKA Fikom Unpad, Hendri Satrio, yang menjadi benang merah diskusi sepanjang acara. (her)




















