INDOPOSCO.ID – Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan bahwa Indonesia perlu membangun kesiapan yang matang untuk merespons perubahan global yang berlangsung kian cepat sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Ia menilai, derasnya dinamika geopolitik, ekonomi, dan teknologi dunia menuntut Indonesia tidak hanya bersikap reaktif, tetapi juga memiliki rancangan kebijakan yang terukur, fleksibel, dan mampu beradaptasi dengan berbagai skenario perubahan.
Menurut Suahasil, kecepatan perubahan global menuntut Indonesia memiliki peta jalan yang bukan hanya matang, tetapi juga lentur menghadapi kejutan.
“Peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) melalui sektor pendidikan dan kesehatan merupakan prioritas untuk menggenjot produktivitas. Langkah ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang berbasis pada inovasi (innovation-led growth),” ujar Suahasil dalam acara ADB Indonesia Development Talks sekaligus peluncuran buku bertajuk ‘Indonesia’s Country Diagnostic Studies: Achieving the Golden Indonesia Vision 2045’ di Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Ia menilai, tanpa lonjakan kualitas manusia, bonus demografi justru bisa berubah menjadi beban demografi. Karena itu, investasi pada otak dan kesehatan rakyat disebutnya sebagai fondasi yang tidak bisa ditawar.
Tak berhenti pada faktor manusia, Suahasil juga menyoroti infrastruktur sebagai tulang punggung yang mulai menunjukkan hasil nyata.
“Kita mulai merasakan manfaat nyata dari infrastruktur yang telah kita bangun dalam kurun waktu satu dekade terakhir,” ungkap Suahasil, merujuk pada jaringan jalan, pelabuhan, hingga konektivitas logistik yang kini semakin terhubung.
Selain itu, Suahasil menjelaskan adanya perkembangan baru dalam tata kelola fiskal nasional melalui penguatan konsep “dua lengan” fiskal yang dijalankan secara bersamaan.
Lengan pertama diwujudkan melalui APBN yang berperan sebagai instrumen utama negara untuk membiayai perlindungan sosial, penyelenggaraan pemerintahan, belanja kementerian dan lembaga, serta menjaga kesejahteraan masyarakat.
“Lengan kedua yakni Danantara yang menjalankan fungsi commercial arm dengan pada ekspansi kapasitas ekonomi, hilirisasi, serta proyek-proyek produktif lainnya,” terangnya.
Skema ini, menurut Suahasil, dirancang agar negara tidak hanya berperan sebagai penyangga saat krisis, tetapi juga sebagai katalis pertumbuhan jangka panjang.
Dengan seluruh modal tersebut, dari jumlah penduduk hingga percepatan digital, Suahasil mengaku menatap dua dekade ke depan dengan keyakinan yang besar.
“Kami meyakini bahwa jumlah populasi yang besar, kualitas SDM, transformasi digital, urbanisasi, serta penguatan kelas menengah akan menjadi mesin pertumbuhan yang kuat bagi Indonesia 20 tahun ke depan,” tambahnya.
Dengan strategi yang tepat dan komitmen yang konsisten, Indonesia diyakini mampu mengubah berbagai tantangan global menjadi peluang untuk mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045. (her)




















